RSS

PENDIDIKAN KEAKSARAAN KELUARGA DAN MINAT BACA

23 Feb

BAB I

KEMISKINAN DAN PEMBERANTASAN BUTA AKSARA

A. Permasalahan Ekonomi  Keluarga di Indonesia

Kemiskinan merupakan masalah sosial laten yang senantiasa hadir di tengah-tengah masyarakat, khususnya di negara-negara berkembang. Dalam konteks masyarakat Indonesia, masalah kemiskinan juga merupakan masalah sosial yang senantiasa relevan untuk dikaji secara terus menerus. Bukan saja karena masalah kemiskinan telah ada sejak lama, melainkan pula karena hingga kini belum bisa dientaskan dan bahkan kini gejalanya semakin meningkat sejalan dengan krisis multidimensional yang masih dihadapi oleh bangsa Indonesia (Alfian, 2000: 13).

Kemiskinan dalam sebuah keluarga merupakan permasalahan kemanusiaan purba, yang bersifat laten dan aktual sekaligus. Kemiskinan telah ada sejak peradaban manusia ada dan hingga kini masih menjadi masalah sentral di belahan bumi manapun.

Kemisikinan dalam keluarga merupakan faktor dominan yang mempengaruhi persoalan kemanusiaan lainnya, seperti keterbelakangan, kebodohan, ketelantaran, kematian dini. Masalah buta huruf, putus sekolah, anak jalanan, pekerja anak, perdagangan manusia (human trafficking) tidak bisa dipisahkan dari masalah kemiskinan.

Ada dua fenomena kemiskinan yang menarik diperbincangkan, yaitu (1) sisi kemiskinan sosial dan segala persoalannya, dan (2) karakteristik kemiskinan dalam keluarga. Ada benang merah yang menghubungkan persoalan kemiskinan dalam keluarga, yakni bahwa ia bukanlah energi persoalan yang terpisah. Kemiskinan bahkan bukan lagi isu kelas atau bicara tentang si kaya dan si miskin, kemiskinan menjadi sesuatu yang diciptakan, disengaja, bahkan dibangun karena kesalahan menerjemahkan demokrasi dalam kondisi transisi, dan ketidakcerdasan pengelolaan krisis yang berkepanjangan.

Hal paling menarik ketika menggambarkan kondisi kemiskinan dalam keluarga, adalah kondisi perempuan yang berbeda dengan lelaki, dan suasana perjuangan untuk melawan kemiskinan yang mereka lakukan. Hal-hal kecil yang tak terpikirkan orang mampu, akan menjadi berarti ketika keseimbangan hidup mulai terganggu. Disadari atau tidak, saat ini, agenda perempuan berada dalam posisi penting dalam isu kemiskinan.  Belajar dari pengalaman di lapangan dan melihat negara-negara lain dalam hal pendampingan seperti di India, dan negara berkembang lainnya, ternyata perempuan miskin paling punya banyak persoalan dibandingkan laki-laki.

Salah satu tujuan dari pembangunan nasional adalah pembangunan sumber daya manusia, baik laki-laki maupun perempuan (Kementerian Pemberdayaan Perempuan Republik Indonesia 2005). Indonesia telah mencanangkan dan mengimplementasikan konsep dasar gender dalam Peraturan Presiden Nomor Tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009. Sasarannya adalah mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis dengan terjaminnya keadilan gender bagi peningkatan peran perempuan, yang salah satunya tercermin dengan membaiknya angka GDI (Genderrelated Development Index) dan angka GEM (Gender Empowerment Measure).

Masalah rendahnya produktivitas perempuan dalam pengembangan ekonomi keluarga sama sekali belum disentuh secara mendetail dan berkesinambungan. Produktivitas perempuan dalam hal ini diukur berdasarkan kontribusi pekerjaan publik yang dibayar, sedangkan pekerjaan perempuan di aspek domestik tidak diperhitungkan. Peran gender di sektor domestik melibatkan peran reproduktif atau domestik yang menyangkut aktivitas manajemen sumberdaya keluarga (materi, nonmateri, waktu, pekerjaan dan keuangan), pengasuhan dan pendidikan anak serta pekerjaan dalam keluarga (Puspitawati, 2007).

Kajian mengenai nilai ekonomi keluarga yang menyangkut peran perempuan di sektor domestik, kurang mendapatkan perhatian baik oleh pihak pemerintah maupun masyarakat. Kajian di Indonesia belum banyak membahas tentang nilai ekonomi ibu keluarga.  Kajian nilai ekonomi keluarga di Indonesia diawali oleh penelitian Mangkuprawira (1985) dan Guhardja (1986) tentang “Alokasi Waktu dan Kontribusi Kerja Anggota Rumah Tangga dalam Kegiatan Ekonomi Rumah Tangga” dan “Alokasi Waktu Keluarga di Pedesaan dan Desa Kota: Kasus di Dua Desa Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat” (Puspitawati, 2009).

Kemampuan dan potensi yang memadai dari perempuan, sebagai istri dan ibu keluarga, merupakan aspek terpenting dalam menentukan keberhasilan keluarga terutama masa depan anak-anak/generasi penerus (Elizabeth 2007). Oleh karena itu potensi keprofesionalan “ibu rumah tangga” harus diangkat dalam kajian akademis dan merupakan aspek penting dalam meningkatkan kualitas kesejahteraan keluarga. Semua  anggota keluarga sudah semestinya memiliki kemampuan atau keberdayaan dalam berbagai hal, terutama yang terkait dengan  kompetensi yang mampu mendorong keluarga ke arah yang lebih sejahtera.

Berdasarkan pertimbangan dari sisi akademis, sangat penting mendorong setiap anggota keluarga untuk memiliki keberdayaan dalam bentuk penguasaan kecakapan hidup (life skill) yang sekali lagi berkaitan dengan kualitas dan keterukuran pendidikan. Mutu pendidikan saat ini bergerak dari pendekatan hasil pada proses. Unesco mengatur agar keserasian usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan melalui dukungan lingkungan yang menunjang, proses pembelajaran, dan keluaran pendidikan yang lebih diarahkan pada penciptaan generasi baru yang lebih mandiri dan peserta belajar yang kritis yang mampu untuk menetapkan dan melaksanakan pendidikan yang berkelanjutan yang diperlukan untuk setiap tahapan kehidupan mereka. Salah satu yang pokok diantaranya adalah perlunya mendorong setiap anggota keluarga untuk berkemampuan melek aksara.

B. Komitmen Internasional dan Kebijakan Pemberantasan Buta Aksara

Persoalan mendasar berkenaan dengan kemiskinan dan ketidakberdayaan masyarakat, merupakan salah satu pemicu ketidak-tersentuhan pendidikan. Deklarasi Dakkar berkenaan dengan pendidikan untuk semua (education for all), semakin menguatkan dan memacu negara-negara berkembang untuk berbuat dan berusaha menepati komitmennya dalam memberikan kesempatan kepada setiap warga masyarakat untuk mengikuti pendidikan. Hal ini dilandasi pemikiran bahwa permasalahan di bidang pendidikan, baik di Indonesia maupun di kawasan Asia Pasifik lainnya adalah jumlah angka buta aksara yang masih besar.

Sehubungan dengan itu, pertemuan Dakkar di Senegal tahun 2000 (UNESCO) dengan tema “pendidikan untuk semua”, menekankan komitmen atas pokok-pokok tersebut, yaitu sebagai berikut:

1.        Memperluas dan memperbaiki keseluruhan perawatan dan pendidikan anak dini usia, terutama bagi anak-anak yang sangat rawan dan kurang beruntung.

Pendidikan merupakan langkah awal yang harus dilakukan sebuah negara, jika ingin maju di bidang pembangunan ekonomi. Tidak ada negara yang maju perekonomiannya hanya berdasarkan kekayaan alam. Negara harus berinvestasi pada manusia karena manusia bias selalu diperbaharui (renewed).

2.        Menjamin bahwa menjelang tahun 2015 semua anak, khususnya anak perempuan, anak-anak dalam keadaan sulit dan mereka yang termasuk minoritas etnik, mempunyai akses dan menyelesaikan pendidikan dasar yang bebas dan wajib dengan kualitas baik.

3.        Menjamin bahwa kebutuhan belajar semua manusia muda dan orang dewasa terpenuhi melalui akses yang adil pada program-program belajar dan kecakapan hidup (life skills) yang sesuai.

4.        Mencapai perbaikan 50% pada tingkat keniraksaraan orang dewasa menjelang tahun 2015, terutama bagi kaum perempuan, dan akses yang adil pada pendidikan dasar dan berkelanjutan bagi semua orang dewasa.

5.        Menghapus disparitas gender dalam pendidikan dasar dan menengah menjelang tahun 2005 dan mencapai persamaan gender dalam pendidikan menjelang tahun 2015 dengan suatu focus jaminan bagi perempuan atas akses penuh dan sama pada prestasi dalam pendidikan dasar dengan kualitas yang baik.

6.        Memperbaiki semua aspek kualitas pendidikan dan menjamin keunggulannya, sehingga hasil-hasil belajar yang diakui dan terukur dapat diraih oleh semua, terutama dalam keaksaraan, angka dan kecakapan hidup (life skills) yang penting.

Upaya yang dilakukan untuk menangani persoalan pendidikan khususnya (illiteracy) atau buta aksara, adalah diselenggarakannya program pendidikan keaksaraan fungsional (KF). Program ini dianggap strategis dan harus menjadi gerakan nasional yang perlu dikampanyekan secara menyeluruh dengan beberapa alasan aktual, yaitu: (1) merupakan salah satu unsur utama yang mempengaruhi indeks pembangunan manusia, (2) masih adanya kelompok masyarakat yang buta aksara, (3) adanya kelompok masyarakat yang telah melek huruf namun menjadi buta huruf kembali, dan (4) kemelekhurufan merupakan dasar pengetahuan bagi setiap individu.

Undang-undang Sisdiknas Republik Indonesia Tahun 2003 Pasal 26 menegaskan peran pendidikan nonformal bagi pendukung pelaksanaan pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan sepanjang hayat merupakan suatu sistem baru, yang berbeda dengan sistem pendidikan yang sekarang sedang berjalan. Dalam pendidikan sepanjang hayat peran-peran baru dan fleksibilitas kelembagaan dikembangkan agar dapat menjangkau layanan pendidikan yang lebih luas. Dalam sistem pendidikan sepanjang hayat, semua aktivitas pendidikan yang terkotak-kotak dan terpisah (seperti: kejuruan dan umum, formal dan informal, sekolah dan luar sekolah, kebudayaan dan pendidikan, dll.), diupayakan untuk diintegrasikan dengan suatu pandangan yang bersifat organik bahwa semua aktivitas pendidikan dilakukan dalam kehidupan yang berguna bagi pengembangan potensi manusia secara utuh.

Dalam sistem pendidikan sepanjang hayat, kegiatan pendidikan atau belajar tidak lagi menekankan pada sekedar pemilikan (having) sejumlah stok ilmu pengetahuan yang diberikan oleh pemegang otoritas pengetahuan seperti guru di sekolah. Pendidikan lebih menekankan aktivitas belajar bagi pengembangna diri (being) baik yang dilakukan dalam bentuk formal, nonformal, atau informal dengan kurikulum yang dirancang oleh lembaga atau yang dirancang oleh dirinya sendiri (self-education atau self-directed learning). Aktivitas belajar yang dilakukan secara terorganisir oleh diri sendiri dengan tujuan bagi pengembangan diri perlu memperoleh penghargaan sebagai bagian dari kegiatan pendidikan. Apalagi saat ini berkembang ungkapan bahwa hampir seluruh aktivitas dalam kehidupan dapat dipandang sebagai bagian dari belajar sepanjang hayat.

Apa yang penting dalam sistem pendidikan sepanjang hayat adalah adanya kemauan untuk terus menerus belajar dalam diri setiap individu dan masyarakat, kemauan untuk mengembangkan diri berkelanjutan (continuing self development). Persoalannya adalah sudah siapkah individu dan masyarakat dengan budaya belajar yaitu sikap dan perilaku menyenangi dan menghargai aktivitas belajar bagi pengembangan dirinya. Apakah layanan pendidikan sekarang ini baik formal, nonformal, dan informal sudah dapat membentuk suatu nilai sikap dan perilaku yang menyenangi kegiatan belajar dalam diri individu dan masyarakat?

Memasuki babak baru inovasi pembelajaran, negeri ini menetapkan sejumlah pertimbangan mengenai diperlukannya pendekatan baru dalam pembelajaran, seperti berikut:

1.        Kekuatan intelektual dan imajinatif;

2.        Pemahaman  dan pembuatan;

3.        Keterampilan  komunikasi;

4.        Keterampilan  kerjasama;

5.        Keterampilan   pemecahan masalah;

6.        Perluasan perspektif pada disiplin keaklian, dan

7.        Pendekatan inkuiri, analitik dan kreatif (The China Paper, 2004)

Sekaitan dengan tuntutan pendidikan yang dicanangkan Kong Fu Tsu, “bukan berikan ikan tapi berikan pancing”, mengisyaratkan adanya inovasi pendidikan seperti di bawah ini:

1.        Memetakan Konsep

2.        Perubahan Konsep

3.        Pemecahan  masalah

4.        Pembelajaran  berbasis masalah

5.        Studi kasus

6.        Pemecahan isu-isu sosial

7.        Lokakarya

8.        Mengajar bantuan teknis

9.        Pembelajaran  berbasis Perpustakaan

10.    Pembelajaran  berbasis web

11.    Pemodelan  menggunakan komputer (The China Paper, 2004)

Babak baru inovasi pembelajaran di atas, dalam perjalanannya cukup sulit direalisasikan. Kesulitan tersebut diakibatkan oleh beberapa hal diantaranya: pertama kesulitan untuk merubah pola pikir praktisi mengenai kebiasaan yang dilakukan keseharian terutama dari pembelajaran transmisi menjadi pembelajaran yang inovatif dan kebiasaan mereka umumnya melakukan pembelajaran transmisi. Kedua, resistensi dari kelompok warga belajar yang telah terbiasa melakukan pembelajaran konvensional menjadi pembelajaran yang lebih canggih, karena dianggap memberatkan. Ketiga, daya dukung lingkungan yang kurang kondusif untuk melakukan pembelajaran yang inovatif. Keempat, bagi peserta belajar dibutuhkan loncatan berpikir karena yang ada di benak mereka yang dimaksud dengan belajar adalah belajar menghapal dan bukan mengaplikasikan konsep dalam kenyataan.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional tahun 2004-2009 dan Rencana Strategis Pendidikan Nasional tahun 2005-2009 serta dalam Inpres Nomor 5 Tahun 2006 ditegaskan bahwa akhir tahun 2009, angka buta huruf usia 15 tahun ke atas tersisa 5% atau 7,7 juta orang. Sementara itu, sampai akhir tahun 2008 menunjukkan bahwa penduduk buta huruf 9,76 juta orang atau setara dengan 7,51% populasi (www.diknas.depdiknas.co.id)

Ada beberapa alasan mengapa mereka buta huruf, antara lain disebabkan: (1) tidak sekolah sejak awal (karena alasan geografis dan ekonomi), (2) drop out sekolah dasar (SD Kelas 1-3), (3) keterbatasan kemampuan pemerintah pusat dan daerah dalam memberikan pelayanan kepada kelompok marginal, (4) buta huruf kembali, karena tidak diaplikasikannya hasil pendidikan keaksaraan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mencapai hal ini Direktorat Pendidikan Masyarakat melaksanakan program pemberantasan buta aksara yang sejalan dengan prakarsa keaksaraan untuk pemberdayaan.

Sesuai dengan amanat UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 26 ayat 3 dinyatakan bahwa: “Pendidikan non formal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik”.

Gerakan pemberantasan buta aksara merupakan salah satu program untuk menuntaskan penduduk yang masih buta aksara, mereka dituntut untuk bisa menulis, membaca dan menghitung dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai realisasi untuk menuntaskan penduduk yang belum melek aksara, terdapat strategi baru dalam pembelajaran pendidikan keaksaraan, yaitu pendidikan keaksaraan keluarga bagi masyarakat. Pendidikan keaksaraan keluarga yang diilhami oleh konsep family literacy, dipandang sebagai pendekatan keaksaraan yang paling mempertimbangkan aspek etnososial, karena proses pembelajaran tidak lagi didasarkan pada transaksi ekonomi, akan tetapi lebih pada rasa kemanusiaan dan kasih sayang. Beberapa pertimbangan keunggulan dari keaksaraan keluarga yaitu: saling percaya, ketulusan, kasih saying, dukungan dana, dan dukungan fasilitas.

Melalui tanggung jawab keluarga sebagai unit paling kecil, diharapkan berkembang budaya malu apabila tidak bisa baca tulis dan hitung. Sementara itu, anggota keluarga diminta untuk mengakrabi dan membantu mengajarkan kembali yang sudah diajarkan oleh tutor. Dengan cara ini bisa berlaku one teach one, sehingga anggota keluarga yang sudah melek aksara melakukan transformasi pembelajaran secara sadar dan bermakna dalam kehidupan sehari-hari. Anak maupun cucu umumnya merupakan inspirasi yang sangat mendalam untuk membiasakan proses belajar dan dapat memfasilitasi proses pembelajaran bagi orang tua atau pembantu yang belum melek aksara dengan membawa situasi pada pembelajaran yang sesungguhnya. Keluarga umumnya sensistif dalam mengurai kesulitan dalam melakukan pembelajaran.

Upaya pendampingan dalam proses pembelajaran pendidikan keaksaraan keluarga adalah anggota keluarga yang mempunyai kemampuan membaca, menulis, berhitung dan paling utama mempunyai kesabaran yang tinggi untuk mendampingi warga belajar. Dengan teknik pendampingan dalam keluarga, proses pembelajaran pendidikan keaksaraan akan lebih efektif dan efisien dalam percepatan pemberantasan buta aksara.

Pendidikan keaksaraan keluarga dalam penyeleng-garaannya semua anggota keluarga mempunyai kontribusi pada upaya meningkatkan kemampuan keterbacaan dan keberadaban. Hasil kajian lintas budaya sebagaiamana tertuang dalam beberapa referensi, memberikan bukti yang sangat kuat begitu besarnya kemelekan huruf pada prestasi anggota keluarga terutama yang masih sekolah. Sementara anggota keluarga dapat memberikan dukungan penuh pada salah seorang anggota keluarga yang memiliki kesulitan dalam keaksaraan atau masih buta huruf.

Survey yang dilakukan Departmen Pendidikan USA (1999) menunjukkan 43% dari kelompok miskin mempunyai kemampuan baca dan tulis yang rendah. Studi yang dilakukan oleh lembaga Keaksaraan USA menunjukkan peningkatan dalam kemampuan membaca secara berarti mempengaruhi peningkatan penyerapan dalam lapangan kerja, pendapatan dan kemampuan untuk meningkatkan diri. Khusus untuk wanita dewasa, peningkatan kemampuan membaca melalui peningkatan tahun belajar mempengaruhi sebanyak 7% dari pendapatan mereka.

Di dunia terdapat 1.2 miliar penduduk yang mempunyai kesulitan untuk membaca dan mereka dihadapkan kepada masalah serius dalam mengatasi masalah keseharian seperti membaca rambu-rambu, memahami label obat-obatan dan petunjuk kerja mesin, melakukan transaksi komersial dan sangat rentan menjadi sasaran penipuan (Institute of Development Studies, 2005). Kemajuan dalam kemampuan keaksaraan memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kemajuan sosial seperti halnya:

1.        Menggunakan pendekatan kehidupan yang berkelanjutan dan menyesuaikannya dengan pemanfaatan keaksaraan  untuk kehidupan keseharian.

2.        Adanya pengakuan pada keanekaragaman manfaat keaksaraan dalam kehidupan global dan penciptaan masyarakat global

3.        Adanya dorongan untuk membangun kekuatan dalam  keaksaraan dan komunikasi

4.        Kesadaran bahwa kebutuhan informasi, dan penggunaan keaksaraan terus meningkat dan mengalami perbahan yang semakin meningkat.

5.        Adanya peningkatan yang lebih baik pada perhatian pada kelompok miskin untuk berpartisipasi pada dunia pendidikan

6.        Adanya peningkatan pemikiran yang melembaga dalam mengembangkan indikator-indikator ketercapaian target keaksaraan internasional (Institute of Development Studies, 2005).

Disamping faktor kemiskinan, kesulitan untuk menumbuhkan minat baca juga sangat terkait dengan semua kesenjangan dalam keaksaraan. Kajian yang dilakukan pada negara-negara maju di Eropa menunjukan kemampuan membaca untuk Kroasia, Slovenia and Austria belum terbangun secara berkelanjutan. Salah satu penyebabnya adalah pendidik belum menerapkan langkah yang perlu dalam meningkatkan minat baca. Termasuk terobosan penggunaan media yang tepat untuk mendongkrak kemampuan membaca (Bratović, 2010)

BAB II

PENGALAMAN LAPANGAN PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN KEAKSARAAN KELUARGA

DI BEBERAPA DAERAH DI INDONESIA

Berikut ditampilkan pengalaman lapangan hasil kajian PKK di Semarang, Sumedang, Gresik dan Mataram. Semarang ditampilkan dengan karakteristik pendekatan agama dan kebanyakan peserta belajar laki-laki dewasa, kemudian Sumedang ditampilkan dengan fokus dari sisi keaksaraan usaha mandiri.  Gresik ditampilkan dengan karakteristik pembinaan yang dilakukan oleh Sanggar Kegiatan Belajar serta didasarkan pada kecakapan hidup, sedangkan Mataram ditampilkan dengan karakteristik berdasar pada jumlah peserta relatif  cukup tinggi, serta berbasis pada kegiatan menabung setiap kegiatan pembelajaran.

A. PKK Berbasis Nilai-nilai Agama, La Tahzan Semarang

Adalah Al Qur’an melalui penurunan Surah pertama mendalilkan mengenai membaca-IQRO. Dari beberapa penjelasan yang membuat nilai bacaan semakin meningkat ditentukan pula dari sisi keseringan membaca. Selanjutnya melalui dalil pula bahwa belajar diperlukan dari mulai buaian sampai ke liang lahat, belajar sampai ke negeri Cina sekalipun dan dimantapkan dengan Tuhan memberikan beberapa derajat pada orang yang berilmu dan belajar, bahkan menurut sebagiannya orang yang meninggal waktu belajar adalah mati syahid dan mungkin surga balasannya.

Kegiatan Pendidikan Keaksaraan Keluarga (PKK) di Kabupaten Semarang Provinsi Jawa Tengah, salah satunya diselenggarakan di Pusat Kegiatan Belajar Mayarakat (PKBM) La Tahzan, yang berlokasi di jalan Bangka, Dusun Ngelosari RT 02 RW 01 Desa Jombor Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang, Desa Jombor berada di darah pinggiran yang jaraknya + 5 km dari pusat Kecamatan Tuntang. PKBM ini merupakan organisasi kemasyarakatan yang mendapatkan ijin operasional dari Dinas Pendidikan Kab Semarang pada tanggal 16 Februari 2009.

Gambar 2.1.

Kantor PKBM La Tahzan Semarang

PKBM La Tahzan berdiri  diinisiasi oleh kondisi  masayarakat sekitar Desa Jombor yang relatif masih tertinggal dari desa-desa lainnya di Kabupaten Semarang. Di Desa Jombor, rata-rata mata pencaharian penduduk adalah bertani, namun tidak sedikit diantara mereka tidak mempunyai pekerjaan tetap. Berdasarkan data kependudukan, dari jumlah penduduk Desa sebanyak 3.232 orang, diketahui sekitar 10% atau 323 orang penduduk dalam kondisi buta aksara. Kondisi masyarakat yang demikian, disebabkan oleh cara pandang sebagain besar masyarakat yang kurang memperhatikan pendidikan.

Keadaan masyarakat yang sangat terbelakang dalam bidang pendidikan tersebuat, mendorong tokoh masyarakat dan pemuda untuk mendirikan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). Adalah Azizatun Nikmah, yang paling bersemangat mempelopori lahirnya PKBM di desa tersebut dengan nama La Tahzan, yang artinya Jangan Bersedih. Nama tersebut terinspirasi dari sebuah judul buku best seller yang terbit tahun 2008. Azizatun Nikmah  nampaknya ingin memberikan jawaban kepada masyarakat bahwa jangan bersedih tidak bisa baca, tulis dan berhitung, jangan bersedih tidak dapat melanjutkan sekolah, dan jangan bersedih tidak bisa berwirausaha, karena PKBM La Tahzan siap membantu mereka melalui proses pendidikan keterampilan, proses pendidikan kesetaraan, dan proses belajar usaha. Berkat kerja keras seorang Azizatun yang didukung tokoh masyarakat serta pemerintahan setempat, maka PKBM La Tahzan resmi berdiri pada tanggal 1 Januari 2008. Di atas tanah milik sendiri disamping rumah Azizatun berdiri  bangunan permanen sebagai secretariat sekaligus ruangan belajar PKBM La Tahzan berukuran 8X6 M2. Berdasarkan pengakuan pengelola, berdirinya bangunan PKBM adalah wujud impian yang sudah bertahun-tahun diharapkan. Pengelola dan warga masyarakat terus berharap dan berikhtiar menyisihkan uang agar dapat membangun ruang belajar di desanya, namun karena kecilnya dana hasil penyisihan dan mahalnya biaya pembangunan, maka mereka harus rela menunggu sampai waktu yang tidak ditentukan. Doa dan ikhtiar mereka terkabul saat PKBM La Tahzan terpilih sebagai juara pada suatu event perlombaan nasional dan mendapat hadiah dari Mendiknas berupa sertifikat, piala dan uang yang cukup besar. Saat itulah, seluruh uang hasil tabungan dan hadiah kejuaraan dipersembahkan untuk membangun ruangan PKBM Latahzan yang asri.

Dalam ruangan PKBM hasil swadaya masyarakat itulah proses pendidikan ditumbuhkembangkan, diantaranya: program Paket B, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Pendidikan Keaksaraan (KF), Kelompok Belajar Usaha (KBU), Taman Pendidikan Al- Qur’an (TPA), Majelis Taklim dan Koperasi Wanita.

Gambar 2.2.

Peserta Sedang Belajar

Program-program PKBM tersebut dirancang sesuai dengan tujuan didirikannya lembaga PKBM La Tahzan yaitu sebagai wadah masyarakat Desa Jombor dan sekitarnya dapat belajar bersama-sama mengatasi kebodohan dan keterbelakangan serta untuk meningkatkan taraf hidupnya melalui pendidkan Non Formal dan Informal.

Melalui jaringan kemitraan dengan SKB Semarang, Forum PKBM Kab. Semarang, Majelis Taklim, Persatuan Hotel dan Restauran Kab. Semarang serta Muslimat Nahdatul Ulama  Jawa Tengah, langkah dan kifrah serta citra Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat La Tahzan semakin menggema dan dijadikan rujukan bagi PKBM lainnya di Kabupaten Semarang.

1. Awal Bergulirnya Pendidikan Keaksaraan Keluarga

Program Pendidikan Keaksaraan keluarga di PKBM ini dimulai tahun 2008, dan berjalan hingga saat ini, dengan jumlah warga belajar sebanyak 70 orang. Dana belajar yang digunakan untuk kegiatan program keaksaraan keluarga diperoleh dari bantuan pemerintah sebesar 40 juta rupiah yang pencairannya langsung diterima melalui rekening Ketua PKBM La Tahzan. Tujuan diselenggarakan pendidikan keaksaraan keluarga adalah untuk memberdayakan masyarakat yang belum melek huruf dalam lingkup keluarga, melalui peran serta dan pelibatan seluruh anggota keluarga, sehingga semua anggota keluarga memiliki kemampuan membaca, menulis, berhitung, berkomunikasi secara lisan maupun tulisan dalam meningkatkan tarap hidupnya.

Sebelum diselenggarakan pendidikan keaksaran keluarga (PKK), pengelola PKBM La Tahzan telah menyelenggarakan pendidikan keaksaraan fungsional (KF) dasar. Walaupun kedua program tersebut memiliki substansi yang sama tentang keaksaraan, namun dalam prosesnya relatif berbeda. Perbedaan tersebut diantaranya, pertama, pada sisi perencanaan, pendidikan keaksaraan keluarga adalah proses pembelajaran yang tidak hanya disepakati antara tutor dan warga belajar seperti halnya pendidikan keaksaraan fungsional, akan tetapi perlu melibatkan pula pendamping keluarga. Oleh karena itu, pendidikan keaksaraan keluarga persiapannya melibatkan anggota keluarga lainnya terutama yang sudah melek huruf. Kedua, tempat belajar pendidikan keaksaraan keluarga dilakukan di pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) dan di rumah masing-masing warga belajar bersama anggota keluarga lainnya, berbeda dengan program keaksaran fungsional yang praktis lebih banyak dilakukan di PKBM. Ketiga, Sumber belajar pada program pendidikan keaksaraan fungsional berpusat pada tutor, sedangkan pendidikan keaksaraan keluarga tutor diposisikan sebagai fasilitator, anggota keluarga yang sudah melek aksara diperankan sebagai tutor keluarga sehingga kesempatan waktu untuk belajar lebih banyak. Keempat, program pendidikan keaksaraan fungsional merupakan proses belajar mengajar tentang substansi keaksaraan. Berbeda dengan dengan keaksaran keluarga yang diselenggarakan melalui pembelajaran yang dipadukan dengan belajar keterampilan.

Berdasarkan informasi dari pengelola PKBM La Tahzan, pada awalnya masyarakat kurang antusias mengikuti program pendidikan keaksaraan keluarga, karena berbagai alasan. Umumnya mereka keberatan mengikuti program keaksaraan keluaraga karena pertimbangan waktu. Selam ini mereka bekerja menggarap sawah sehingga tidak ada pilihan waktu yang dapat diluangkan untuk belajar. Selain itu, asumsi masyarakat bahwa tidak bisa membaca dan menulis serta berhitung pun, mereka masih bisa bekerja dan menanggulangi kebutuhan keluarga. Mereka yang buta aksara sebagain besar adalah orang tua yang sudah lanjut usia, sehingga rasa malu dan malas belajar menjadi kendala utama untuk mengikuti program pendidikan keaksaraan keluarga. Tantangan berat bagi tokoh masyarakat dan pengelola PKBM La Tahzan dalam menggulirkan program pendidikan keaksaraan.

Berkat kerja keras dan ketekunan pengelola program, sedikit demi sedikit masyarakat mulai ada yang melibatkan diri kegiatan pendidikan keaksaraan. Strategi yang digunakan oleh pengelola program adalah melakukan apresiasi dengan pendekatan dogma religi (Agama Islam).

Gambar 2.3.

Peserta Belajar Keagamaan

Masyarakat sekitar yang menjadi sasaran pendidikan keaksaraan keluarga, mayoritas beragama Islam, umumnya mereka patuh dengan ajaran agama, sehingga setiap informasi yang dianjurkan agama mereka lakukan dan setiap pekerjaan yang dilarang agama tabu untuk dilakukan. Karakteristik inilah potensi lokal yang dimanfaatkan pengelola program PKBM untuk melancarkan program keaksaraan keluarga. Lewat obrolan dalam keseharian, atau obrolan setelah shalat magrib berjamaah, pengelola program dan tokoh agama menyampaikan informasi dan memahamkan masyarakat tentang pentingnya belajar sepanjang hayat. Beberapa dalil dalam ayat Al Quran yang dijadikan motivasi bagi warga belajar, diantaranya: “Bahwa Alloh akan mengangkat derajat orang-orang beriman dan mereka yang berimu pengetahuan beberapa derajat”  selain itu, beberapa hadist nabi yang mewajibkan orang Islam untuk belajar mulai dari lahir sampai meninggal dunia, serta rujukan ayat al qur’an dan hadist nabi lainnya.

Gambar 2.4.

Pengelola Program PKBM sedang Membimbing Peserta

Motivasi belajar yang dianjurkan agama telah membangun kesadaran belajar, sehingga kaum pria  yang awalnya kurang peduli dengan program keaksaraan keluarga, mulai tertarik untuk melakukan proses belajar membaca terjemahan Al-Quran dan menulis hasil terjemahan. Bagi kaum akhwat (ibu-ibu) kegiatan memotivasi dilakukan lewat majelis talim, sedangkan untuk kaum ikhwan (pria) dilakukan lewat obrolan ba’da Sahat Isa. Selain itu, pengelola program juga melakukan silaturahmi kunjungan rumah, terutama bagi keluarga yang dianggap anggota keluarganya belum melek huruf. Cara-cara sebagaiman diungkapkan di atas, cukup berhasil. Rentang waktu antara ba’da Shalat Magrib sampai tibanya Shalat Isa, yang awalnya digunakan ngobrol oleh para bapak berubah menjadi nuansa belajar keaksaraan, yang substansi materinya tentang agama.

Begitu pula dengan kegiatan kaum ibu, menunjukan ketertarikannya mengikuti program keaksaraan lewat kegiatan koperasi keluarga. Mereka menyengajakan datang ke PKBM untuk belajar membaca, menulis dan berhitung. Sampai saat ini warga belajar pendidikan keaksaraan keluaraga PKBM La Tahzan  bukan hanya didominasi oleh ibu-ibu usia lanjut, tetapi juga banyak remaja putra serta bapak-bapak ahli masjid. Saat ini jumlah warga belajar keaksaraan keluarga PKBM La Tahzan berjumlah 97 orang, adalah jumlah yang cukup fantastis dan nampaknya akan terus bertambah sejalan dengan informasi yang terus bergulir.

2. Apa Motivasi Warga Belajar?

Warga belajar yang mengikuti kegiatan keaksaraan keluarga ternyata memiliki latar belakang motivasi yang berbeda-beda dan cukup rasional. Sebagian warga  belajar mengikuti kegiatan dimotivasi oleh factor keluarga. Mereka mengaku seringkali ditanya oleh cucu-cucunya tentang pekerjaan rumah yang ditugaskan guru sekolahnya. Karena ketidak-mampuannya, akhirnya mereka tidak dapat membantu menyelesaikan tugas cucunya. Itulah salah satu motovasi warga belajar tertarik mengikuti gagasan PKBM La Tahzan mengikuti belajar menulis, membaca dan berhitung. Motivasi lain yang diungkapan warga belajar adalah, karena factor ekonomi. Mereka seringkali  kesulitan dalam menanggulangi kebutuhan ekonomi keluarga. Padahal mereka sangat tertarik dengan kegiatan usaha dan keterampilan memasak. Sepertinya mereka ingin membuka usaha membuat kue-kue modern yang dapat dijualnya ke pasar. Tapi ketidakpahaman membaca resep dan formula cara membuat kue-kue yang mendorong mereka tertarik belajar membaca resep. Sebagian lagi memaparkan bahwa motivasi mereka karena ketidakmampuan orang tua mereka dulu karena keterbatasan ekonomi menyekolahkan pada jalur sekolah formal. Sehingga saat ini dalam rentang relative muda tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah dan tidak bias membaca, menulis dan berhitung. Walaupun terlambat dan tidak di sekolah formal, mereka ingin belajar lewat PKBM La Tahzan. Berbagai motivasi warga belajar tersebut merupakan kondisi gayung bersambut, antara gagasan pengelola PKBM dengan kebutuhan masyarakat.

Gambar 2.5.

Peserta PKK Memiliki Motivasi untuk Belajar

Ketelatenan pengelola dan ketekunan warga masyarakat untuk terus belajar dan membelajarkan telah merubah image (citra) kegiatan PKBM di tengah-tengah masayarakat. Respon awal yang kurang peduli dari sebagin masyarakat terhadap gagasan dan program-program  PKBM,  pada beberapa tahun terakhir ini sudah mulai berubah. Saat ini umumnya warga masyarakat secara moril mendukung bagi kelangsuangan program-program PKBM, karena asumsi mereka melalui program PKBM banyak anggota keluarga yang berubah sikap belajarnya kearah yang lebih baik sehingga meningkat ilmu pengetahuannya. Selain itu, warga masyarakat mearasa bangga bila semua anggota keluarga dilingkungannya desanya tidak termasuk dalam kelompok keluarga buta huruf.

3. Penyelenggaraan Program Keaksaran Keluarga

Tahap perencanaan diawali dengan pendataan kepada warga masyarakat melalui kerjasama dengan pengelola majelis taklim, Ketua RT dan Ketua RW setempat. Setelah mendapatkan data warga masyarakat yang belum bias baca tulis, selajutnya melakukan sosialisasi dan penjelasan kepada warga masyarakat calon program pendidikan keaksaraan beserta keluarganya. Bersamaan dengan kegiatan sosialisasi dilakukan pula pendataan anggota keluarga dari warga belajar yang melek aksara. Lewat kegiatan sosialisasi diketahui minat belajar  masyarakat tentang apa yang ingin dipelajarinya lewat pendidikan keaksaraan keluarga. Oleh karena itu, dalam perencanaan dan penyelenggara pendidikan keaksaraan keluarga di PKBM La Tahzan disusun berdasarkan kebutuhan warga belajar dengan tetap mengacu kepada standar kurikulum keaksaraan (SKK) yang disusun pemerintah. Misalnya, ibu-ibu yang membutuhkan pengetahuan agama difasilitasi melalui kegiatan ceramah kegamaan. Pembelajaran keaksaraan disesuaikan dengan tema ceramah yang disampaikan ustadz, mislanya: tema ceramah tentang cara-cara wudhu, dilanjutkan dengan belajar menulis kalimat yang isinya langkah-langkah berwudu. Apabila tema ceramah tentang shalat dilanjutkan dengan belajar membaca bacaan latin cara-cara shalat, menuliskan jumlah rakaat pada setiap waktu sahlat dan menulis huruf arab dan latin.

Kegiatan belajar di PKBM La Tahzan juga dilengkapi dengan belajar keterampilan bagi warga belajarnya. Salah satu keterampilan yang diminati warga belajar adalah membuat dan memasarkan telor asin.

Gambar 2.6.

Peserta Belajar Membuat Telor Asin

Melalui keterampilan membuat telor asin, warga belajar banyak mengenal huruf dan angka serta kalimat yang berkaitan dengan telor asin. Misalnya, warga belajar mengawali belajar dengan menulis hurup yang T E L O R, serta hurup-hurup lainnya yang melafalkan resep tentang tahap-tahap membuat telor asin. Selain keterampilan di atas, warga belajar juga mempalajari keterampilan lain seperti cara-cara membuat kue dari bahan singkong dan terigu. Melalui pembelajaran ini, Tutor selalu meminta warga belajar untuk menjelaskan bahan-bahan dan cara membuat kue, yang ditindak-lanjuti dengan menuliskannya dalam selembar kertas tentang apa yang mereka telah jelaskan.

Proses belajar antara tutor dengan warga belajar dilaksanakan di ruang PKBM dalam rentang seminggu tiga kali selama dua jam penuh. Dalam suasana kekeluargaan, dan proses belajar yang disetting secara lesehan beralaskan tikar mereka belajar. PKBM menyediakan meja pendek yang dapat dijadikan alas menulis sambil duduk. Selain itu, pengelola juga menyediakan whiteboard dan spidol untuk menulis ketika tutor menjelaskan materinya. Mengingat kegiatan pembelajaran keaksaraan keluarga merupakan proses pelibatan anggota keluaraga yang difasilitasi oleh tutor, maka kecenderungan terjadinya pemberian motivasi dan semangat belajar diantara keluaraga sangat tinggi, terutama dorongan keluarga yang sudah melek huruf terhadap anggota keluarga lainnya yang belum memiliki kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Oleh karena itu, pengelola program keaksaraan keluarga, pada awal pertemuan mengidentifikasi anggota keluarga warga belajar yang sudah melek huruf.

Maksud dari kegiatan ini adalah untuk menentukan siapa tutor keluarga yang akan membantu warga belajar menyelesaikan tugas warga belajar di rumahnya masing-masing.  Tutor Keaksaraan Keluarga di PKBM La Tahzan selama ini bertugas memberikan pembelajaran sesuai standar kompetensi keaksaraan (SKK) serta menstimulasi warga belajar untuk melakukan kegiatan belajar. Para tutor menjalankan fungsinya sebagai fasilitator dengan cara mengajari cara menulis, membaca dan berhitung bagi warga belajarnya, kemudian memberikan tugas menulis atau berhitung yang harus dikerjakan di rumah. Tutor kemudian meminta anggota keluarga dari warga belajar tersebut yang sudah melek huruf untuk mendampingi mengajari dan menyelesaikan tugas tersebut bersama-sama warga belajar  di rumahnya masing-masing. Kegiatan ini cukup efektif mengingat waktu belajar di rumah relative lebih leluasa serta suasana interkasi lebih kondisuf dibadingkan di PKBM bersama tutor.

Kegiatan evaluasi dilakukan pada akhir proses pembelajaran sesuai standar kompetensi keaksaraan (SKK) yang disusun diknas.

Gambar 2.7.

Hasil Tulisan Peserta

Pengelola PKBM menyusun sendiri instrument tes berdasarkan SKK.  Proses penilaian dilakukan secara individual, sehingga skor nilai pada setiap warga belajar dapat diketahui secara langsung melalui alat tes tersebut. Prosedur evaluasi dilakukan melalui proses pembelajaran, dimana pada tahap awal tutor membagikan  kertas kerja, berupa selembar kertas HVS ukuran kuarto (A4) kepada setiap peserta.  Langkah selanjutnya, tutor meminta warga belajar untuk menuliskan apa yang telah mereka pelajri dalam bentuk kalimat. Seringkali warga belajar kesulitan tentang apa yang harus mereka tuliskan. Untuk menanggulangi kesulitan tersebut, tutor meminta warga belajar menceritakan tentang beberapa hal yang mereka ketahui, misalnya: warga belajar menjelaskan resep/bumbu masakan tertentu dan bagaimana cara memasaknya. Setelah warga belajar menceritakan nama-nama bumbu dan cara-cara memasak sesuatu yang diketahuinya, kemudian tutor meminta warga belajar untuk menuliskan  apa yang telah mereka ceritakan.  Contoh lain, tutor meminta warga belajar menjelaskan tentang rukun iman dan rukun islam yang mereka ketahui. Setelah itu,  tutor meminta warga belajar menuliskannya, dan banyak contoh lainnya ang dilakukan oleh tutor dalam mengevaluasi kemampuan warga belajaranya.

Hasil tulisan warga belajar diminta oleh tutor untuk dikumpulkan sebagai bahan evaluasi bagi tutor dan penyelenggara pendidikakan keaksaran keluarga tentang kemajuan warga belajar dalam belajar.

4. Dampak  dan Mafaat Program Bagi Warga Belajar

Kondisi keaksaaan yang diselengarakan melalui pelibatan keluarga tersebut, memberikan dampak positif terutama kesadaran anggota keluarga untuk saling melibatkan diri dalam program keaksaraan keluarga yang dimotori PKBM La Tahzan. Manfaat pendidikan keaksaraan keluarga memiliki dampak secara sosial dan ekonomi, karena dalam proses pembelajarannya, selain meningkatkan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, juga warga belajar diarahkan pada kemampuan laian untuk berkomunikasi secara lisan dan tulisan.

Dampak dari program pendidikan keaksaran keluarga adalah tumbuhnya jiwa kemandirian warga belajar, karena dengan bekal kemampuan keaksaraan, mereka merasa percaya diri untuk menyelesaikan bebagai pekerjaan. Kemampuan membaca warga belajar mendorong mereka untuk mencoba berbuat melakukan berbagai keterampilan. Sebagai contoh, salah seorang warga belajar dengan kemampuan membaca resep tentang membuat telor asin, tertarik untuk berwirausaha membuat dan menjual telor asin, dan sukses menghasilkan uang.

Kemampuan membaca dan menulis serta berhitung warga belajar, menjadi motivasi dalam mengaktualisasikan diri warga belajar melalui penuangan gagasan-gagasan lewat tulisannya, walaupun gagasan sederhana dan dalam bentuk tulisan tangan.  Hal tersebut dibuktikan dengan terkumpulnya naskah-naskah tentang bebagai gagasan, pemikiran, termasuk resep-resep makanan yang mereka ketahui untuk diterbitkan lewat bulletin dan tabloid MEKAR  yang diterbitkan Sanggar Kegiatan belajar (SKB) Sususkan Kabupaten Semarang yang terbit tiga kali dalam satu tahun.

Gambar 2.8.

Hasil Tulisan Peserta untuk Dimuat di Koran

Dalam Koran tersebut ada halaman tertentu yang memuat tulisan-tulisan tangan warga belajar keaksaran keluarga. Karya tulisan warga belajar dimuat secara bergiliran, mereka mendapatkan imbalan. Bagi warga belajar Koran ibu merupakan media informasi yang bukan hanya sebagai media dan sumber informasi tetapi juga sebagai media menyampaikan informasi yang memberikan nilai tambah secara ekonomis.

Program pendidikan keaksaraan keluarga yang dilakukan PKBM La Tahza mengacu kepada Standar Kurikulum Keaksaraan (SKK) dasar yang pelaksanaannya dikemas sesuai dengan lingkungan social budaya masyarakat. Komponen pembelajaran pendidikan keaksaraan keluarga terdiri atas beberapa materi yaitu: (a) membaca, (b) menulis, (c) Berhitung, (d) berkomunikasi, (e) keterampilan. Sedangkan strategi pembelajaran yang dilakukan menggunakan pendekatan andragogik (pendidikan orang dewasa) dan pendekatan agama.

5. Kendala dan Inovasi Penyelenggaraan

Berdasarkan hasil observasi lapangan dan pendapat pengelola serta warga belajar, kendala utama penyelenggaraan proram pendidikan keaksaraan keluarga di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) La Tahzan adalah: pertama, ketersediaan sarana bahan bacaan. Pihak pengelola PKBM La Tahzan telah melengkapi sumber bacaan, namun jenis bukunya kurang bervariasi.  Selama ini buku-buku yang ada lebih berupa bahaan bacaan pelajaran dan sangat sedikit buku-buku bacaan pouler atau sumber bacaan tentang   keterampilan. Padahal warga belajar yang sering mampir ke PKBM adalah ibu-ibu yang sangat membutuhkan informasi tentang berbagai keterampilan hidup.

Kedua, Keterbatasan anggaran atau biaya opersional pembelajaran seperti membeli sarana dan prasarana serta gaji pelaksana. Kebutuhan sarana pembelajarn seperti karton, kertas, dan alat tulis kantor (ATK) lainnya ditanggulangi dengan biaya pribadi penyelenggara, karena kebutuhan tersebut bukan pengeluaran rutin sehingga dapat ditanggulangi penyelenggara. Kendala yang seringkali menjadi bahan pemikiran penyelenggara dan samapai saat ini belum dapat dipenuhi adalah honor tutor dan adminsitrasi lainnya. Karena keterbatasan sumber biaya tersebut, pengelola PKBM La Tahzan belum mampu merekrut tutor atau fasilitator yang disengaja dipekerjakan dengan honor tetap. Selama ini, tutor yang dilibatkan dalam proses pembelajaran di PKBM La Tahzan adalah warga masyarakat yang memiliki kesadaran, mampu dan mau bekerjasama membantu penyelenggaran pendidikan tanpa harus mendapatkan honor tetap. Tutor program pendidikan keakasaraan keluarga yang saat ini terlibat adalah keluarga diantaranya suami dan orang tua ketua PKBM La Tahzan dan dibantu beberapa guru sekolah dasar yang tempat tinggalnya berdekatan dengan lokasi PKBM La Tahzan.

Penyelenggara pendidikan keaksaraan keluarga pada PKBM La Tahzan memiliki komitmen untuk terus melanjutkan kegiatan pembelajaran, walaupun berbgai kendala yang mereka hadapai. Berbagai upaya terus dilakukan baik  aspek ekonomi yang berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan material, maupun aspek psikologis yang berkenaan dengan penguatan motivasi belajar bagi warga masyarakat, khususnya warga belajar program pendidikan keaksaraan keluarga (PKK) yang telah tercatat sebagai peserta didik, maupun penguatan kesadaran dan spirit kerja bagi tutor dan tenaga administrasi lainnya yang selam ini telah menunjukan loyalitasnya membantu PKBM La Tahzan dalam penyelenggaraan program pendidikan keakasaraan.

Untuk menjaga keberlanjutan program pendidikan keaksaraan keluarga, pihak penyelenggara melakukan berbagai inovasi, diantaranya menyelenggarakan koperasi simpan pinjam warga belajar program pendidikan keaksaraan.

Gambar 2.9.

Peserta Sedang Belajar Menghitung Uang

Menurut  Ketua PKMB La Tahzan, banyak manfaat ganda dari kegiatan koperasi simpan pinjam sesama warga. Pertama, keterlibatan warga belajar sebagai anggota koperasi menjadi pengikat keberlanjutan keikutsertaan warga belajar. Kedua, Warga belajar yang memiliki kelebihan uang dapat ditabungkan di koperasi simpan pinjam warga belajar PKBM La Tahzan, sehingga merasa ada tempat penitipan uang yang aman dan memberikan hasil. Selanjutnya bagi warga belajar yang membutuhkan uang sangat mendesak dapat terbantu dengan cara meminjam uang koperasi. Sehingga kehadiran koperasi dianggap penting dan memberikan manfaat ekonomis dan kekerabatan bagi warga belajar. Ketiga, Lewat koperasi simpan pinjam  anggota koperasi yang juga warga belajar dapat secara langsung menerapkan pengetahuan dan kemampuan membaca, menulis dan berhitung yang telah dipelajarinya melalui kegiatan transaksi keuangan.

Selama ini yang menjadi pengurus koperasi adalah warga belajar, tetapi penyimpanan buku kas dan uang dilakukan oleh penyelengra PKBM La Tahzan.  Proses  transaksi pencatatan dan penghitungan uang dilakukan murni oleh warga belajar sebagai anggota dan pengurus  koperasi. Posisi penelenggara PKBM adalah memfasilitasi, mendampingi dan membantu mengarahkan proses transaksi tersebut. Oleh karenanya, kemampuan keaksaraan warga belajar semakin mantap karena terdapat media koperasi sebagai best practice yang simultan (bersamaan) membantu melancarkan  kemampuan keaksaraan warga belajar.

Inovasi lainnya yang sedang dipersiapkan oleh penyelengara adalah pendidikan keaksaraan keluarga dengan pendekatan pertanian budidaya jamur kuping. Beberapa alasan penyelenggara PKBM untuk mendampingkan pembelajaran keaksaran dengan pertanian budidaya jamur kuping, diantaranya: pertama, posisi PKBM berada di daerah pertanian dan perkebunan, sehingga memungkinkan memprogramkan pembelajaran bagi masyarakat sekitar tentang budidaya pertanian. Selain itu, setiap warga belajar peserta didik rata-rata memiliki pekarangan rumah yang  dapat dimanfaatkan untuk menanam tanaman yang  dapat menjadi sumber pemenuhan kebutuhan dan pendapatan keluarga. Rencana yang dikembangkan melalui budidaya jamur kuping, karena suhu udara yang relatif dingin, karena lokasi Desa Jombor berada di dataran tinggi dan memiliki derajat suhu udara yang mendukung untuk budidaya dipertanian bidang pertanian budidaya jamur kuping.  Kedua, kultur masyarakat di daerah Kecamatan Tuntang khususnya warga Desa Jombor  adalah petani, sehingga kebiasaan bercocok tanam bukan hal baru, dan diperkirakan mereka akan menerima gagasan tentang penerapan pertanian budidaya jamur kuping sebagai inovasi pembelajaran keaksaraan, karena dianggap sejalan dengan adat dan kebiasaan yang selama ini mereka lakukan. Ketiga, proses pembelajaran keakasaraan melalui program pengembangan pertanian budidaya jamur kuping, lebih bersifat paktek lapangan. Sehingga proses pembelajaran tidak selamanya harus berada di ruangan dan di PKBM seperti yang selama ini dilakukan. Kondisi ini sangat efektif dan efisien, walaupun tentu pihak penyelenggara harus menyiapkan seperangkat kebutuhan tim yang difasilitasi untuk menjadi tutor di lapangan.

Gagasan tenang inovasi pendidikan keaksaaan yang digandengan dengan proses budidaya pertanian budidaya jamur kuping ini adalah hasil pemikiran penyelengara PKBM La Tahzan yang setiap saat selalu mengembangkan inovasi dalam proses pembelajaran program pendiidkan keakasaraan yang lebih efektif dan efisien.

B. PKK Berbasis Usaha Mandiri Kabupaten Sumedang Provinsi Jawa Barat

1. Potret PKBM Widya Cipta dan Program Keaksaraan Keluarga

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Widya Cipta adalah tempat pembelajaran dan tempat sumber informasi yang dibentuk dan dikelola oleh masyarakat Tanjungsari. Wadah ini berisi berbagai jenis keterampilan fungsional yang berorientasi pada pemberdayaan potensi setempat untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap masyarakat dibidang ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan kesehatan.

Gambar 2.10.

PKBM Widya Cipta

PKBM Widya Cipta terletak di Dusun Depok Rt.01 Rw.03 Desa Jatisari Kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang, letaknya strategis diantara Desa Tanjungsari dan Desa Margaluyu dan dekat Kota Kecamatan/Alun alun Tanjungsari. Wilayah garapan dan kelompok sasaran PKBM Widya Cipta mencakup beberapa wilayah desa yang belum mempunyai Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat,  diantaranya Desa Jatisari, Desa Kutamandiri, Desa Gunung Manik, Desa Cinanjung, Desa Raharja, Desa Cijambu, Desa Margaluyu, Desa Pasigaran, Desa Kadaka Jaya, Desa Gudang dan Desa Tanjungsari.

Berdasarkan wilayah jangkauan yang dijadikan sasaran PKBM Widya Cipta sebagaimaan disebut diatas, maka dapat disimpulkan bahwa hampir seluruh wilayah kecamatan Tanjungsari Kabupaten Sumedang menjadi wilayah jangkaun pendidikan PKBM Widya Cipta. Wilayah Tanjungsari sebagai garapan PKBM dilihat dari letak geografis berada pada ketinggian dari permukaan laut terendah 500 meter dan ketinggian dari permukaan laut tertinggi 700 meter, batas sebelah Utara Kecamatan Pamulihan dan Kecamatan Rancakalong, batas sebelah timur Kecamatan Pamulihan dan Kecamatan Cimanggung, batas sebelah selatan Kecamatan Cimanggung dan Kecamatan Jatinangor, sebelah barat kecamatan Sukasari dan Kecamatan Jatinangor. Mempunyai luas wilayah 34,62 Km2, terdiri dari 12 Desa dengan jumlah penduduk cukup padat yaitu 63.500 orang terdiri dari Perempuan 30.760 orang dan laki laki 32.470 orang. Jumlah Penduduk dilihat daristatus pekerjaan dari 12 Desa yang ada di Kecamatan Tanjungsari sebagian besar adalah petani, buruh tani dan buruh/karyawan, sebagian kecil adalah pedagang, PNS/TNI dan wiraswasta.

Data monografi Kecamatan Tanjungsari sebagaimana diungkapkan di atas menunjukan data positif, sehingga kalau dianalisis lebih lanjut akan diketemukan kesimpulan-kesimpulan data bagi pengembangan PKBM Widya Cipta sebagai berikut: (1) masyarakat Kecamatan Tanjungsari mempunyai penduduk yang cukup padat, sehingga perlu peningkatan kualitas hidup dalam bidang pendidikan, pendapatan, kesehatan, lingkungan, agama, seni dan budaya. (2) tentu akan banyak tokoh tokoh masyarakat dan kaum cendikiawan yang ingin berpartisipasi dalam pembangunan pendidikan masyarakat. (3) memiliki peluang untuk diselengarakannya berbagai jenis program pendidikan non formal  dan informal. (4) dapat dipastikan memiliki beberapa nara sumber ahli yang cukup berpengalaman dalam masing-masing bidang kegiatan. (5) memiliki tenaga kependidikan dan Pembina teknis yang cukup berpengalaman dalam bidang pendidikan, dan (6) Adanya dukungan masyarakat yang cukup baik atas di bangunnya PKBM Widya Cipta.

Gambar 2.11.

Peserta PKK PKBM Widaya Cipta

Atas dasar alasan-alasan tersebut diatas, PKBM Widya Cipta didirikan dengan tujuan: Pertama, untuk tempat pembelajaran dan wadah yang menyediakan informasi dan kegiatan belajar sepanjang hayat bagi setiap warga masyarakat. Kedua, untuk memperluas kesempatan warga masyarakat khususnya yang tidak mampu untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap mental yang diperlukan untuk mengembangkan diri dan bekerja mencari nafkah. Ketiga, mengembangkan berbagai jenis keterampilan fungsional yang berorientasi pada pemberdayaan, potensi setempat untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap masyarakat di bibang ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan kesehatan.

Secara khusus program pendidikan keaksaraan keluarga yang diselenggarakan PKBM Widya Cipta merupakan program penting, yang diarahkan bagi warga masyarakat usia 3-45 tahun dan diutamakan  keluarga miskin yang masih berkeaksaraan rendah bahkan buta huruf. Selain itu, program pendidikan keaksaraan keluarga juga memperhatikan potensi anggota keluarga lainnya yang memiliki anak yang sudah lancar membaca, menulis dan berhitung.

2. Persepsi Penyelenggaraan Pendidikan Keaksaraan Keluarga

Kegiatan Pendidikan Keaksaraan Keluarga di Sumedang, khususnya yang diselenggarakan oleh PKBM Widya Cipta, dilaksanakan dengan tujuan untuk menuntaskan buta huruf  dikalangan anggota keluarga. Tujuan tetrsebut cukup beralasan sebab dilihat dari tingkat pendidikan sebagian besar dari warga masyarakat di sekitar lokasi PKBM Widya Cipta adalah mereka yang membutuhkan penanggulangan pendidikan. Berdasarkan data monografi Kecamatan Tanjungsari yang tertuang dalam Profil PKBM,  diketahui tamat Sekolah Dasar sekitar 20.461 orang, tamat SLTP  9.679 orang, tamat SLTA 7.515 orang dan tamat perguruan tinggi 1.652 orang, tidak tamat SD 421 Orang dan tidak pernah sekolah 159 orang dan yang belum sekolah 3.624 orang.

Selain  data diatas, terdapat beberapa asumsi dari pihak penyelenggara yang melandasi penyelenggraan program pendidikan keaksaraan keluarga diantaranya: Pertama, keberhasilan masyarakat meningkatkan kemampuan keberaksaraan adalah modal dasar untuk peningkatan  kemampuan warga belajar sehingga dengan kemampuan tersebut, warga belajar sebgai anggota masyarakat dapat berusaha memnuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri. Kedua, warga masyarakat yang melek huruf akan memiliki peluang yang sama dengan anggota masyarakat lainnya dalam bersaing mengakses berbagai peluang sehingga dapat meningkatkan tatanan ekonomi keluarga. Ketiga, program pendidikan keaksaraan keluarga adalah program pemerintah yang digulirkan secara nasional disertai dana stimulasi untuk dipergunakan oleh warga belajar. Oleh karena itu, dipelukan keseriusan optimal daripada penyelenggra PKBM mulai tahap persiapan, pelaksanaan, evaluasi dan tindaklanjut, termasuk laporan kegiatan. Keempat, program ini diperuntukan  bagi warga masyarakat yang belum melek huruf, ol eh karena itu pengelola tidak membatasi dan tidak memilah warga belajar berdasarkan jenis kelamin. Program keaksaraan keluarga ini pada gilirannya menjadi hak semua warga masyarakat terutama yang belum melek huruf.  Kelima, warga belajar adalah anggota dari suatu keluarga, yang tentunya dalam keluarga tersebut terdiri atas banyak anggota keluarga lainya. Tentu sajadalam suatu keluarga, ada anggota yang melek huruf bahkan mengecam pendidikan cukup tinggi. Sehingga anggota keluarga dimaksud dapat bermanfaat dan menjadi sumber belajar bagi anggota keluarga yang ralatif masih kurang melek huruf (tidak bisa membaca dan berhitung). Oleh karena itu penyelenggara PKBM memiliki kayakinan bahwa melalui keterlibatan anggota keluarga yang dianggap memiliki potesi sebagai tutor atau sumber belajar dapat membantu mempercepat penuntasan buta aksra di Kabupaten Sumedang. Melalui koodinasi intensif dan pengkondisian yang baik, maka anggota keluarga menjadi partner kerja penyelenggara PKBM dalam program pendidikan keaksaraan keluarga. Keenam, setiap anggota keluarga yang telah melek huruf akan semakin cerdas dan meningkat kemampuan keaksaraannya apabila terus menerus dikondisikan untuk tetap belajar, sebaliknya kemampuan keterbacaan warga belajar akan berkurang apabila setelah atau pasca belajar tidak dikondisikan untuk terus berkelanjutan belajar. Oleh karena itu, penyelenggara PKBM memiliki asumsi bahwa penyelenggraan pendidikan keaksaraan keluarga harus ditopang oleh kegiatan nyata dalam sebuah pekerjaan bagi warga belajarnya. Memadukan program pendidikan keaksaraan keluarga dengan program keaksaraan usaha mandiri menjadi pilihan tepat ketika ada harapan kemampuan keterbacaan warga belajar harus terus berlanjut melalui proses pekerjaan berusaha atau mengerjakan suatu kegiatan ekonomi yang berkelanjtan.

Selain asumsi dasar yang diuraikan diatas, penyelenggaraan program juga dapat berjalan karena aspek religi.

Gambar 2.12.

Peserta PKK Menyimak Pembelajaran Keagamaan

Masyarakat di Kabupaten Sumedang khususnya warga belajar program keaksaraan keluarga yang mayoritas beragam Islam relatif  memliki dogma agama yang diyakini bahwa  belajar itu adalah mulai sejak dilahirkan sampai masuk ke liang lahat. Selain itu, ajaran Islam menganjurkan bahwa setiap orang memiliki kewajiban menuntut ilmu tanpa dibatasi berapa usia yang bersangkutan. Sebagian  warga belajar juga adalah anggota majelis taklim yang tentunya sering  mendapat siraman rohani dari para ustaz dan kiyai, tentang betapa pentingnya dan berharganya orang yang memiliki ilmu. Pemahaman tentang ayat al quran (QS. Al Hujurot), tentang “Allah akan mengangkat derajar orang orang yang beriman dan berilmu pengetahuan beberapa derajat” menjadi spirit tersendiri bagi warga belajar utuk ikut terlibat dalam pembejaran keaksaran keluarga.

Persepsi masyarakat terhadap program keaksaraan keluarga sangat positif, terutama berkenaan dengan tujuan program yang umumnya berpendapat bahwa keaksaran keluarga digulirkan untuk menuntaskan buta huruf dikalangan masyarakat. Program pendidikan keaksaraan keluarga dipandang memiliki kesamaaan dengan program pendidikan keaksaraan fungsional yaitu membelajarkan masyarakat agar tuntas pendidikan dasar yakni baca, tulis dan hitung. Perbedaannya, terletak pada pelibatan anggota keluarga lain yang melek huruf dalam membantu warga belajar, yang tidak ditemukan pada program pendidikan keaksaraan fungsional. Oleh karena itu, warga belajar lebih cepat paham dan tuntas belajar, mengingat tutor yang banyak karena melibatkan anggota  keluarga dan tidak harus tutor khusus dari PKBM, serta waktu belajar lebih leluasa karena pembelajaran selain dilakukan di PKBM juga di rumah masing-masing yang waktunya lebih leluasa.

3. Penyelenggaraan Program Terpadu

Secara konseptual pengelola PKBM Widya Cipta memahami bahwa arah program pendidikan keaksaraan keluarga (PKK) dengan program keaksaraan fungsional relatif berbeda, terutama dalam segi teknis pembelajaran dimana dalam pendidikan keaksaran keluarga lebih banyak melibatkan anggota keluarga dalam layanan pembelajaran, berbeda dengan keaksaraan usaha mandiri yang lebih menitikberatkan pada kemandirian berusaha warga belajar. Walaupun mereka memahami perbedaan tersebut, namun dalam teknik pelaksanaannya kedua program tersebut diselenggarakan secara terpadu dengan alasan bahwa sasaran program keaksaraan  pada kedua program tersebut sama. Alasan lain, yang dikemukakan pengelola PKBM adalah bahwa proses penyelenggaraan keaksaraan keluarga (PKK) digabung dengan program Keaksaraan Usaha Mandiri (KUM), diharapkan warga belajar akan lebih termotivasi untuk ikut dalam program keaksaraan.

Gambar 2.13.

Peserta Menyimak Materi yang Disampaikan Tutor

Pemaduan program ini diawali sejak proses identifikasi warga belajar, terutama pada keluarga miskin dan yang masih belum melek huruf, serta tidak punya pekerjaan tetap. Proses identifikasi dilakukan oleh pengelola PKBM terhadap anggota keluarga yang masih memiliki anggota keluarga inti yang buta aksara atau berkeaksaraan rendah. Berdasarkan hasil identifikasi tersebut, didapat sejumlah data warga belajar calon peserta program keaksaraan keluarga. Selanjutnya atas inisiatif pengelola PKBM, mereka diundang dan dikumpulkan untuk mendapatkan pengarahan, sekaligus menampung aspirasi warga masyarakat tentang harapan dari penyelenggraan program keaksaraan keluarga dan program keaksaraan usaha mendiri.

Berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan dan harapan warga belajar, didapat beberapa rencana kegiatan usaha yang mereka minati diantaranya:  membuka usaha bengkel, usaha menjahit dan usaha beternak kambing.

Gambar 2.14.

Peserta sedang Praktek Menjahit

Mengingat banyaknya rencana program usaha, dan dengan mempertimbangkan potensi dan lingkungan daerah Sumedang yang subur, maka disepakati usaha yang dijalankan yaitu beternak kambing. Setiap anggota keluarga sebagai warga belajar diberikan modal usaha dalam bentuk binatang ternak kambing.

Melalui dukungan program ini, kegiatan pendidikan keaksaraan mulai dilakukan oleh warga belajar dengan cara bersilaturahmi dan diskusi tukar pengalaman. Selama mereka mengurus kambing diupayakan untuk terus membaca buku dan sumber lain dalam rangka memelihara ternak secara lebih baik.

4. Deskripsi Proses Pembelajaran Keaksaraan Keluarga

Program Pendidikan Keaksaraan Keluarga yang diselenggarakan PKBM Widya Cipta diawali dengan proses identifikasi terhadap warga masyarakat sekitar yang dianggap belum melek huruf (baca, tulis, dan hitung). Selanjutnya dilakukan sosialisasi kepada calon warga belajar dengan memperhatikan harapan-harapan warga belajar serta anggota keluarga lainnya. Sosialisasi dan informasi yang diberikan oleh pengelola PKBM Widya Cipta lebih pada motivasi belajar yang diarahkan pada proses penyadaran akan pentingnya pendidikan keaksaraan keluarga karena beberapa alasan: pertama, pembelajaran memperkuat kemampuan keaksaraan warga belajar agar tidak buta aksara kembali dan menjadi warga belajar yang mandiri. Kedua, pembelajaran memperbaiki keterampilan ekonomis. Ketiga, pembelajaran memberikan akses/kemudahan warga belajar dalam memperoleh informasi. Keempat, pembelajaran yang dapat menentukan sikap mental rasional dan ilmiah warga belajar.

Proses pembelajaran keaksaraan bagi warga belajar, selain mereka lakukan melalui program usaha mandiri dalam bentuk pemeliharaan binatang ternak, berdasarkan inisiatif warga belajar beberapa diantaranya melakukan usaha membuat surabi, usaha membuat gula merah, juga dilakukan melalui proses pembelajaran keaksaraan tentang cara baca, tulis dan berhitung lewat keluarga.

Gambar 2.15.

Peserta Belajar di Lingkungan Keluarga

Melalui proses pembelajaran informal, seringkali mereka belajar tentang suatu yang tidak mereka ketahui dengan cara bertanya kepada anggota keluarga. Tidak sedikit pengetahuan diperoleh tentang cara berternak dan berhitung diperoleh lewat belajar bersama anggota keluarga. Oleh karena itu pihak pengelola PKBM yang menjadi fasilitator program keaksaraan keluarga selalu memberikan motivasi kepada anggota keluarga untuk terus memberikan bantuan dan dorongan kepada anggota keluarganya untuk belajar berdasarkan minat dan keinginan belajar pada tiap keluarga

Pada tahap awal, proses pembelajaran keaksaraan dilaksanakan di ruangan PKBM yang jadwal pelaksanaannya dikoordinasikan oleh pengelola program keaksaraan. Pendekatan pembelajaran menggunakan pembelajaran partisipatif, mengingat warga belajar mayoritas orang dewasa yang sudah lanjut usia. Proses pembelajaran lebih menekankan kepada pelibatan secara langsung warga belajar dalam menentukan jadwal, substansi belajar dan pelaksanaan evaluasi. Penghargaan terhadap prestasi belajar secara terus menerus dilakukan sejalan dengan peningkatan perhatian dan antusias warga belajar. Metoda pembalajaran yang dikembangkan oleh  tutor adalah ceramah, tanya jawab dan praktek. Kegiatan praktek berupa belajar menulis huruf latin dan berhitung angka, terutama belajar menambah, mengurangi, dan membagi. Pada sebagian warga masyarakat yang telah agak paham berhitung tingkat dasar  dilanjutkan dengan kemampuan berhitung yang agak rumit, misalnya mengkalikan dan menjawab soal-soal matematika sekolah dasar.

Proses pembelajaran selanjutnya dilakukan tidak hanya melalui pembelajaran tatap muka antara tutor/fasilitator PKBM dengan warga masyarakat di ruang PKBM Widya Cipta, tetapi kemudian dilakukan melalui pembelajaran dalam keluarga atau warga belajar lebih banyak diskusi tentang bahan belajar  dengan anggota keluarga. Umumnya mereka melakukan proses pembelajaran tentang cara membaca, menulis dan berhitung melalui pembimbingan anggota keluarganya yang sudah melek huruf. Oleh karena itu, tutor PKBM lebih memposisikan diri sebagai fasilitator yang fungsinya membantu memberikan layanan belajar dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi warga belajar.

Pendekatan pembelajaran partisipatif yang melibatkan warga belajar sebagai orang dewasa dalam menentukan rencana pembelajaran merupakan upaya strategis sehingga warga belajar merasa memiliki dan mengambil peran dalam proses pembelajaran. Pendekatan ini juga nampak dari perlakukan tutor dalam strategi belajar mengajar yang membuka kesempatan luas kepada warga belajar untuk mengemukakan pendapat harapan dan kendala yang mereka hadapi baik aspek pribadi maupun aspek penguasaan materi pembelajaran.

Gambar 2.16.

Tutor sedang Membimbing Peserta Belajar

Tutor lebih memposisikan sebagai pembimbing dan pendamping yang memberikan layanan pembelajaran bagi warga belajar. Hal tersebut terungkap dari pendapat warga belajar yang memandang tutur mampu menyusun bahan ajar berbasis tematis, selain bahasa yang digunakan dalam bahan ajar sesuai dengan kemampuan  warga belajar. Untuk memberikan suasana belajar aktif, tutor memperkenalkan cara belajar tematis  sesuai dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari sebagai kunci penggerak diskusi/dialog. Tutor bersama warga belajar berdialog tentang ide mereka sesuai dengan masalah-masalah  yang dihadapi warga belajar. Sedangkan warga belajar berlatih menggunakan kata kunci yang sudah dikenalnya. Suasana diskusi yang lebih interaktif terjadi karena: (1) tema bahan ajar yang dikembangkan sesuai dengan dengan kebutuhan warga belajar, (2) bahan ajar menggunakan kata-kata kunci yang diangkat dari kehidupan nyata masayarakat, (3) warga  belajar juga diberi kesempatan untuk aktif memberi masukan terhadap proses dan bahan ajar. Melalui pembelajaran ini tutor telah mendorong dan menggugah warga belajar untuk  belajar tentang kehidupan yang terjadi disekitar tempat tinggalnya.

Umumnya motivasi  warga belajar cenderung meningkat untuk mengikuti proses pembelajaran dikarenakan beberapa  faktor, diantaranya: pertama, kebutuhan warga masyarakat untuk dapat membaca dan menulis serta berhitung. Kedua, dorongan anggota keluarga yang lain, terutama anak-anak mereka yang relatif sudah melek huruf, karena umumnya yang belum melek huruf adalah ayah dan ibunya. Pada beberapa keluarga, anak tertua atau kedua yang umurnya rata-rata sudah di atas 60 tahun  juga belum melek huruf. Ketiga, ajaran agama yang mereka (warga belajar) dapatkan lewat informasi yang disampaikan para ustadz dan kiayi pada forum majelis taklim, tentang  pentingnya manusia belajar dan menuntut ilmu. Keempat, warga belajar memandang pendidikan keaksaraan keluarga lebih mudah dilakukan karena melibatkan anggota keluarga serta waktu dan tempatnya tidak setiap hari harus di ruang PKBM, berbeda dengan program pendidikan keaksaraan fungsional yang tidak banyak melibatkan anggota keluarga. Kelima, selain belajar juga mereka dapat melakukan kegiatan usaha, karena melalui program pendidikan keaksaraan keluarga mereka diberi modal usaha juga dilibatkan dalam pelatihan-pelatihan keterampilan produktif, seperti membuat surabi, gula merah, dll yang dapat dijual dan menghasilkan uang. Ketujuh, adanya peran aparat pemerintah setempat, terutama instansi pemerintah yang berkaitan langsung dengan penyelengaran program pendiidkan keaksaraan. Perhatian dari pimpinan RT dan RW serta beberapa Kepala Desa bertetangga yang warganya terlibat langsung  sebagai warga belajar di PKBM Widya Cipta turut mempengaruhi keseriusan warga masyarakat untuk  melibatkan diri belajar di PKBM. Berdasarkan penuturan pengelola PKBM, pembinaan seringkali dilakukan oleh penilik Pendidikan Luar Sekolah setempat. Informasi yang berkenaan dengan upaya-upaya pengembangan PKBM termasuk berbagai program bantuan selalu dikomunikasikan secara intensif oleh penilik setempat. Oleh karena itu, sirkulasi komunikasi antara penyelengara PKBM Widya Cipta, warga belajar, warga masyarakat serta aparat pemerintah setempat sangat kondusif dan berpengaruh besar terhadap atmosfir proses pembelajaran dan pengelolaan program pendidikan keaksaraan keluarga.

Satu dorongan lain yang mungkin tidak akan dijumpai pada kelompok belajar lain yaitu motivasi untuk menulis atikel menggunakan tulisan tangan untuk diterbitkan pada tabloid yang diterbitkan  SKB Semarang dengan imbalan yang jauh lebih menggairahkan, dan tidak lagi harus bergelut dengan keringat dan kecapaian sedang jumlah rupiah yang diterima dan sudah barang tentu prestise jauh lebih merangsang.

5. Kendala Pelaksanaan

Disiplin mengggunakan waktu merupakan kendala tersendiri. Permasalahan sering datang dari warga belajar maupun dari tutor pendamping. Selalu saja ada perintang walaupun tidak sampai fatal, akan tetapi hal ini dapat mengganggu proses dan rutinitas pembelajaran.

Kendala lain adalah keterbatasan bahan bacaan yang berhubungan dengan  program keaksaraan keluarga. Terjadinya pemilahan yang terlalu tajam antara fasilitas umum dengan  peruntukan bagi PKBM sering menggiring pada kurangnya efisien dalam penggunaan sarana pembelajaran. Pada satu sisi sarana pembelajaran tidak dipergunakan secara efisien, sedangkan penggunaan pada sekolah formal hanya terbatas pada jam tertentu, bahkan beberapa buku tidak dipergunakan, buku-buku dibiarkan tidak dimanfaatkan untuk dibaca. Hal yang sama juga terjadi pada beberapa TBM yang ada di sekitar PKBM, hampir sulit melihat pemandangan penggunaan buku seperti layaknya bagi pembelajar yang seharusnya lebih banyak mamanfaatkan waktu belajar dengan membaca buku.

Secara umum rintangan belajar datang dari sistem. Baik pihak Penyelenggara yang tidak menyadari sepenuhnya mengenai pembelajaran yang tidak bisa ditawar kecuali harus dilakukan secara rutin, sementara dalam pelaksanaan baik dari warga belajar maupun dari tutor selalu ada alasan untuk menunda waktu walaupun kegiatan tetap berjalan. Dengan demikian mungkin saja keterampilan membaca terus dipelajari akan tetapi taat aturan untuk belajar secara berkelanjutan belum merupakan paket yang menyatu dengan belajar itu sendiri.

6. Motivasi Warga Belajar dan Inovasi Pembelajaran

Secara umum warga belajar melibatkan diri dalam kegiatan program pendidikan keaksaraan dengan motivasi tertentu. Berdasarkan informasi yang disampaikan penyelenggara PKBM, terdapat beberapa motivasi warga belajar diantaranya: pertama, faktor internal warga belajar yang memiliki keinginan untuk bisa membaca, menulis dan berhitung. Kedua, faktor eksternal, yaitu adanya motivasi dan dorongan serta fasilitasi dari pemerintah setempat. Motivasi lain yang menyebabkan warga belajar terus melibatkan diri dalam program keksaraan keluarga adalah inovasi pembentukan kelompok pra-koperasi. Atas inisiatif penyelenggara PKBM, warga belajar dimotivasi untuk membentuk kelompok-kolompok anggota pra-koperasi, sehingga atas motivasi tersebut hampir semua  warga belajar keaksaraan fungsional masuk dalam kelompok pra-koperasi. Hal tersebut mudah dipahami, sebab warga belajar distimulasi dengan model belajar, sehingga mereka dapat menyisihkan sebagian dari pendapatan. Pembentukan koperasi (pra koperasi) simpan pinjam merupakan inovasi yang memberikan dorongan kuat bagi warga belajar untuk melibatkan dirinya dalam pembelajaran keaksaraan keluarga, karena selain memberikan nilai tambah pengetahuan dan keterampilan, juga secara ekonomi membantu dirinya dan keluarganya dalam menanggulangi kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh karena itu,  kegiatan koperasi warga dipandang sebagai kegiatan ekonomi asli masyarakat sekaligus modal awal bagi pengembangan kelembagaan ekonomi masyarakat.

7. Dampak Program

Kebelangsungan proses belajar bagi warga belajar peserta program keaksaraan keluarga sampai saat ini terus berlanjut, walaupun program keaksaaan keluarga telah berakhir. Umumnya warga belajar membiasakan diri terus belajar pada waktu-waktu luang setelah menyelesaikan pekerjaan bertani atau berjualan. Interaksi dan komunikasi antara warga belajar berjalan seperti mereka masih diskusi bersama mengelola dana bantuan dalam bentuk binatang ternak.

Gambar 2.17.

Peserta Belajar Kerajinan Tangan

Pada beberapa kasus keluarga, saat ini setelah bisa membaca dan berhitung, selanjutnya menjalankan usaha jualan surabi tradisional buatan sendiri. Melalui proses jualan itu pun kegiatan belajar terus berlanjut, mereka terbiasa menghitung jumlah surabi yang dibuat, jumlah surabi yang laku dan jumlah surabi yang tidak terjual. Lebih jauhnya lagi mereka sudah mulai menghitung jumlah modal yang dikeluarkan, jumlah keuntungan yang didapatkan. Awalnya mereka sangat kesulitan untuk mengerti alur penggunaan keuangan dan cara menghitung uang, namun karena kegiatan tersebut dilakukan melalui praktek berusaha/berjualan akhirnya mereka terbiasa dengan hitungan-hitungan pratis walaupun sederhana. Dampak lain yang sangat utama adalah munculnya rasa percaya diri warga belajar setelah bias membaca, menulis dan berhitung melalui kegiatan usaha mandiri.

Kasus lain yang dijadikan temuan dari program keaksaraan adalah munculnya jiwa wirausaha diantara warga belajar. Misalnya, warga belajar yang sehari-harinya sebagai kuli bangunan, kemudian melakukan usaha pembuatan dan pemasaran bilik, karena mereka bertempat tinggal di daerah yang banyak tumbuh pohon bambu. Kemampuan membaca dan berhitung dan berkomunikasi telah mendorong mereka untuk mengorganisir kegiatan usaha. Jiwa kepemimpinan mulai nampak diantara mereka, melalui kepercayaan diri dan keberanian untuk mengorganisir rekan-rekannya dalam kegiatan usaha.

Sebagai kesimpulan dari uraian diatas, maka pendidikan keaksaraan keluarga di PKBM Widya Cipta merupakan program pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan, terutama dalam meningkatkan sinergi antara pendidikan formal dan non formal dan mempromosikan pendidikan berkelanjutan untuk meningkatkan peluang dan tindak lanjut penggunaan keterampilan keaksaraan dalam rangka belajar sepanjang hayat. Secara individual program pendidikan keaksaran keluarga telah mampu meningkatkan keaksaraan keluarga melalui pembelajaran antar generasi dan pendekatan berbasis masyarakat. Selian itu, telah mensinergikan pembelajaran yang berkelanjutan dalam pemberdayaan ekonomi yang memadukan keterampilan dengan pembelajaran bagi warga masyarakat.

C. PKK Berbasis Kecakapan Hidup Kabupaten Gresik Provinsi  Jawa Timur

1. Potret SKB Gresik dalam Penyelengaraan Program Keaksaraan Keluarga

Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Gresik beralamat di Jl. Jutrit Cerme Kidul Kecamatan Cerme Kabupaten Gresik. SKB Gresik  pada awal berdirinya tahun 1975 bernama Pusat Latihan Pendidikan Masyarakat (PLPM). Lembaga ini didirikan berdasarkan Surat Keputusan Mendikbud Republik Indonesia nomor 079/0/1975, dengan tugas pokok melaksanakan kursus-kursus dan pelatihan pendidikan kejuruan bagi masyarakat. Tahun 1978 berdasarkan Surat Keputusan Mendikbud RI nomor 0206/0/1978, PLPM dirubah menjadi SKB (Sanggar Kegiatan Belajar) Cerme, dengan tugas pokok melaksanakan program: Kegiatan belajar Pendidikan Luar Sekolah, Pemuda, dan Olahraga serta menyediakan sarana belajar untuk kelompok belajar dan instruktur.

Pada tahun 1997 berdasarkan Surat Keputusan Mendikbud RI Nomor 023/0/1997, SKB Cerme mengalami perubahan nama menjadi Sanggar Kegatan Belajar (SKB) Gresik, dengan tugas pokok pembuatan percontohan program, melaksanakan pendidikan dan pelatihan, pengendalian mutu program, serta pelayanan informasi dibidang Pendidikan Luar Sekolah (PLS), Pemuda, dan Olahraga.

Pendidikan Keaksaraan Keluarga di Propinsi Jawa Timur berlangsung sejak tahun 2006, yang pertama kali diselengarakan di  Sanggar Kegiatan Belajar (SKB)  Gresik sebagai pelopor dan pelaksana program. Sesuai dengan acuan, bahwa program rintisan tahun tersebut pelaksanaan dilakukan pada 10 orang warga belajar yang secara potensial memiliki sukwan pendamping dari lingkungan keluarga yang dipertimbangkan memiliki keperdulian dan kemampuan serta kemauan memposisikan diri sebagai fasilitator pendidikan keaksaraan keluarga.

Gambar 2.18.

Pelibatan Anggota Keluarga sebagai Tutor/Fasilitator

dalam Pendidikan Keaksaraan Keluarga

Berdasarkan data yang berhasil diungkap, usia peserta berkisar diantara usia 35-40 tahun. Dari seluruh peserta belajar yang direkrut  tidak ada yang buta aksara murni. Mereka umumnya berasal dari dropout sekolah dasar.   Berdasarkan data yang berhasil dijaring melalui wawancara mendalam, sebanyak sembilan orang peserta pendidikan keaksaraan keluarga adalah dropout sekolah dasar yang saat itu mereka dropout dari kelas dua dan kelas tiga, selanjutnya satu orang dari dropout kelas enam. Oleh karena itu, apabila diamati dari kemampuan membaca warga belajarnya, mereka telah dapat membaca kalimat pendek, akan tetapi untuk kalimat panjang umumnya tidak dapat menangkap isi atau makna dari bacaan. Huruf yang paling dikuasai dari abjad latin umumnya yang dipergunakan pada pemakaian keseharian.

Seperti umumnya kondisi program pendidikan keaksaraan keluarga, proses pembelajaran yang dilakukan warga belajar di SKB Gresik adalah penguatan pendidikan keaksaraan keluarga yang lebih banyak dibelajarkan oleh tutor pendamping dari dalam keluarga, terutama mereka yang telah menyelesaikan pendidikan dasar dan menengah kepada kelompok tua, terutama  orang tua maupun saudara yang dijadikan peserta belajar.

Gambar 2.19.

Peserta PKK Menyimak Penjelasan Tutor

Posisi dan kontribusi kaum muda yang sudah melek huruf dalam kenyataan telah berhasil dalam membelajarkan kaum tua dalam meningkatkan kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Sedangkan pengaruh pada anggota keluarga terutama yang masih muda belum terlihat, sebab motivasi belajarnya sudah berorientasi sekolah pada jalur pendidikan formal. Harapan kaum muda tersebut, belum sepenuhya dapat dipenuhi, dikarenakan  tingkat ekonomi mereka umumnya masih sangat sederhana.

Proses penyelenggaraan kegiatan Pendidikan Keaksaraan Keluarga, selama ini diselenggarakan secara sepihak dari Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Gresik pada kelompok dan peserta belajar. Artinya, program pendidikan lebih merupakan program topdown yang secara fungsional diprogramkan dan dipersiapkan oleh SKB Kabupaen Gresik, sementara warga masayarakat sebagai subjek pembelajaran, seperti umumnya warga belajar dan nampaknya belum menyadari akan  makna dan manfaat lebih lanjut dari program pendidikan keaksaraan.

Pada aspek kemitraan penyelenggraan program pendidikan keaksaraan keluarga di Kabupaten Gresik, masih bersifat linier berjalan secara wajar sebagaimana diatur dalam acuan yang berlaku belum merekrut rekanan yang ada dari luar SKB dan keluarga. Penyelenggraan program dikelola oleh pemerintah dalam hal ini SKB Kabupaten Gresik, belum dilakukan dengan cara menggandeng mitra kerjasama atau melibatkan pihak lain misalnya pemangku kepentingan (stakeholder) terkait dengan penuntasan buta aksara, perguruan tinggi, pihak swasta atau institusi penyandang dana lainnya.

2. Stimulasi untuk menjamin Keberlangsungan Program

Ketertarikan dan motivasi warga belajar untuk mengikuti progam pendidikan keaksaraan sangat ditentukan oleh prakarsa dari pengelola. Tiap daerah tentu memiliki upaya yang sangat bervariasi dalam memicu warga belajarnya agar  mau terlibat dalam proses pembelajaran. Kasus di Sanggar Kegiatan Belajar  Kabupaten Gresik, pengelola memotivasi warga belajar melalui pemberian kaca mata belajar bagi warga belajar yang membutuhkanya. Tujuan pemberian kaca mata ini adalah untuk mempermudah proses pembelajaran, cara memperoleh bantuan kaca mata baca melalui proses pengukuran langsung sesuai dengan kemampuan membaca tiap peserta belajar. Asumsi pemberian kaca mata ini adalah, selain sangat membantu warga belajar yang bermasalah dengan penglihatannya, juga sebagai stimulasi yang senapas dengan program yaitu meningkatkan kemampuan keberaksaran (membaca, menulis dan berhitung). Kaca mata yang diberikan dan dipersiapkan untuk warga belajar yang relatif membutuhkannya sesuai dengan usia warga belajar. Sebagai tindak lanjut program stimulasi diarahkan pada peningkatan kemampuan kecakapan hidup bagi warga belajar pendidikan keaksaraan keluarga dibawah binaan Sanggar Kegiatan Belajar Kabupaten Gresik.

Stimulasi lain dalam proses pendidikan keaksaraan adalah melalui pemberian modal belajar yang dikemas melalui program kecakapan hidup dalam bentuk peningkatan kemampuan menjahit, dengan mengkhususkan pada pembuatan kesed. Kesed yang diproduksi warga belajar terdiri dari dua model yaitu model sederhana  dan model yang lebih bagus, dengan nilai jual Rp 1.500,- dan Rp 2.500,-. Tiap warga belajar dapat menghasilkan 10 buah setiap harinya yang dijaul sendiri kepada pembeli maupun pada bakul. Dari sisi pengembangan kemampuan dan kreativitas selama empat tahun terakhir tidak terjadi perubahan yang berarti, belum terdapat perluasan dari kesed menjadi tutup kasur (bathcover) maupun jenis lainnya.

Walau demikian dilihat dari sisi pembelajaran, warga belajar yang dibina melalui pembuatan kesed relatif lebih mandiri serta mampu melakukan transaksi dengan memanfaat kemampuan dirinya dalam membaca, menulis dan menghitung dalam kegiatan jual beli dengan pelanggan.

Gambar 2.20.

Kesed Merupakan Hasil Karya Peserta PKK

3. Proses Penyelenggaran Program Keaksaraan

Pengelola pendidikan keaksaraan keluarga yang selenggarakan Sangar kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Gresik dipadukan dengan pendidikan keaksaraan usaha mandiri.

Gambar 2.21.

Substansi Pembelajaran Berbasis Kecakapan Hidup

Implementasi kegiatan dilakukan melalui tahap persiapan, tahap pelaksanan, dan tahap evaluasi. Pada tahap persiapan pembelajaran yang dilakukan oleh penyelenggara diawali dengan proses sosialisasi dan publikasi kepada warga masyarakat. Tentu sasaran warga masyarakat program kekasaraan keluarga ini adalah mereka yang merasa dirinya belum memiliki kemampuan membaca, menulis dan berhitung secara memadai. Melalui proses sosialisasi ini, pengelola bekerjasama dengan berapa tokoh masyarakat juga melakukan identifikasi tentang anggota keluarga calon/sasaran pendidikan kekasaraan yang dianggap telah melek huruf. Hal ini maksudkan untuk memudahkan koordinasi pelibatan anggota keluarga dalam proses pembelajaran.

Proses pelaksanaan pembelajaran program pendidikan keaksaraan keluarga dan program pendidikan keaksaraan usaha mandiri yang dilakukan oleh tutor dan warga belajar dalam suasana menyenangkan dan saling membutuhkan. Umumnya yang bertindak sebagai tutor adalah sukarelawan yang ditugaskan oleh pimpinan SKB Kabupaten Gresik. Proses pembelajaran selanjutnya pada masing-masing keluarga difasilitasi oleh anggota keluarga yang dianggap mampu dan mau membantu keluarganya. Media belajar yang digunakan fasilitator/tutor dari SKB Kabupaten Gresik adalah menggunakan lembar paparan/leaflet sebagai sarana pembelajaran. Dengan menggunakan leaflet yang berukuran 50 x 70 cm, warga belajar menuangkan goresan tangannya membentuk huruf-huruf yang diinstruksikan tutor. Hasil tulisan warga belajar dikumpulkan kepada petugas SKB Kabupaten Gresik untuk dijadikan dokumen penyelenggaraan dan menilai kemajuan belajar. Selain leaflet, terdapat pula media pembelajaran lain yang tidak diproduksi baik oleh SKB Kabupaten Gresik.

Tutor yang membantu proses pembelajaran hanya membatasi pada kemampuan dasar dan tidak mengembangkan kemampuan membaca pada kemampuan menulis artikel pendek, kemampuan untuk menemukan cara baru dan mengkomunikasikan pada pihak lain. Warga belajar hanya menggunakan sumber yang diberikan oleh SKB dan belum terdapat usaha untuk memanfaatkan sumber yang berasal dari sekolah tempat keluarga belajar maupun dari sumber lain. Ketiga, tahap evaluasi dialukan oleh pengelola program pendidikan keaksaraan keluarga Sanggar kegiatan Belajar (SKB) Kabupaten Gresik bersama dengan warga belajar. Karena proses pembelajaran kekasaraan ini menggunakan pendekatan andragogik, maka waga belajar secara aktif dilibatkan untuk mengevaluasi tingkat kemajuan kemampaun dirinya saaat setelah mengikuti proses belajar.

Gambar 2.22.

Pembimbingan dari Tutor dalam Penyelenggaraan PKK

Evaluasi terhadap hasil belajar bagi warga belajar dalam pemanfaatan dana belajar untuk kegiatan peningkatan keterampilann hidup (life skills) melalui program keaksaraan usaha mandiri, belum menunjukan hasil yang menggembirakan. Berdasarkan data yang ada pada pengelola program di SKB Kabupaten Gresik, ternyata dari 10 orang warga belajar, hanya terdapat satu orang yang mengembangkan kemampuan berusahanya dalam menerima jahitan yang diperuntukan untuk umum. Ketidakberhasilan warga belajar dalam menindaklanjuti program belajar berusaha disebabkan oleh banyak faktor dintaranya tingkat ketekunan warga belajar dan fasilitasi pengembangan jaringan pemasaran, selain rendahnya motivasi dari pihak pengelola program.

4. Refleksi Penyelenggaraan Keaksaraan

Proses dan hasil pendidikan keaksaraan keluarga yang diselenggarakan SKB Kabupaten Gresik, belum menunjukan hasil yang menggembirakan sesuai harapan. Dukungan kemampuan keaksaraan pada perubahan sosial ekonomi  masih kurang berarti. Begitu pula dukungan pada peningkatan jejaring, otoritas dalam penyelenggaraan serta peningkatan kemampuan membaca dengan menulis, mengemukakan pendapat dan penciptaan kreativitas baru dalam kehidupan pedesaan belum terlihat. Keterlibatan kaum lelaki pada kegiatan keaksaraan keluarga juga masih sangat terbatas, sehingga patut diduga adanya perubahan dalam lingkungan sosial ekonomi juga masih terkendala oleh faktor gender.

Penularan kemampuan membaca masih sangat terbatas pada lingkungan keluarga kecil, sedangkan getok tular pada keluarga besar maupun komunitas mengenai kemampuan keaksraan belum terlihat. Kelembagaan seperti halnya kelompok belajar masih berkutat pada kemampuan yang sangat sederhana, berupa pembelajaran transmisi dalam kemampuan membaca, bukan kemampuan mambaca pada kegiatan penciptaan inovasi yang berbasis pada keaksaraan.

D. PKK Berbasis Program Menabung Kabupaten Mataram Provinsi Nusa Tenggra Barat

1. Sekilas tentang Penyelenggara dan Program Keaksaraan Keluarga

Kegiatan PKK yang dilaksanakan oleh salah satu lembaga PKBM Taman Siswa yang dipimpin oleh seorang pengelola bernama Drs. Zainal Arifin,M.Pd. beralamat di Jl Raya Kediri Km 2 Dusun Datar Desa Bengkel Kec.Labuapi Kabupaten Lombok Barat Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Kegiatan PKK di PKBM ini berjalan cukup baik karena memiliki pengelola dengan kualifikasi akademik memadai serta memperoleh dukungan dari keluarga dimana beberapa istri peserta belajar pun terlibat secara penuh untuk kegiatan tersebut.

Asumsi dasar pentingnya program keaksaraan Keluarga diselenggarakan di Mataram adalah didasari pemikiran bahwa tingkat keaksaraan penduduk merupakan indikator penting bagi ukuran kinerja pendidikan keaksaraan yang selanjutnya digunakan dalam menentukan nilai indeks pembangunan manusia. Keberhasilan pembangunan sektor pendidikan keaksaraan orang dewasa merupakan salah satu faktor penting dan sangat esensial dalam pembangunan manusia seutuhnya. Jika masih terdapat warga masyarakat yang buta aksara akan menjadi faktor penghambat bagi pembangunan pada sektor lainnya.

Program Pendidikan Keaksaraan Keluarga di Lombok Barat yang dikelola oleh PKBM Taman Siwa melibatkan warga masyarakat yang cukup banyak. Berdasarkan data yang ada kegiatan pendidikan keaksraan ini diikuti oleh 30 (tiga puluh) keluarga, yang masing-masing keluarga tersebut terdiri atas tiga orang anggota keluarga. Dengan demikian jumlah peserta pendidikan keaksaraan  yang diselenggarakan PKBM Taman Siswa berjumlah 90 orang. Dari data tersebut, ternyata sebagian besar posisi ayah yang rata-rata rentang usianya antara 45-55 tahun sebagai kepala keluarga dan ibu sebagai istri  yang usianya tidak jauh berbeda dengan suaminya hampir semuanya menjadi peserta atau warga belajar. Artinya, suami dan istri pada masyarakat Desa Bengkel umumnya buta aksara, sehingga memerlukan perhatian lebih serus dari pemerintah setempat. Usia warga belajar cukup bervariatif rentang 15-55 tahun. Pekerjaan masyarakat warga belajar pendidikan keaksaraan tersebut hampir setengahnya atau 46 orang bekerja sebagai buruh, disusul oleh pekerjaan berdagang, dan sebagain kecil ngojeg dan sopir. Selain itu terdapat juga warga belajar di PKBM Taman Siswa tersebut belum memiliki pekerjaan  tetap.

Keterlibatan ayah atau suami dalam pendidikan keaksaraan memberikan dampak positif diantaranya, pertama, perbandingan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan yang mengikuti pembelajaran pada PKK relaif seimbang. Berdasarkan data, ternyata jenis kelamin laki-laki 50 orang sisanya 40 orang lagi wanita. Kedua, kesinambungan dan dinamika proses pembelajaran akan lebih baiak, sebab posisi ayah sebagai kepala keluarga akan menjadi motor penggerak keberlanjutan program.

2. Proses Penyelenggaraan

Awal bergulirnya kegiatan pendidikan keaksaraan adalah program yang distimulasi oleh anggaran pemerintah.

Gambar 2.23.

Identifikasi Kebutuhan Belajar

Berdasarkan pengakuan penyelenggara yaitu pimpinan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Taman Siswa, kegiatan pendidikan keaksaraan keluarga di lembaganya dibiyai dana bantuan pmemerintah sebesar Rp 27.000.000, (Dua Puluh Tujuh Juta Rupiah). Proses penyelenggaran Pendidikan Keluarga di Desa Bengkel ini diawali dengan pertama, kegiatan pendataan dan sosialisasi program kepada warga masyarakat di Desa Bengkel dan sekitarnya. Data yang dijaring sesuai dengan target semula adalah 100 orang warga belajar, namun dengan berbagai keterbatasan penyelenggara mendapatkan data warga masyarakat yang masih buta aksara sebnayak 90 orang. Kedua, melakukan diskusi kecil dengan masyarakat yang diperkirakan akan menjadi calon warga belajar berkenaan dengan informasi penyelenggaraan pendidikan keaksaraan keluarga serta harapan warga masyarakat calon warga belajarnya. Melalui diskusi ini juga dibahas tentang materi belajar, waktu penyelenggaraan, serta mekanisme pembelajaran, mengingat program pendidikan keaksaraan keluarga ini relatif berbeda dengan pendidikan keaksraan fungsional (KF) yang selama ini dijalankan PKBM Taman Siswa. Ketiga, proses pembelajaran pendidikan keaksaraan keluarga. Mengingat warga belajarnya sebagian besar juga terlibat dalam kegiatan pendidikan keaksaraan dasar, maka model pembelajarannya secara teknis merupakan gabungan atau perpaduan antara keaksaraan tingkat dasar, keaksaraan keluarga dan keaksaraan usaha mandiri.

Alasan dipadukannya antara pendidikan keaksaraan keluarga dengan pendidikan keaksaran fungsional tingkat dasar mengingat secara subtantif materai pembelajaran pada kedua program tersebut sama yaitu mengajarkan pendidikan dasar (baca, tulis, dan hitung), bedanya hanya pada peran dan jumlah tutor. Peran tutor yang semula pada pendidikan keaksaran fungsional ditangani oleh tutor dari PKBM Taman Siswa, maka pada program pendidikan keaksaraan keluarga peran tutor diperluas kepada anggota keluarga lain yang melek huruf. Sehingga proses pembelajaran bisa berlangsung di PKBM Taman Siswa dibawah binaan tutor PKBM Taman Siswa dan juga di rumah warga belajar masing-masing di bawah bimbingan anak atau keluarga lain ang dianggap sudah melek huruf.

Sebagian besar warga belajar Pendidikan Keakasraan Keluarga adalah warga belajar pendidikan dasar pada pendidikan keaksaraan fungsional, yang pernah belajar di PKBM Taman Siswa pada tahun 2008. Pertimbangan pelibatan mereka dalam PKK adalah kekhawatirkan akan kembali buta aksara lagi, karena kemampuan keaksaraannya tidak dipergunakan secara fungsional dan berkelanjutan. Oleh karena itu mereka perlu dibantu untuk terus berkesinambungan belajar melalui program pendidikan keaksaraan keluarga.

Dalam proses pembelajaran, diselenggarakan pula kegiatan lain yang bersifat inovatif untuk menambah motivasi dan keterikatan warga belajar dalam program pendidikan keaksaraan keluarga. Pengelola bersama warga belajar memprakarsai diselenggarakannya kegiatan menabung bagi warga belajar.  Kegiatan menabung ini dilakukan pada setiap kali pertemuan belajar. Banyak manfaat yang dirasakan warga belajar melalui kegiatan menambung ini diantaranya membantu menyisihkan untuk kegiatan sekolah anak.

Dilihat dari sisi watu belajar, kegiatan pendidikan keaksaran keluarga diselengarakan secara alamiah dan melekat dengan kegiatan warga. Penyelenggara sangat pandai memanfaatkan peluang yang ada, sehingga program dapat berjalan sesuai harapan. Selain siang hari yang secara khusus disengajakan dibuat jadual belajar kekasaraan, pada malam hari pun diselenggarakan lewat kegiatan rutin masyarakat terutama pada setiap Malam Jum’at  ketika diadakan pengajian membaca Yasinan dari mulai ba’da magrib sampai isya. Mengingat kegiatan seperti ini bersifat informal, maka pengelompokan sasaran tidak berdasar pada pengelompokkan formal. Namun demikian, upaya ini patut dihargai dan juga sedikit atau banyak telah berdampak terhadap peningkatan pengetahuan dan kemampuan kekasaraan warga masyarakat.

Kegiatan pembelajaran pendidikan keaksaraan keluarga baik yang diselenggarkan secara terjadual oleh penyelenggara PKBM Taman Siswa, maupun yang dipadukan dengan kegiatan warga, selalu didampingi tutor. Untuk meningkatkan gairah pembelajaran diperbantukan pula tutor paruh waktu yang berasal dari istri pengelola sebagai guru TK, mahasiswa UIN NTB, Kader lulusan SMA yang dibantu oleh keluarga yang sudah melek aksara lulusan SD dan SMP.

Gambar 2.24.

Suasana Kerjasama

Kegiatan evaluasi untuk mengukur efektifitas program dilakukan dalam dua pendekatan, yaitu evaluasi terhadap mutu warga belajar dan evaluasi terhadap proses pengelolaan mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian hasil belajar. Secara umum kemampuan hasil belajar warga belajar cukup baik. Rata-rata warga belajar sudah mulai meningkat cara membaca kalimat walaupun terbatas pada kalimat pendek. Mereka sudah lancar menulis haruf dan angka walaupun belum sempurna, dan warga belajar sangat paham cara menghitung, terutama dalam hitungan dasar yakni menambah, membagi. Pada beberapa warga belajar sudah mampu mengalikan angka walaupun dalam jumlah yang terbatas.

Menurut pengakuan penyelenggara kegiatan pendidikan keaksaran keluarga dijalankan dengan perencanaan yang cukup matang dan dilaksanakan sesuai rencana yang disusun sebelumnya, walaupun diakui bayak kelemahan dan kekurangan karena berbagai keterbatasan, terutama bahan atau sumber bacaan. Kegiatan penilaian terhadap warga belajar dilakukan secara berkala. Beberapa karya hasil menulis warga belajar diarsipkan sebagai bukti adanya proses belajar dan peningkatan kemampuan warga belajar, khususnya bagi warga masyarakat  di Desa Bengkel.

Gambar 2.25.

TBM Sanggar Belajar Bersama NTB

3. Koordinasi dalam Penyelenggara Program Keaksaraan

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Taman Siswa adalah satu lembaga pendidikan masyarakat dibawah pembinaan penilik pendidikan luar sekolah di Kecamatan Labuapi Kabupaten Lombok Barat. Terdapat beberapa hambatan komunikasi dan koordinasi keduanya. Berdasarkan  hasil temuan tim yang survey ke lokasi diketahui adanya koordinasi yang belum terjalin antara pihak pemerintah terkait dalam menjalankan suatu kegiatan. Pada beberapa program terlihat pihak dinas tidak mengetahui banyak tentang kegiatan dilapangan yang dilakukan PKBM binaanya. Sebagai contoh pihak dinas tidak mengetahui bahwa sejumlah PKBM atau penyelenggara  pendidikan luar sekolah dibawah binaannya mendapat bantuan dana untuk penyelengaraan pendidikan keaksaraan keluarga, sementara pihak lembaga penerima pun belum melaporkannya dan proses pengajuannya tidak diketahui dinas setempat.

Beberapa program yang bergulir baik dari pusat ataupun swadaya masyarakat seolah-olah berdiri sendiri-sendiri, sehingga mungkin hal ini merupakan salah satu kelemahan sistem yang ada. Oleh karena itu sebagai tindak lanjut, khususnya pada program pendidikan keaksaraan keluarga perlu adanya sosialisasi yang menyeluruh baik untuk warga belajar, pengelola, dan dinas terkait. Selain itu dipandang perlu adanya penghargaan dan perhatian dari dinas pendidikan setemat atau pusat untuk kegiatan ini sehingga menambah motivasi para pengelola.

4. Kendala Penyelenggaraan

Berdasarkan wawancara dengan pengelola program pendidikan keaksaraan keluarga di PKBM Taman Siswa ditemukan banyak hal yang perlu dikembangkan dalam penyelenggaraan pendidikan keaksaraan keluarga, diantaranya: pertama, masalah koordinasi, merupakan kendala tersendiri. Hal ini bermula dari tumpang tindihnya program pada satu sisi dan ketidakjelasan fungsi pemda dalam melakukan fasilitasi. Kedua, pendidikan keaksaraan keluarga tidak memiliki waktu yang cukup dalam melakukan sosialisasi dan tidak sampainya pedoman ke tingkat pengguna. Harapan dari penyelenggara adanya rujukan penyelenggaran pendidikan keaksaran keluarga. Oleh karena itu perlu dieksplorasi beberapa model model percontohan program pendidikan kekasaraan keluarga dari beberapa daerah di tanah air. Ketiga, diperlukan adanya panduan program pendidikan keaksaraan keluarga sehingga ada keseragaman yang disesuaikan dengan kondisi daerah.

5. Inovasi Penyelenggaraan

Pendidikan Keaksaraan Keluarga yang diselenggrakan oleh PKBM Taman Siswa di Lombok memiliki sejumlah inovasi dalam beberapa aspek, yaitu: Pertama, peserta didik adalah anggota keluarga yang belum melek aksara dari setiap keluarga rata-rata 2 orang  anggota keluarga. Kedua, Sumber Belajar atau bahan belajar yang digunakan masih menggunakan buku panduan belajar baca tulis karena WB rata-rata baru bisa menulis nama sendiri bahkan ada yang masih belajar huruf alfabet karena WB menjadi buta aksara kembali karena kemampuan keaksaraannya tidak dipergunakan secara fungsional dan berkelanjutan. Ketiga, tutor berasal dari keluarga yang sudah bisa baca tulis dengan dibantu oleh tutor dari lembaga yaitu  istri pengelola sebagai guru TK formal, ada yang sedang kuliah di UIN NTB, dari Kader lulusan SMA. Keempat, Kelompok belajar merupakan kelas campuran antara keaksaraan dasar dan pemeliharaan keaksaraan melalui PKK. Kelima, Sarana Belajar  yang ada berupa area lesehan menggunakan alas tikar atau karpet dan ada papan tulis, spidol dan penghapus hanya kalau mau ideal jauh dari harapan dengan posisi menulis menjongkok tidak ada meja untuk belajar. Keenam, Dana Belajar yang diperoleh dari bantuan pusat langsung ke lembaga yaitu PKBM Taman Siswa. Ketujuh, Tempat belajar samapai saat ini dilaksanakan dirumah tutor atau apabila ada keluarga yang tidak hadir didatangi ke rumah WB. Kedelapan, Program Belajar, berasal dari program PKK yang ada yang menjadi inovasi disana adanya gabungan antara keaksaraan dasar, aksara keluarga dan keaksaraan usaha mandiri. Kesembilan, Hasil belajar dari program ini adalah mendengar, berbicara, membaca huruf alfabet dengan sambil dinyanyikan, menulis nama sendiri dan berhitung sambil mengenalkan bahasa indonesia sebagai bahasa persatuan karena masih ada WB yang belum pahan denganbahasa indonesia kebanyakan WB masih menggunakan bahasa daerah setempat.

E. Minat Baca

Dari seluruh penggambaran kelompok belajar PKK bagian yang perlu ditegaskan kembali yaitu persoalan minat baca. Sebenarnya belajar keaksaraan hampir tidak memiliki makna sama sekali tanpa didukung minat baca. Minat baca ini hampir lepas dari perhatian penyelenggara maupun pihak inisiator pendidikan keaksaraan terlebih pemerintah daerah karena dianggap tidak terlalu berkaitan erat dengan program PKK. Hal ini justru yang sedikit berseberangan dengan pertimbangan konsepsional, apalagi bila mengikuti pola pemikiran keterukuran dan pembelajaran yang berkelanjutan. Hal ini mengingatkan pula pada kelemahan bangsa ini dalam hal minat baca yang terpuruk jauh dibandingkan dengan bangsa lain.

Tinjauan yang berhubungan dengan minat baca pada semua lembaga PKK yang diobservasi diperoleh data sebagai berikut:

1.        Dilihat dari motivasi intrinsik warga belajar PKK umumnya belum terdapat dorongan yang timbulnya dari dalam. Umumnya mereka berpartisipasi pada kegiatan karena dorongan keikutsertaan pada program yang ditawarkan dari luar.

2.        Selanjutnya dilihat dari motivasi ekstrinsik, umumnya sangat kental menjadi dorongan utama bagi bagi warga belajar, sesuai dengan sistem pendekatan yang mengabaikan aspek motivasi belajar yang diikuti dengan minat baca sebagai salah satu pendekatan

Minat baca sedikit sekali tumbuh dalam interaksi sesama peserta belajar dengan lainnya, maupun yang terjadi antara tutor pendamping dengan warga belajar. Tuntutan untuk mempelajari bahan secara mandiri terjadi sangat terbatas terjadi pada subjek yang diteliti dan hanya dipelajari secara terbatas. Inisiatif untuk lebih menggalakkan minat baca sangat terbatas baik yang datangnya daari pihak penyelenggara dengan memberikan fasilitasi buku bacaan untuk tiap keluarga maupun dari warga belajar sendiri yang umumnya sangat dibatasi oleh kesulitan dana.

Tumpuan dari peningkatan minat baca yaitu terjadinya pembelajaran antar generasi seperti yang dicanangkan pada PKK. Dalam hal ini hanya terjadi sangat terbatas pada beberapa kasus, dimana antara warga belajar bersamaan dengan anggota keluarga yang paling muda saling membelajarkan tanpa terikat oleh jadual yang ditetapkan oleh pihak penyelenggara.

Untuk mendukung minat baca dalam keluarga hanya dipergunakan media buku. Karenanya pada saat pasokan buku ini terhambat, menjadikan alasan minat baca terhalang pula. Upaya untuk mencarikan bacaan populer masih sangat terbatas terutama yang dimotori oleh keluarga. Dalam menghadapi rintangan ini seharusnya pihak penyelenggara dapat mencarikan jalan keluar untuk mencarikan minat baca yang menarik dan mampu memberikan motivasi pada aksarawan baru. Penggunaan media elektronik untuk menunjang minat baca sangat terbatas, walaupun terdapat beberapa peluang untuk menggunakan tayangan iklan dan pesan yang disediakan pada acara televisi.

Strategi yang khusus diperkenalkan pada aksarawan baru atau warga belajar yang berkenaan dengan minat baca belum banyak dipergunakan. Pembelajaran antar generasi yang seharusnya lebih banyak dimanfaatkan dengan cara membaca bersama maupun dengan cara membacakan artikel dan bacaan yang bersifat menghibur belum banyak dilakukan. Hal ini berkaitan pula dengan terbatasnya bahan bacaan yang sampai pada warga belajar dan jenis bacaan yang diminati oleh mereka sangat terbatas pula.

Menyimak kondisi yang ada pada hampir semua pembelajaran multi aksara termasuk Pendidikan Keaksaraan Keluarga, yang lebih banyak mengandalkan pada kemampuan untuk mengahapal bunyi dan huruf, sesungguhnya perubahan terstruktur dari pola belajar tutur menjadi belajar melalui tulisan belum terjadi. Kendati terdapat  beberapa warga belajar yang mampu menembus cara belajar baru melalui peningkatan minat baca, bukan karena hasil pembelajaran akan tetapi karena latar belakang mereka memungkinkan untuk terjadinya peningkatan minat baca. Dengan kecenderungan seperti ini maka hasil belajar melalui kegiatan formal PKK dikhawatirkan akan menjadi relaps sejalan dengan pertambahan usia dan kesibukan dalam memenuhi kebutuhan dasar bagi warga belajar.

BAB III

ANALISIS TERHADAP PENYELENGGARAAN PROGRAM PENDIDIKAN KEAKSARAAN KELUARGA

A. Komponen Program Pendidikan Keaksaraan Keluarga yang sudah Berjalan Baik

Berasarkan hasil analisis yang cukup mendalam terhadap beberapa fenomena penerapan program pendidikan keaksaraan keluarga di lokasi yang menjadi subyek pengamatan, diperoleh data dan informasi sinergis yang dapat dijadikan sebagai temuan penting sekaligus sebagai nilai tambah (added value) dan praktek yang baik -“good practices” dalam penyelenggaraann program PKK. Paling tidak terdapat enam komponen program yang dapat dikategorikan sudah berjalan baik, yaitu: (1) penyelenggaraan program keaksaran keluarga; (2) pelibatan anggota keluarga sebagai tutor/fasilitator; (3) substansi pembelajaran berbasis kecakapan hidup; (4) proses pembelajaran; (5) strategi penyelenggaraan; (6) perbaikan sosial dan peningkatan aspek ekonomi.

1. Penyelenggaraan Program Keaksaran Keluarga

Dalam sebagian besar kasus yang menjadi subyek pengamatan, penyelenggaraan program Pendidikan Keaksaraan Keluarga megikuti tiga tahapan penting, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Tahap perencanaan diawali dengan pendataan kepada warga masyarakat melalui kerjasama dengan pengelola satuan Pendidikan Nonformal, institusi Rukun Tetangga dan Rukun Warga setempat. Setelah memperoleh data warga masyarakat yang belum bisa baca tulis, selajutnya melakukan sosialisasi dan penjelasan kepada warga masyarakat calon program pedidikan keaksaraan beserta keluarganya. Bersamaan dengan kegiatan sosialisasi dilakukan pula pendataan anggota keluarga dari warga belajar yang melek aksara. Melalui kegiatan sosialisasi diketahui minat belajar  masyarakat tentang apa yang ingin dipelajarinya lewat pendidikan keaksaraan keluarga. Oleh karena itu, dalam perencanaan dan penyelenggara pendidikan keaksaraan keluarga disusun berdasarkan kebutuhan warga belajar dengan tetap mengacu kepada standar kurikulum keaksaraan (SKK) yang disusun pemerintah.

Inti (core) dari tahap pelaksanaan pada penyelenggaraan program pendidikan keaksaraan adalah proses pembelajaran keaksaraan keluarga. Kegiatan belajar dalam program PKK juga dilengkapi dengan belajar keterampilan (lifeskills) bagi warga belajarnya. Ada beberapa jenis kecakapan hidup yang cukup diminati antara lain membuat dan memasarkan telor asin. Melalui keterampilan membuat telor asin, beternak kambing, pembuatan makanan ringan/kue, rajutan dan keset, kerajinan industri rumahan (home industry), dan lain-lain. Warga belajar banyak mengenal huruf dan angka serta kalimat yang diintegrasikan dengan jenis keterampilan yang diminati sekaligus diikuti oleh warga belajar. Melalui pembelajaran semacam ini, Tutor selalu  meminta warga belajar untuk menjelaskan bahan-bahan dan cara yang terkait dengan jenis kecakapan hidup yang dipelajari.  Proses belajar antara tutor dengan warga belajar dilaksanakan di ruang PKBM dalam rentang seminggu tiga kali selama dua jam penuh. Dalam suasana kekeluargaan, dan proses belajar yang disetting secara lesehan beralaskan tikar mereka belajar. PKBM menyediakan meja pendek yang dapat dijadikan alas menulis sambil duduk. Selain itu, pengelola juga menyediakan whiteboard dan spidol untuk menulis ketika tutor menjelaskan materinya. Mengingat kegiatan pembelajaran keaksaraan keluarga merupakan proses pelibatan anggota keluaraga yang difasilitasi oleh tutor, maka kecenderungan terjadinya pemberian motivasi dan semangat belajar diantara keluaraga sangat tinggi, terutama dorongan keluarga yang sudah melek huruf terhadap anggota keluarga lainnya yang belum memiliki kemampuan membaca, menulis dan berhitung. Oleh karena itu, pengelola program keaksaraan keluarga, pada awal pertemuan mengidentifikasi anggota keluarga warga belajar yang sudah melek huruf.

Maksud dari kegiatan ini adalah untuk menentukan siapa tutor keluarga yang akan membantu warga belajar menyelesaikan tugas warga belajar di rumahnya masing-masing.  Tutor Keaksaraan Keluarga selama ini  bertugas memberikan pembelajaran sesuai standar kompetensi keaksaraan (SKK) serta menstimulasi warga belajar untuk melakukan kegiatan belajar.  Para tutor menjalankan fungsinya sebagai fasilitator dengan cara  mengajari cara menulis, membaca dan berhitung bagi warga belajarnya, kemudian memberikan tugas menulis atau berhitung yang harus dikerjakan di rumah. Tutor kemudian meminta anggota keluarga dari warga belajar tersebut yang sudah melek huruf untuk mendampingi mengajari dan menyelesaikan tugas tersebut bersama-sama warga belajar di rumahnya masing-masing. Kegiatan ini cukup efektif mengingat waktu belajar di rumah relative lebih leluasa serta suasana interkasi lebih kondusif dibandingkan di PKBM bersama tutor.

Kegiatan evaluasi dilakukan pada akhir proses pembelajaran sesuai standar kompetensi keaksaraan (SKK) yang disusun diknas. Pengelola PKBM menyusun sendiri instrument tes berdasarkan SKK.  Proses penilaian dilakukan secara individual, sehingga skor nilai pada setiap warga belajar dapat diketahui secara langsung melalui alat tes tersebut. Prosedur evaluasi dilakukan melalui proses pembelajaran, dimana pada tahap awal tutor membagikan kertas kerja, berupa selembar kertas HVS ukuran kuarto (A4) kepada setiap peserta.  Langkah selanjutnya, tutor meminta warga belajar untuk menuliskan apa yang telah mereka pelajri dalam bentuk kalimat. Seringkali warga belajar kesulitan tentang apa yang harus mereka tuliskan.  Untuk menanggulangi kesulitan tersebut, tutor meminta warga belajar menceritakan tentang beberapa hal yang mereka ketahui, misalnya: warga belajar menjelaskan resep/bumbu masakan tertentu dan bagaimana cara memasaknya. Setelah warga belajar menceritakan nama-nama bumbu dan cara-cara memasak sesuatu yang diketahuinya, kemudian tutor meminta warga belajar untuk menuliskan  apa yang telah mereka ceritakan.  Contoh lain, tutor meminta warga belajar menjelaskan tentang rukun iman dan rukun islam yang mereka ketahui. Setelah itu,  tutor meminta warga belajar menuliskannya, dan banyak contoh lainnya ang dilakukan oleh tutor dalam mengevaluasi  kemampuan warga belajaranya. Hasil tulisan warga belajar diminta oleh tutor untuk dikumpulkan sebagai bahan evaluasi bagi tutor dan penyelenggara pendidikakan keaksaran keluarga tentang kemajuan warga belajar dalam belajar.

Adanya keterpaduan dalam penyelenggaraan program merupakan nilai tambah (added value) dalam penyelenggaraan program pendidikan keaksaraan, apakah itu program Pendidikan Keaksaraan Keluarga, Keaksaraan Usaha Mandiri, dan program keaksaraan sejenis lainnya. Keterpaduan program ini cukup memberikan manfaat bagi warga belajar, terutama untuk memberikan pengayaan dan keberagaman pilihan program yang menarik minat mereka, dan keadaan ini mampu membuat warga belajar lebih termotivasi untuk ikut dalam program keaksaraan.

2. Pelibatan Anggota Keluarga sebagai Tutor/ Fasilitator

Pelibatan seluruh anggota keluarga sebagai tutor/ fasilitator dalam Pendidikan Keaksaraan Keluarga merupakan fenomena menarik dan inovatif dalam konteks pemberantasan buta aksara di Indonesia. Fakta ini bersinergi dengan tujuan penyelenggaraan pendidikan keaksaraan keluarga yakni untuk memberdayakan masyarakat yang belum melek huruf dalam lingkup keluarga, melalui peran serta dan pelibatan seluruh anggota keluarga, sehingga semua anggota keluarga  memiliki kemampuan membaca, menulis, berhitung, berkomunikasi secara lisan maupun tulisan dalam meningkatkan tarap hidupnya.

Adanya partisipasi seluruh anggota keluarga dalam melakukan pembimbingan terhadap anggota keluarga lainnya yang masih belum melek aksara, berimplikasi positif terhadap motivasi dan tingkat kepercayaan diri warga belajar dalam melakukan aktivitas belajar dan pembelajaran. Keberadaan tutor yang berasal dari anggota keluarga warga belajar cukup menciptakan ruang belajar yang kondusif, nyaman dan menyenangkan. Warga belajar tidak perlu lagi merasa malu dan minder dengan keterbatasannya, malah cenderung merasa lebih termotivasi untuk segera mencapai hasil belajar yang baik sesuai dengan tuntutan kompetensi yang diharapkan.

3. Substansi Pembelajaran Berbasis Kecakapan Hidup

Substansi pembelajaran pendidikan keaksaraan keluarga kini tak lagi berkutat pada kegiatan calistung (membaca, menulis dan berhitung), tetapi dititikberatkan pada pemberdayaan secara ekonomi, sosial dan budaya. Dengan kata lain, substansi program pendidikan keaksaraan keluarga terintegrasikan dengan program kecakapan hidup. Hasil yang diperoleh cukup signifikan dan luar biasa. Warga belajar jadi memiliki semangat belajar lebih karena ada kegiatan ekonomis yang dilakukan di pusat kegiatan belajar masyarakat atau pada institusi penyelenggara. Disamping itu, tidak hanya keterampilan semata yang disampaikan dalam PKK, tetapi dibelajarkan dengan diberi modal dasar.

Program keaksaraan keluarga juga diintegrasikan dengan pemberdayaan dan keaksaraan media melalui seni budaya lokal dan cerita rakyat. Selain itu, pemberdayaan dilakukan dengan memperluas akses taman bacaan masyarakat (TBM) di ruang publik. Khusus bagi ibu-ibu digerakkan aksi menulis yang difasilitasi melalui Koran Ibu. Semacam surat kabar local/desa, tetapi khusus untuk perempuan. Mereka dilatih untuk membuat korannya sendiri. Sehingga warga belajar terlatih menulis dan mengeluarkan idenya.

Hal ini terkait dengan kondisi penyandang buta aksara latin berasal dari keluarga miskin. Oleh karena itu, di beberapa lokasi penyelenggaraan program PKK, substansi pembelajaran secara tematik disesuaikan dengan kondisi nyata yang ada di lingkungan sekitar (potensi lokal). Melatih dan membelajarkan orang dewasa untuk membaca, berbeda dengan membelajarkan anak, karena pada dasarnya mereka sudah mempunyai sikap hidup, pengalaman hidup, dan dorongan untuk melakukan sesuatu perbuatan. Kegiatan pembelajaran membaca dimulai dengan memperkenalkan kata-kata yang melekat dengan peserta, mereka diminta untuk melafalkan nama dirinya, untuk kemudian membaca perhuruf, proses ini terus berlanjut pada kata-kata yang semakin meluas.

Demikian pula dengan materi menulis, tidak hanya diposisikan sebagai sebuah proses membentuk huruf atau membuat kalimat, akan tetapi merupakan hasil karya cipta warga belajar. Tulisan adalah serangkaian lambang bunyi yang mengungkapkan pokok pikiran si warga belajar. Oleh karena itu rangkaian lambang bunyi harus bermakna sehingga pokok pikiran yang ingin disampaikan melalui tulisan dapat dipahami pembaca. Terkait dengan materi berhitung, warga belajar pada dasarnya sudah memiliki kemampuan dalam menghitung nilai nominal uang, jumlah keluarga, jumlah ternak yang dimiliki, dan sebagainya, hanya saja mereka belum mampu menggunakan secara benar simbol-simbol perhitungan. Terkait dengan hal ini, dalam membela-jarkan orang dewasa, berhitung sudah menjadi kompetensi dasar fasilitator. Oleh karena itu fasilitator dituntut untuk memahami betul tentang waktu dan tempat mereka biasanya melakukan kegiatan, batas hitungan yang biasa digunakan, alat bantu yang biasa digunakan, simbol-simbol penambahan, pengurangan, perkalian, pembagian, beberapa jenis permainan, format apa yang biasa gunakan untuk angka, harga barang-barang pokok yang biasa dijual atau dibeli, dan lain-lain.

Intinya, substansi pembelajaran keaksaraan keluarga bagi warga belajar sangat dirasakan lebih mudah dan memiliki makna, karena apa yang diungkap dan dipelajari benar-benar berhubungan dengan kehidupan mereka dalam keseharian.

4. Proses Pembelajaran

Proses pembelajaran dalam program pendidikan keaksaran keluarga (PKK) memiliki karakteristik yang khas (unik) dibanding dengan penyelenggaraan pendidikan keaksaraan fungsional (KF) dasar. Meskipun kedua program tersebut memiliki substansi yang sama tentang keaksaraan, akan tetapi dalam prosesnya relatif berbeda. Hasil pengamatan dan proses analisis yang mendalam terhadap keduanya, diperoleh 4 (empat) perbedaan yang cukup mendasar, yaitu:

a.    Pada sisi perencanaan, pendidikan keaksaraan keluarga adalah proses pembelajaran yang tidak hanya disepakati antara tutor dan warga belajar seperti halnya pendidikan keaksaraan fungsional. Oleh karena itu, pendidikan keaksaraan keluarga persiapannya melibatkan anggota keluarga lainnya terutama yang sudah melek huruf.

b.   Tempat belajar pendidikan keaksaraan keluarga dilakukan di pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) dan di rumah masing-masing warga belajar bersama anggota keluarga lainnya, berbeda dengan program keaksaran fungsional yang praktis lebih banyak diakukan di PKBM.

c.    Sumber belajar pada program pendidikan keaksaraan fungsional berpusat pada tutor, sedangkan pendidikan keaksaraan keluarga tutor diposisikan sebagai fasilitator, anggota keluarga yang sudah melek aksara diperankan sebagai tutor keluarga sehingga kesempatan waktu untuk belajar lebih banyak.

d.   Program pendidikan keaksaraan fungsional merupakan proses belajar mengajar tentang substansi keaksaraan. Berbeda dengan dengan keaksaran keluarga yang diselenggarakan melalui pembelajaran yang dipadukan dengan belajar keterampilan.

Keikutsertaan warga belajar terhadap program Pendidikan Keaksaraan Keluarga (PKK) pada awalnya masyarakat kurang antusias, karena berbagai alasan. Umumnya mereka keberatan mengikuti program keaksaraan keluarga karena pertimbangan waktu dan kesibukan bekerja. Bagi mereka yang bekerja nyaris tidak ada pilihan waktu yang dapat diluangkan untuk mengikuti aktivitas belajar dan pembelajaran. Hal terberat yang sedikit menghambat program ini adalah berkembangnya asumsi masyarakat bahwa tanpa kemampuan membaca dan menulis serta berhitung pun, mereka masih bisa bekerja dan menanggulangi kebutuhan hidup keluarga. Mereka yang buta aksara sebagain besar adalah orang tua yang sudah lanjut usia, sehingga rasa malu dan malas belajar menjadi kendala utama untuk mengikuti program pendidikan keaksaraan keluarga.

Warga belajar yang mengikuti kegiatan keaksaraan keluarga ternyata memiliki latar belakang motivasi yang berbeda-beda dan cukup rasional. Sebagian warga  belajar mengikuti kegiatan dimotivasi oleh factor keluarga. Mereka mengaku seringkali ditanya oleh cucu-cucunya tentang pekerjaan rumah yang ditugaskan guru sekolahnya. Karena ketidak-mampuannya, akhirnya mereka tidak dapat membantu menyelesaikan tugas cucunya. Itulah salah satu motovasi warga belajar tertarik mengikuti program pendidikan keaksaraan keluarga agar berkesempatan untuk belajar menulis, membaca dan berhitung. Motivasi lain yang diungkapkan warga belajar adalah, karena faktor ekonomi. Mereka seringkali  kesulitan dalam menanggulangi kebutuhan ekonomi keluarga. Padahal mereka sangat tertarik dengan kegiatan usaha dan keterampilan memasak. Sepertinya mereka ingin membuka usaha membuat kue-kue modern yang dapat dijualnya ke pasar. Tapi ketidakpahaman membaca resep dan formula cara membuat kue-kue yang mendorong mereka tertarik belajar membaca resep. Sebagian lagi memaparkan bahwa motivasi mereka karena ketidakmampuan orang tua mereka dulu karena keterbatasan ekonomi menyekolahkan pada jalur sekolah formal. Sehingga saat ini dalam rentang relative muda tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah dan tidak bias membaca, menulis dan berhitung. Walaupun terlambat dan tidak di sekolah formal, mereka ingin belajar lewat institusi dan satuan pendidikan nonformal. Berbagai motivasi warga belajar tersebut merupakan kondisi gayung bersambut, antara gagasan pengelola program pendidikan keaksaraan keluarga (PKK) dengan kebutuhan masyarakat.

Ketelatenan pengelola dan ketekunan warga masyarakat untuk terus belajar dan membelajarkan telah merubah citra (image) kegiatan pendidikan nonformal di tengah-tengah masayarakat. Respon awal yang kurang peduli dari sebagin masyarakat terhadap gagasan dan program-program  pendidikan nonformal,  pada beberapa tahun terakhir ini sudah mulai berubah. Saat ini umumnya warga masyarakat secara moril  mendukung bagi kelangsungan program-program pendidikan nonformal, karena asumsi mereka melalui program PNF banyak anggota keluarga yang berubah sikap belajarnya kearah yang lebih baik sehingga meningkat ilmu pengetahuannya. Selain itu, warga masyarakat mearasa bangga bila semua anggota keluarga dilingkungannya desanya tidak termasuk dalam kelompok keluarga buta huruf.

Program Pendidikan Keaksaraan Keluarga diawali dengan proses identifiaksi terhadap warga masyarakat sekitar yang dianggap belum melek huruf (baca, tulis, dan hitung). Selanjutnya dilakukan sosialisasi kepada calon warga belajar dengan memperhatikan harapan-harapan warga belajar serta anggota keluarga lainnya. Sosialiasai dan informasi yang diberikan oleh pengelola lebih menekankan pada motivasi belajar yang diarahkan pada proses penyadaran akan pentingnya pendidikan keaksaran keluarga karena beberapa alasan: pertama, pembelajaran memperkuat kemampuan keaksaraan warga belajar agar tidak buta aksara kembali dan menjadi warga belajar yang mandiri. Kedua, pembelajaran memperbaiki keterampilan ekonomis. Ketiga, pembelajaran memberikan akses/ kemudiahan warga belajar dalam memperoleh informasi. Keempat, pembelajaran yang dapat menentukan sikap mental rasional dan ilmiah warga belajar.

Proses pembelajaran keaksaraan bagi warga belajar, selain mereka lakukan melalui program usaha mandiri dalam bentuk pemeliharaan binatang ternak, usaha membuat surabi, uasaha membuat gula merah, juga dilakukan melalui proses pembelajaran keaksaraan tentang cara baca, tulis dan berhitung lewat keluarga. Mereka seringkali belajar tentang suatu yang tidak mereka ketahui dengan cara bertanya kepada anggota keluarga. Tidak sedikit pengetahuan mereka tentang cara berternak dan berhitung diperoleh lewat belajar bersama anggota keluarga. Oleh karena itu pihak pengelola yang menjadi fasilitator program keaksaraan keluarga selalu memberikan motivasi kepada anggota keluarga untuk terus memberikan bantuan dan dorongan kepada anggota keluarganya yang dianggap belum melek huruf.

Pada tahap awal, proses pembelajaran keaksaran dilaksanakan di ruang belajar institusi penyelenggara program PKK yang jadual pelaksanannya dikoordi-nasikan  oleh pengelola program keaksaraan. Pendekatan pembelajaran menggunakan pembelajaran partisifatif, mengingat warga belajar mayoritas orang dewasa yang sudah lanjut usia. Sehingga proses pembelajaran lebih menekankan kepada pelibatan secara langsung warga belajar dalam menentukan jadual, substansi belajar dan pelaksanaan evaluasi. Penghargaan terhadap prestasi belajar warga belajar perlu dihargai karena ternyata perhatian dan antusias warga belajar semakin meningkat. Metoda pembalajaran yang dikembangkan oleh  tutor adalah ceramah, tanya jawab dan praktek. Kegiatan praktek berupa belajar menulis huruf latin dan berhitung angka, terutama belajar menambah, mengurangi, dan membagi. Pada sebagian warga masyarakat yang telah agak paham berhitung tingkat dasar  dilanjutkan dengan kemampuan berhitung yang agak rumit, mislanya mengkalikan dan mejawab soal-soal matematika sekolah dasar.

Proses pembelajaran selanjutnya dilakukan tidak hanya melalui pembelajaran tatap muka antara tutor/fasilitator dengan warga masyarakat di ruangan, tetapi kemudian dilakukan melalui pembelajaran dalam keluarga atau warga belajar lebih banyak diksusi tentang materi belajarnya dengan anggota keluarga. Umumnya mereka melakukan proses pembelajaran tentang cara membaca, menulis dan berhitung melalui pembimbingan anggota keluarganya yang sudah melek huruf. Oleh karena itu, tutor lebih memposisikan diri sebagai fasilitator yang fungsinya membantu memberikan layanan belajar dalam mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi warga belajar.

Pendekatan pembelajaran partisipatif yang melibatkan warga belajar sebagai orang dewasa dalam menentukan rencana pembelajaran merupakan upaya strategis sehingga warga belajar merasa memiliki dan mengambil peran dalam proses pembelajaran. Pendekatan ini juga nampak dari  perlakukan tutor dalam strategi belajar mengajar yang membuka kesempatan luas kepada warga belajar untuk mengemukakan pendapat harapan dan kendala yang mereka hadapi baik aspek pribadi maupun aspek penguasaan materi pembelajaran. Tutor lebih memposisikan sebagai pembimbing dan pendamping yang memberikan layanan pembelajaran bagi warga belajar. Hal tersebut terungkap dari pendapat warga belajar yang memandang tutur mampu menyusun bahan ajar berbasis tematis, selain bahasa yang digunakan dalam bahan ajar sesuai dengan kemampuan  warga belajar. Untuk memberikan suasana belajar aktif, tutor dianggap terampil dalam mengenalkan macam-macam masalah dalam kehidupan sehari-hari sebagai kunci pengerak diskusi/dialog. Tutor bersama warga belajar berdialog tentang ide mereka sesuai dengan masalah-masalah  yang dihadapi warga belajar. Sedangkan warga belajar berlatih berlatih menggunakan kata kunci yang sudah dikenalnya. Suasana diskusi yang seperti tersebut terjadi kerena: (1) tema bahan ajar yang dikembangkan sesuai dengan dengan kebutuhan warga belajar, (2) bahan ajar mengunakan kata-kata kunci yang diangkat dari kehidupan nyata masayarakat, (3) warga  belajar juga diberi kesempatan untuk aktif memberi masukan terhadap proses dan bahan ajar. Dengan demikian kemampuan tutor telah mendorong dan menggugah warga belajar untuk  belajar tentang hidupnya.

Umumnya motivasi warga belajar mengikuti proses pembelajaran dikarenakan beberapa  factor, diantaranya: pertama,  kebutuhan warga masayarakat untuk dapat membaca dan menulis serta berhitung.  Kedua, dorongan anggota keluarga yang lain, terutama anak-anak mereka yang relative sudah melek huruf, karena umumnya yang belum merek huruf adalah ayah dan ibunya. Pada beberapa keluarga, anak tertua atau kedua yang umurnya rata-rata sudah di atas 60 tahun  juga belum merek huruf. Ketiga, ajaran agama yang mereka (warga belajar) dapatkan lewat informasi yang disampaikan para ustadz dan kiyai pada forum majelis taklim, tentang  pentingnya manusia belajar dan menuntut ilmu. Keempat, warga belajar memandang pendidikan keaksaraan keluarga lebih mudah dilakukan karena melibatkan anggota keluarga serta waktu dan tempatnya tidak selemanya harus di ruang belajar, bebeda dengan program pendidikan keaksaraan fungsional yang tidak banyak melibatkan anggota keluarga. Kelima, selain belajar juga mereka dapat melakukan kegiatan usaha, karena melalui program pendidikan keaksaraan keluarga mereka diberi modal usaha juga dilibatkan dalam pelatihan-pelatihan keterampilan produktif, seperti membuat surabi, gula merah, dll yang dapat dijual dan menghasilkan uang.  Ketujuh, adanya peran aparat pemerintah setempat, terutama instansi pemerintah yang berkaitan langsung dengan penyelengaran program pendiidkan keaksaraan. Perhatian dari pimpinan RT dan RW serta beberapa Kepala Desa yang warganya terlibat langsung  sebagai warga belajar turut mempengaruhi keseriusan warga masyarakat untuk  melibatkan diri belajar. Informasi yang berkenaan dengan upaya-upaya pengembangan program PNF termasuk berbagai program bantuan selalu dikomunikasikan secara intensif oleh penilik setempat. Oleh karena itu, sirkulasi komunikasi anatara penyelengara program PNF, warga belajar, warga masyarakat serta aparat pemerintah setempat sangat kondusif dan berpengaruh besar terhadap atmosfir proses pembelajaran dan pengelolaan program pendidikan keaksaraan keluarga.

5. Strategi Penyelenggaraan

Strategi penyelenggaraan yang digunakan oleh pengelola program PKK adalah melakukan pendekatan persuasif melalui pendekatan norma agama. Pendekatan ini cukup efektif dalam menumbuhkan kesadaran dan minat belajar warga belajar. Apalagi pada mayoritas masyarakat yang menjadi sasaran pendidikan keaksarana keluarga adalah beragama Islam, umumnya mereka patuh dengan ajaran agama, sehingga setiap informasi yang dianjurkan agama mereka lakukan dan setiap pekerjaan yang dilarang agama tabu untuk dilakukan. Pendekatan ini sangat baik untuk dipertahankan dalam konteks karakteristik masyarakat seperti yang digambarkan di atas. Inilah yang dinamakan potensi lokal yang kemudian dimanfaatkan betul pengelola program PNF untuk mempermulus jalannya program keaksaraan keluarga. Melalui perbincangan dalam keseharian, atau pembicaraan setelah sahalat magrib berjamaah, pengelola program dan tokoh agama menyampaikan informasi dan memahamkan masyarakat tentang pentingnya belajar sepanjang hayat. Belajar sepanjang hayat memberikan kesempatan belajar secara wajar dan luas kepada setiap orang sesuai dengan perbedaan minat, usia, dan kebutuhan belajar masing-masing. Kesempatan ini merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan untuk belajar seperti program-program kegiatan belajar kelompok (group learning), kegiatan belajar perorangan (individual learning), dan kegiatan belajar melalui media massa. Kegiatan belajar tersebut dapat dilakukan di berbagai tempat yaitu di tempat kerja, rumah ibadat, rumah tinggal; gedung perkumpulan, sekolah, tempat bermain, lapangan olah raga, gelanggang remaja/pemuda, majelis ta’lim, padepokan, perpustakaan, pusat­pusat pembelajaran, panti dan lain sebagainya.

6. Perbaikan Sosial dan Peningkatan Aspek Ekonomi

Kondisi keaksaaan yang diselengarakan melalui pelibatan keluarga tersebut, memberikan dampak positif terutama kesadaran anggota keluarga untuk saling melibatkan diri dalam program keaksaraan keluarga. Manfaat pendidikan keaksaraan keluarga memiliki dampak sosial dan ekonomi, karena dalam proses pembelajarannya selain meningkatkan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, juga warga belajar diarahkan pada kemampuan untuk berkomunikasi secara lisan dan tulisan.

Dampak dari program pendidikan keaksaran keluarga adalah tumbuhnya jiwa kemandirian warga belajar, karena dengan bekal kemampuan keaksaraan, mereka merasa percaya diri untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan. Kemampuan membaca warga belajar mendorong mereka untuk mencoba berbuat melakukan berbagai keterampilan. Sebagai contoh, salah seorang warga belajar dengan kemampuan membaca resep tentang membuat telor asin, tertarik untuk berwirausaha membuat dan menjual telor asin, dan sukses menghasilkan uang.

Kemampuan membaca dan menulis serta berhitung warga belajar, menjadi motivasi dalam mengaktualisasikan diri warga belajar melalui penuangan gagasan-gagasan lewat tulisannya, walaupun gagasan sederhana dan dalam bentuk tulisan tangan.  Hal tersebut dibuktikan dengan terkumpulnya naskah-naskah tentang bebagai gagasan, pemikiran, termasuk resep-resep makanan yang mereka ketahui untuk diterbitkan lewat media massa loka, seperti bulletin, tabloid dan koran yang diterbitkan. Dalam Koran tersebut ada halaman tertentu yang memuat tulisan-tulisan tangan warga belajar keaksaran keluarga. Karya tulisan warga belajar dimuat secara bergiliran, mereka mendapatkan imbalan. Bagi warga belajar Koran ibu merupakan media informasi yang bukan hanya sebagai media dan sumber informasi tetapi juga sebagai media menyampaikan informasi yang memberikan nilai tambah secara ekonomis.

Pembelajaran pendidikan keaksaraan keluarga kini tak lagi berkutat pada kegiatan calistung (membaca, menulis dan berhitung), tetapi dititikberatkan pada pemberdayaan secara ekonomi, sosial dan budaya. Karena hampir seratus persen penyandang buta aksara latin berasal dari keluarga miskin. Pada hampir semua subyek pengamatan, program PKK ini telah mampu meningkatkan ekonomi keluarga, khususnya peningkatan pendapatan (income generating) keluarga.

B. Aspek Program PKK yang Perlu Diperbaiki

1. Kondisi Sosial Budaya Masyarakat, sebagai Landasan Filosofis Penyelenggaraan Progam Pendidikan Keaksaraan Keluarga

Salah satu asumsi dasar suatu organisme belajar tidak hanya berhubungan  dengan proses mempelajari kebiasaan gerak, akan tetapi belajar bisa saja berhubungan dengan kebiasaan hidup masyarakat yang menjadi standar bagi pengembangan perilaku di tempat itu. Tingkat kebiasaan masyarakat yang terjadi dan sudah merupakan suatu tatanan nilai yang melembaga bagi masyarakat dapat dijadikan sumber bagi pengembangan proses pembelajaran. Teori ini memberikan bukti bahwa nilai budaya yang asli di masyarakat, dapat membentuk perilaku masyarakat baik sebagai individu maupun sebagai kelompok pada tingkat kemauan dan kemampuan untuk belajar. Baik buruknya proses pembentukan perilaku itu tergantung dari nilai pepatah dan peribahasa yang muncul serta pemaknaan terhadap pepatah dan peribahasa dimaksud. Demikian pula dengan Jawa Barat (Sunda) memiliki pepatah dan peribahasa yang merupakan nilai budaya asli masyarakat, sekaligus merupakan nilai filosofis masyarakat sunda, diantaranya yaitu: ”Elmu Tungtut Dunya Siar” serta ”Nu Goreng Kudu Disinglar” . Pepatah tersebut memberikan gambaran betapa belajar (mencari ilmu = elmu tungtut) dan sambil berihtiar mencari harta (dunya siar) adalah suatu perbuatan yang satu sama lainnya dapat dilakukan bersama sama  (learning by doing) atau learning to be. Pepatah tersebut mengandung pula unsur motivasi belajar. Dari segi teoritis kedua pepatah tersebut memiliki kandungan mendasar bagi konsep pembelajaran dimana keseimbangan antara kognisi dan afeksi  merupakan satu gayutan yang satu sama lain saling mengisi. Konsep-konsep di atas dapat dijadikan patokan, betapa unsur budaya asli (indigenous culture) dapat mewarnai tingginya keberhasilan belajar. Artinya peribahasa dan pepatah tersebut mampu mewarnai perilaku hidup masyarakat. Baik belajar melalui pendidikan formal (persekolahan) maupun non-formal (luar sekolah). Pepatah itu pula berkembang pada prinsip belajar lainnya. Budaya yang asli dapat dikembangkan  lebih jauh pada konsep pembelajaran lainnya. Juga dapat dijadikan patokan bagi pengembangan model belajar, serta pengembangan kurikulum muatan lokal (mulok), dengan tujuan tidak hanya memenuhi kebutuhan praktis sebagai pendorong bagi tumbuhnya motivasi belajar. Akan tetapi, sampai pada tahap meneruskan warisan sosial budaya, pada tahapan kemampuan dan cara-cara kerja dari satu generasi ke generasi berikutnya.

2. Sistim Penyelenggaraan Program PKK

Semarang, Sumedang, Gresik dan Mataram merupakan sebagian wilayah yang menjadi lokasi untuk diobservasi dalam kegiatan Pendidikan Keaksaraan Keluarga yang salah satu tugasnya adalah mengembangkan program pendidikan keaksaraan keluarga dalam pendidikan non formal. Agar wilayah tersebut dapat menjalankan tugas dan fungsinya perlu didukung oleh tenaga, baik pendidik maupun kependidikan yang memiliki kualifikasi dan kompetensi sesuai standar nasional pendidikan. Karena lembaga ini dihadapkan pada permasalahan  utama yaitu dalam manajemen program PNF dan penilaian kebutuhannya, dalam pelaksanaannya belum efektif dan efisien serta belum sesuai dengan harapan. Untuk itu, informasi yang tepat dan kebutuhan yang amat penting, dan visioner dengan penilaian yang realistik terhadap kebutuhan masa datang sangat diperlukan. Kebutuhan tersebut meliputi: sumber daya manusia, sarana prasarana, proses, evaluasi dan monitoring. Oleh sebab itu perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a.    Dari segi sistem, manajemen program PNF dan penilaian kebutuhannya perlu dilakukan secara tersistem dan sistematik;

b.   Dari segi substansi,  manajemen program PNF dan penilaian kebutuhannya perlu mengakomodasi berbagai tuntutan, diantaranya:

1)  Tuntutan kebutuhan kelompok masyarakat sasaran sesuai dengan visi, misi, tugas, dan fungsi lembaga;

2)  Tuntutan kebutuhan masyarakat;

3)  Tuntutan kebutuhan para pemangku kepentingan (stakeholders);

c.    Dari segi peraturan, perlu memperhatikan antara lain:

1)  Undang-Undang;

2)  Peraturan Pemerintah;

3)  Peraturan Menteri; dan

4)  Peraturan daerah

d.   Dari segi kebijakan, perlu memperhatikan:

1)  Kebijakan Pemerintah dan Pemerintah Daerah;

2)  Kebijakan Menteri;

3)  Kebijakan Direktur Jenderal;

4)  Kebijakan Direktorat Teknis; dan

5)  Kebijakan Dinas Pendidikan.

e.    Dari segi waktu, perlu memperhatikan:

1)  Manajemen program PNF dan penilaian kebutuhan jangka panjang;

2)  Manajemen program PNF dan penilaian kebutuhan jangka menengah; dan

3)  Manajemen program PNF dan penilaian kebutuhan jangka pendek/ program tahunan.

3. Model Pembelajaran

Penyelenggaran Pendidikan Keaksaraan Keluarga dipandang merupakan pendekatan keaksaraan yang paling mempertimbangkan aspek etnososial, karena proses pembelajaran tidak lagi didasarkan pada transaksi ekonomi, akan tetapi lebih pada rasa kemanusiaan dan kasih sayang. Beberapa pertimbangan keunggulan dari keaksaraan keluarga yaitu:

a.    Saling percaya

b.   Ketulusan

c.    Kasih sayang

d.   Dukungan dana

e.    Dukungan fasilitas

Pendidikan Keaksaraan Keluarga dipandang paling ideal karena semua anggota keluarga memiliki urunan pada upaya meningkatkan kemampuan keberadaban. Untuk itu perlu diciptakan model pembelajaran yang bisa menyentuh aspek saling percaya, ketulusan,kasih sayang, dukungan dana dan fasilitas. Dengan demikian program Keaksaraaan Keluarga perlu mendapatkan tempat dan kajian khusus, dengan penyediaan dan pemunculan model-model pembelajaran yang khusus pula. Hal tersebut di tempuh dengan langkah-langkah sebagai berikut :

a.    Mendinamisir kelompok sasaran/warga belajar, hal ini dimaksudkan agar kelompok sasaran dinamis dan selalu kondusif didalam menerima materi kegiatan. Hal ini mengingat peserta program (masyarakat miskin) sebagian besar mayarakat dewasa yang turut membantu keluarga dan menjadi tulang punggung keluarga mencari nafkah. Biasanya kelompok sasaran seperti ini sulit mempertemukan waktu yang tepat secara bersama-sama dalam suatu kegiatan pembelajaran.

b.   Pemberian materi disesuikan dengan waktu kegiatan antara bekerja (mencari nafkah) dengan menuntut pelajaran. Point in menjadi sangat penting mengingat kebanyakan masyarakat miskin lebih banyak putus sekolah disebabkan ketiadaan biaya/dana. Termasuk kurikulum yang diberikan pun harus disesuaikan dengan kebutuhan mata pencaharian.

c.    Model pembelajaran harus bersifat mastery learning. Hal ini dimaksudkan agar materi yang diterima benar benar aflikatif pada kegiatan sehari-hari yaitu mencari nafkah.

4. Manajemen Penyelenggaraan Program PKK

Dalam Penyelenggaraaan Program PKK terdapat banyak variasi mengenai fungsi manajemen, namun terdapat tiga fungsi utama manajemen yaitu perencanaan, pengorganisasian dan evaluasi. Ketiga fungsi ini sering dilihat secara linier, yaitu perencanaan sebagai awal dari fungsi manajemen serta evaluasi berada pada perencanaan dan pengorganisasian. Pada pemikiran lain ketiga fungsi ini berlangsung secara dinamis dan saling menunjang satu dengan lainnya. Dalam hubungan ini perencanaan tidak senantiasa diakhiri dengan pengorganisasian serta evaluasi tidak selalu berada diujung perencanaan dan pengorganisasian

a. Perencanaan

Program Pendidikan Keaksaraan Keluarga adalah bagian dari perubahan struktur dalam belajar dari budaya tutur menjadi budaya baca. Semua tujuan pembelajaran kebahasaan meliputi memahami, membaca, menulis dan mengemukakan pendapat secara lisan maupun tulisan akan serta merta merubah tatanan kemasyarakatan, dari masyarakat yang berbasis kata yang kemudian akan hilang segera semua ide dan gagasan yang dikemukakan menjadi masyarakat dengan dukungan perangkat keras yang akan dapat dijadikan titik tolak dan modalitas dalam mengembangkan keilmuan dan pada gilirannya akan memberikan dampak pada kemakmuran masyarakat secara keseluruhan.. Perencanaan adalah proses bagaimana menetapkan tujuan serta menetapkan langkah-langkah untuk mencapai tujuan yang ditetapkan melalui tahapan analisis dan evaluasi alternatif yang mungkin dikerjakan. Perencanaan berfungsi pula untuk menetapkan dasar dan arah untuk sebuah lembaga penyelenggara program PKK dan mengarahkan program yang dilakukan secara bersama oleh anggota staf untuk mencapai tujuan yang secara eksplisit telah ditetapkan dalam perencanaan.

Salah satu pendekatan khusus dalam perencanaan yaitu perencanaan strategis, dengan menggabung secara komprehensif dasar-dasar manajemen. Perencanaan ini lebih merupakan metodologi yang mempertimbangkan secara sungguh-sungguh seluruh pertimbangan lingkungan dan peluang serta hambatan. Tujuan utama dari perencanaan strategis yaitu memadukan antara tujuan fungsional dengan perencanaan operasional dari staf. Terdapat lima langkah dari perencananan strategis yaitu:  Satu, penetapan tujuan dari lembaga PKBM sebagai penyelenggaran Program PKK (bagaimana cara untuk memberikan pelayanan pada masyarakat sasaran Program PKK). Kedua, menetapkan kekuatan dari lembaga (Bagaimana cara kerja yang baik serta mengapa dilakukan). Ketiga, penetapan kenyataan dan potensi dari sasaran PKK (bagaimana sasaran pelatihan dilayani, apa yang seharusnya dilakukan serta sejauh mana kita memahami harapan mereka). Keempat, penetapan faktor internal dan eksternal yang mempengaruhi lembaga (sumber-sumber yang dibutuhkan dari PKBM dan masyarakat). Kelima, pengembangan dan operasional kegiatan (apa yang seharusnya yang harus dilaksanakan dalam pemerograman, staffing dan pemasaran serta apakah semua itu bisa didanai).

Perencanaan merupakan keseimbangan  tugas satuan pelatihan, programming, staffing, pemasaran dan kemampuan finansial. Dalam arti sempit perencanaan diartikan upaya menghadapi tantangan untuk mencapai efektivitas.

b. Pengorganisasian

Perencanaan yang dibuat harus dilaksanakan. Pengoorganisasian yaitu mengembangkan sistem peranan dan tanggung jawab serta pendelegasian tugas dan sumber-sumber untuk menjamin penampilan yang maksimum, kejelasan harapan dan pembuatan keputusan yang efektif.

PKBM sebagai lembaga penyelenggaran program PKK dengan didanai oleh pemerintah tentunya haarus benar-benar pelaksanaannya berdasarkan kebutuhan masyarakat. Dalam hubungan ini, PKBM yang berhasil ditandai dengan kejelasan tujuan lembaga yang akan dicapai serta peluang untuk terselenggaranya fungsi pengelolaan secara efektif.

c. Evaluasi

Secepat perkembangan dari perencanaan, serta sumber-sumber diorganisasikan dibutuhkan pula dukungan kemampuan untuk mengevaluasi proses dalam upaya menilai keberhasilan tujuan yang ditetapkan. Dengan evaluasi, lembaga penyeleng-garaan PKK akan memiliki gambaran antara kenyataan yang telah dicapai dengan harapan yang diinginkan dalam perencanaan. Pada hal lain dapat diketahui penyimpangan yang terjadi, sehingga dapat dilakukan perubahan dari komponen kelembagaan dalam upaya untuk menjamin ketercapaian rencana yang ditetapkan.

Evaluasi yang diselenggarakan hendaknya mempertimbangkan antara kemampuan untuk menyediakan informasi yang dibutuhkan serta kemudahan dalam upaya untuk mengimplementasikan program. Metode yang dipergunakan harus pula memperhatikan hak-hak pengelola maupun peserta belajar. Evaluasi dilakukan melalui analisis data, interview pada klien dan audit program. Hal yang terpenting lainnya evaluasi hendaknya dilakukan melalui upaya yang hati-hati berdasar atas observasi personal yang berkelanjutan.

Fungsi dan tugas dari manajemen dilaksanakan dalam organisasi dan lingkungan masyarakat yang keduanya bisa membatasi keberfungsian manajerial suatu program yang sedang dilaksanakan.

Strategi dasar yang menjadi andalan konsep pendidikan luar sekolah pada intinya diarahkan pada peningkatan kecakapan warga masyarakat khususnya, kualitas penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, penguatan semangat untuk berprestasi, etos kerja, disiplin dan tanggung jawab, kemampuan kewirausahaan, serta kemampuan memproteksi diri dari masalah-masalah kesehatan dalam kehidupan. Untuk kepentingan itulah pembangunan pendidikan luar sekolah yang berbasis pada kebutuhan belajar masyarakat sangat terkait dengan pertumbuhan ekonomi. Untuk menjawab tantangan tersebut maka pengelolaan pendidikan luar sekolah yang berbasis manajemen yang sangat dibutuhkan saat ini, terutama pengelolaan pendidikan luar sekolah yang berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan dan pengujian mutunya didasarkan atas kebutuhan pasar kerja atau menganut prinsip demand driven dan selaras dengan upaya menumbuhkan dan menggerakkan kegiatan industri dan ekonomi yang berbasis pada sumber daya alam. Beberapa standard yang dapat dijadikan model pengembangan dan pengelolaan pendidikan luar sekolah saat ini dan ke depan di antaranya adalah : model Manajemen strategik, TQM, learning organization (LO) dan lain-lain.

Suatu contoh ilustrasi yang mengambil model manajemen strategik dan model learning organization bagi pengelolaan pendidikan luar sekolah berdasar pada benchmark berikut ini : Seperti diketahui ujung tombak dari kinerja organisasi pengelolaan pendidikan luar sekolah menurut konsep manajemen terletak pada manusia, oleh karena itu kinerja organisasi yang berkualitas merupakan penggerak (leverege) kinerja organisasai. Sumber daya manusia yang berkualitas atau disebut dengan human capital. Human capital diperoleh melalui proses pembelajaran dalam perspektif pertumbuhan (learning and growth). Human capital yang berperan dalam perspektif bisnis internal akan menghasilkan modal organisasi (organizational capital), yaitu memanfaatkan modal manusia untuk membangun jejaring organisasi. Modal manusia dan modal organisasi akan menghasilkan ekuitas perusahaan bisnis dan pelanggan  dan ketiga perspektif  (pembelajaran & pertumbuhan, proses bisnis internal dan pelanggan) secara bersama-sama akan menghasilkan nilai bagi pemegang saham (sharehoder value) melalui efisiensi biaya.

5. Memilih solusi yang terbaik untuk Program PKK

Serangkaian proses memilih solusi dapat dilakukan melalui empat tahapan yaitu : (1) memilih solusi melalui data identifikasi sasaran pendidikan luar sekolah secara umum (2) memilih solusi melalui gagasan berdasarkan kajian konsep dan teori tentang Pendidikan Keaksaraan Keluarga. (3) memilih solusi melalui analisis hasil identifikasi kebutuhan belajar masyarakat (4) memilih solusi melalui adaptasi dan prioritas program berdasarkan musyawarah.

Kajian analisis yang kita kembangkan untuk kebutuhan penyelesaian buku ini tentunya dengan melalui tahapan-tahapan yang cukup bervariasi dimulai dengan adanya kajian lapangan ke beberapa wilayah  (Semarang, Sumedang, Gresik dan Mataram) yang sedang menyelenggarakan program Pendidikan Keaksaraan Keluarga dan memperoleh dana bantuan dari pemerintah, dengan harapan program tersebut menjadi model yang bisa dipakai contoh dan diadopsi oleh lembaga-lembaga lain yang akan meyelenggarakan program yang sama. Dari hasil kajian di lapangan kami memperoleh data yang beragam tentang pelaksanaannya disesuaikan engan potensi wilayah masing-masing.

Keterlibatan warga belajar pada suatu program intervensi dalam konteks penguatan masyarakat, didasarkan pada dua alasan berikut. Pertama, upaya menempatkan warga belajar sebagai pelaku utama yang peka dan aktif pada seluruh kegiatan yang terkait dengan substansi program berdasarkan: kondisi, sumber daya yang dimiliki dan potensi sumber daya yang dapat dikuasainya. Kedua, memposisikan peran kelompok sasaran Program PKK sebagai pelaku utama yang peka dan aktif dapat terwujud. Kedua alasan tersebut beranjak dari pandangan bahwa suatu program intervensi yang benar-benar melibatkan warga belajar mengarahkan kepada keberhasilan program itu sendiri dan sekaligus membangun kekuatan kelompok

Warga belajar sebagai pelaku utama dalam pembangunan mengandung pengertian bahwa seluruh aspek manajemen program tersebut pada dasarnya dilakukan oleh para warga belajar. Sehingga dengan demikian konteks pelibatan warga belajar dalam program tersebut bukan sekedar untuk mengarahkan mereka sebagai pelaksana tetapi memberikan kondisi agar melakukan pengembangan aspek program yang dibutuhkannya dan sekaligus memberikan persfektif terhadap pembangunan yang lebih luas.

Fasilitasi yang dilakukan oleh pemerintah dilakukan dalam kerangka penguatan kemampuan dan potensi masyarakat (pembelajaran dan pemberdayaan serta pembaharuan masyarakat). Artinya peserta belajar dalam kelompok tersebut diharapkan memiliki proses yang terbuka dengan pemikiran dan keterampilan baru. Sehingga dengan pelibatan mereka secara langsung merupakan media untuk terjadi proses penerimaan dan pengalihan kemampuan masyarakat dalam mengelola aspek program yang dibutuhkannya.

Pelibatan warga belajar dipandang sebagai upaya fasilitasi dari unsure masyarakat yang terkait dengan aspek perilaku (psiko-sosial), budaya dan politik, serta mata pencaharian. Ketiga aspek tersebut saling mempengaruhi sehingga baik secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama akan berpengaruh terhadap tingkat kesiapan warga belajar untuk melibatkan diri atau dilibatkan dalam suatu program. Merujuk pada makna dasar dan dimensi yang terkandung di dalamnya maka hasil akhir dari proses pelibatan warga belajar dalam kerangka pembangunan yang berpersfektif penguatan kelompok adalah tumbuhnya: (1) rasa memiliki terhadap keberadaan kelompok ; (2) kemandirian dan kewirausahaan warga belajar sebagai penggagas, pelaksana maupun pemanfaatan pembangunan, dan (3) kepercayaan diri yang mapan terhadap potensi, sumber daya dan kemampuan yang dimiliki untuk membangun dirinya sendiri ketika masyarakat sudah terbebas dari buta huruf.

Apabila kebijakan pembangunan masyarakat lebih menekankan kepada terwujudnya peran serta masyarakat dan pemberdayaan masyarakat menjadi satu-satunya pilihan, maka persoalan sangat mendasar yang perlu diantisipasi dalam pemberdayaan warga belajar sebagai pola pembangunan berbasis masyarakat harus bercirikan: (1) ada kebijakan yang menjamin hak dan kewajiban warga belajar dalam menggali, merumuskan kebutuhan dan melaksaanakan aktifitas dalam memenuhi kebutuhannya; (2) ada system informasi yang melembaga dalam masyarakat , (3) ada upaya penguatan kapasitas atau kemampuan pengurus PKBM dan anggota kelompok dalam pelaksanaan program; (4) ada transparansi keterpaduan visi dan misi program; (5) ada akuntabilitas program, dan (6) ada lembaga yang menjadi mitra kerja pelaksanaan program.

Keenam ciri tersebut akan muncul apabila: (1) warga belajar mengetahui akan kebutuhan, keinginan dan harapannya; (2) warga belajar mempunyai kesempatan dan keleluasaan untuk memutuskan keinginan, kebutuhan dan harapannya; (3) warga belajar memahami visi, misi, prinsip dan tujuan program; (4) warga belajar mengetahui tugas dan perannya; (5) warga belajar mempunyai penggerak baik bersifat individual maupun kelompok; (6) warga belajar diberi kepercayaan untuk melaksanakan program bahwa mereka mempunyai potensi.

6. Mendongkrak Minat Baca

Membaca sangat penting bagi setiap orang dalam rangka mengatasi kesenjangan pada pengetahuan baru  dan  perubahan zaman. Penting  dan keharusan membaca diharapkan akan terus meningkat dari tahun-tahun. Namun, jumlah mereka yang tahu bagaimana membaca tetapi tidak memanfaatkan potensi ini juga meningkat. Masih banyak orang  muda dan tua, yang tidak bisa mendapatkan akses pada kegiatan membaca dan program membaca di semua orang dan beberapa yang mampu membaca tidak mendapatkan akses pada program membaca serta kurangnya mendapatkan kepuasan dari membaca. Kelompok keaksaraan tidak memiliki banyak minat awal dan kemanfaatan serta pemeliharaan dari kemampuan membaca. Kebiasaan membaca harus dibangun dan dipromosikan sepanjang kehidupan. Minat baca tidak terlepas dari kampanye keaksaraan yang luas, dalam arti mengajar orang untuk menulis dan membaca dan menjadikan minat baca sebagai upaya memelihara keberlanjutan dari pembeajaran. Yang menjadi persoalan bagi pembaca pemula bagaimana lebih memanfaatkan bahan bacaan dan minat baca sebagai bagian dari  kebiasaan pribadi dan sosial mereka. Untuk meningkatkan kecintaan pada minat baca peran pemerintah, nonpemerintah,  perpustakaan, sekolah dan keluarga adalah sangat penting bagi kerjasama untuk mempromosikan kebiasaan membaca

Untuk memberikan solusi pada peningkatan minat baca akan diuraikan faktor yang mempengaruhi minat baca, peran kelembagaan dalam menunjang minat baca, serta upaya meningkatkan minat baca.

Berdasarkan hasil pengamatan pada satuan belajar yang diteliti terdapat tiga faktor utama yang menghambat promosi membaca, diantaranya: pertama, kebiasaan yang didominasi budaya mendengarkan atau tutur. Kelompok pembelajar awal khususnya hanya menekankan pada kemampuan untuk melafalkan kembali, seperti dramatisasi, membaca animasi atau bahkan demonstrasi. Penggunaan metode yang lebih didominasi penuturan ini karena buku-buku tidak begitu tersedia. Kebiasaan yang merupakan budaya warisan menjadi kebiasaan dan menjadi penghalang utama untuk meningkatkan kebiasaan membaca dari generasi ke generasi. Singkatnya, pada saat ini masyarakat   masih bergantung informasi dari mulut kemulut dan bukan bahan tertulis. Kedua, pengelolaan pusat kegiatan belajar masyarakat yang didalamnya terdapat taman bacaan masyarakat yang berfungsi menampung aspirasi dan minat baca yang menyangkut sumber daya, keuangan dan bahan bacaan belum tersedia dengan memadai. Perpustakaan yang telah dianggap representatif berada jauh di luar wilayah tempat tinggal warga belajar, dan untuk mencapainya dibutuhkan waktu dan kesiapan mental. Kendati terdapat beberapa sumber bacaan seperti yang ada di sekolah dan kantor tertentu, selain tidak diperuntukkan bagi pembaca pemula, sumber daya manusia tidak memiliki kesiapan untuk menjadi fasilitator bagi pembaca pemula dewasa. Selain itu jumlah dan keragaman buku yang bisa melayani pembaca pemula masih sangat terbatas. Ketiga, terdapat media tandingan terutama televisi yang menyajikan program yang ditata berbasis pada penataan media jarum hipodermis, dimana penonton tanpa reserve tunduk pada tampilan yang desuguhkan dengan sedikit nsekali nilai nalar yang dipergunakan terutama untuk sesi iklan. Kenyataan ini yang telah menghinggapi semua golongan penduduk, tua muda.

Untuk mendongkrak minat baca sebagai bentuk tindak lanjut dan pemeliharan pembelajaran yang berkelanjutan dari aksarawan dewasa baru dibutuhkan dukungan tokoh dan lembaga yang akan mendukung kinerja perpustakaan dan rumah baca lain yang ada pada lingkup aksarawan dewasa baru. Kesulitan baru yang diarasakan sangat mengganggu yaitu kerjasama dan jaringan diantara aktor pendukung minat baca. Mereka yang memiliki andil dalam upaya memelihara kemampuan baru dalam membaca yaitu:

a.    Keluarga. Orang tua jelas agen sosialisasi penting. Orangtua yang menghabiskan waktu membaca untuk anak-anak mereka memberi mereka awal terbaik di jalan menuju keaksaraan. Banyak studi penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang menunjukkan keterampilan keaksaraan di sekolah adalah mereka yang berasal dari rumah dimana ada buku, dimana orangtua mereka menghabiskan waktu untuk membaca bagi anak-anak mereka dan di mana anak-anak melihat orangtua mereka dan saudara-saudara yang lebih tua terlibat dalam kegiatan membaca. Beberapa cara yang pernah dilakukan dalam upaya meningkatkan minat baca yaitu membaca buku cerita keras, menciptakan lingkungan belajar dengan mendirikan sebuah sudut mini membaca dan diisi dengan bahan bacaan, mengunjungi perpustakaan, toko buku, kado buku sebagai hadiah.

b.   Peran perpustakaan, pustakawan, program perpustakaan yang dianggap masih terlalu langka terutama yang berada di pelosok sana. Perpustakaan merupakan sarana untuk merangsang dan mengembangkan minat baca. Berikut ini adalah beberapa strategi yang perpustakaan dan perpustakaan memainkan peranan penting dalam promosi membaca.

1)  Pustakawan terutama yang bertugas pada Taman Bacaan Masyarakat maupun mereka yang bertugas pada aset lainnya seperti perpustakaan sekolah, daerah dan perusahaan harus membantu mengembangkan antara sikap dan minat terhadap membaca. Sikap yang menyenangkan dan positif dari pembaca harus dikembangkan terlebih dahulu sebelum seseorang dapat secara otomatis membentuk kebiasaan membaca buku

2)  Fungsi utama pustakawan adalah untuk melayani program pendidikan formal maupun informal. Ketika kita berpikir tentang peran pustakawan di pendidikan, kita berpikir tugas utamanya untuk memberikan pelayanan pada yang membutuhkan dan memperlakukan buku. Pustakawan juga sesungguhnya memiliki tanggung jawab dan kesempatan untuk pergi keluar dan memberitahu publik apa yang mereka miliki dalam perpustakaan mereka dan mencari tahu apa yang mereka ingin membaca. Dari hubungan dengan peminat buku ini, lembaga bisa memperbaiki dan terus meningkatkan pemajangan perpustakaan untuk mendorong pembaca berminat dan mencari bahan yang dibutuhkan yang tersedia di perpustakaan yang dikelolanya.

3)  Dalam setiap program perpustakaan yang efektif, pustakawan harus memiliki tanggung jawab tambahan untuk menyediakan kurikulum dan kelengkapan bahan ajar untuk menunjang kurikulum tersebut dan memiliki peran pengajaran aktif. Peran ini harus selalu dikoordinasikan dengan kegiatan pembelajaran yang berlangsung dalam masyarakat seperti halnya. Dengan pengetahuan yang luas tentang bahan dan teknik untuk menggunakan mereka, pustakawan dapat membuat mitra yang kuat dalam perencanaan dan pelaksanaan dari lembaga pendidikan.

4)  Membuat perpustakaan dan taman bacaan menjadi lebih menarik bagi masyarakat.

c.    Bila minat baca seharusnya dijadikan sebagai icon nasional yang berfungsi menunjang kemampuan sumber daya manusia dan membangun perubahan dan peningkatan peradaban dari budaya tutur menjadi budaya baca perlu ditunjang dengan peran media massa Radio, TV, surat kabar dan majalah yang dapat membantu mempromosikan proyek membaca, perpustakaan desa, seminar-lokakarya pelatihan, wawancara otoritas membaca/penulis/tutor dan organisasi yang terlibat dalam kegiatan membaca.

d.   Peran sektor swasta dan pemerintah dalam membantu pengabdi perpustakaan melakukan peningkatan membaca masyarakat. Para  profesional seperti perguruan tinggi atau badan-badan memainkan peran sangat banyak untuk sejenis taman bacaan masyarakat dan jasa melalui kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan atau   kegiatan merangsang kegiatan membaca dan menulis. Hari besar negara dan keagamaan dapat dipergunakan untuk kegiatan merangsang minat membaca dan menulis.

Untuk itu beberapa metode yang dipertimbangkan efektif untuk meningkatkan minat baca pada aksarawan baru yaitu:

a.    Mempromosikan list buku yang dapat diakses oleh pembaca aksarawan baru, dilihat dari jenis, kalitas dan jumlah yang tersedia pada pangkalan baca tertentu. Ketersediaan buku juga ditunjang dengan abstrak dari buku, sehingga para peminta dapat dengan mudah untuk menjelajahi buku mana yang paling dibutuhkan. Buku dan kepustakaan yang tesedia harus selektif diperuntukan bagi pelayanan tertentu.

b.   Terdapat kegiatan dimana membaca dipromosikan pada aksarawan baru. Beberapa contoh yang perlu dipertimbangkan untuk kebijakan pengembangan minat baca yaitu:

1)       Promosi bacaan. Kegiatan bisa dilakukan kerjasama dengan pihak penulis yang secara utuh menampilkan buku bacaan menggunakan media. Kegiatan ini bida dilakukan pada beberapa hari besar yang berhubungan dengan pendidikan dan keaksaraan.

2)       Perlombaan membaca. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kebiasaan membaca di kalangan aksarawan baru dengan menggunakan perpustakaan dianggap sebagai salah satu potensi dalam pembangunan bangsa. Bahan kontes adalah sejumlah buku tentang sastra: prosa dan puisi, dipilih pihak berwenang atau komite yang ada pada wilayah. Peserta kontes diwajibkan untuk mengembangkan dan menyampaikan beberapa ringkasan dari buku yang dibacanya.

3)       Bedah Buku. Strategi hemat biaya rendah dengan kemampuan untuk mencapai pemiarsa yang lebih besar adalah bedah buku. Penyelenggara atau otoritas pada wilayah tertentu bekerjasama dengan pustakawan atau pengelola taman bacaan masyarakat dan forum dapat menetapkan jenis buku yang akan diungkap yang dilankutkan dengan pameran buku.

4)       Upaya untuk membacakan buku. Cara ini mungkin baru tapi bisa dikombinasikan dnegan tanya jawab, penugasan yang berujung pada upaya memotivasi untuk membaca dan menulis.

5)       Pembacaan puisi kreatif. Sebenarnya terdapat potensi lokal yang berhubungan dengan membaca seperti pembacaan hikayat atau wawacan. Pada kesempatan lain pembacaan dapat dipadukan dengan nyanyian dan ritme tertentu sehingga memungkinkan penjiwaan dalam membaca. Upaya untuk menggunakan cerita rakyat sebagai bagian dari peningkatan minat baca perlu lebih dikembangkan ditunjang dengan sastra dan budaya daerah yang mudah difahami masyarakat. Beberapa lagu daerah yang populer untuk wilayah tertentu potensi untuk dijadikan materi pembacaan puisi kreatif.

6)       Buku bergambar. Buku seperti ini dapat menolong aksarawan baru menghayati buku yang dibacanya. Buku bergambar yang paling menarik yang menantang dan membuat masalah. Gambar harus cukup jelas dan tidak memberikan tafsiran yang terlalu berbeda.

7)       Jam Cerita. Kegiatan ini sebenarnya telah menjadi bagian dari siaran lokal. Bila ini dipadukan dnegan pembelajaran bagi aksarawan baru dapat dikembangkan cerita yang akan direspon oleh aksarawan baru dalam bentuk tugas yang akan dibahas di kelas.

8)       Bermain peran bagi Aksarawan Baru. Melalui kemampuan membaca skrip awal, aksarawan baru dapat ditugasi untuk membaca dan memerankan atau simulasi peran bedasarkan penghayatan pada bacaan. Untuk lebih menjiwai pengelola dapat memadukan dengan seting ruangan yang menunjang penghayatan pada bacaan. Bahan yang diangkat dapat diambil dari buku atau bagian dari buku yang berhubungan dengan kehidupan peserta belajar keseharian.

9)       Wayang. Bermain peran dapat dikombinasikan dengan pembuatan wayang atau boneka yang dibuat oleh peserta belajar baik dengan menggunakan tanah liat, batang pohon  atau kertas koran bekas atau wayang dan boneka yang dibuat di pasaran. Presentasi  mereka bisa berdasarkan cerita atau episode tertentu dari sebuah buku. Antara pemeran dan penonton dapat melakukan dialog berdasarkan pada improvisasi masing-masing.

10)  Kompetisi  kuis. Kuis  ini ditujukan untuk mendorong peserta belajar dewasa agar menggunakan nalar yang diperoleh hasil membaca buku pelajaran sambil memperomosikan mereka sendiri. Pemeranan dalam kuis dapat diukur dalam peringkat antara delapan sampai sepuluh terbaik.

11)  Permainan. Beberapa materi yang dibaca dari buku dapat dikembangkan pada pembelajaran yang lebih luas dalam bentuk permainan, menggunakan jigasaws, cardgames  terutama materi yang berhubungan dengan karakter dan jauh lebih menarik.

12)  Promosi buku. Promosi buku dapat sangat berarti bagi pembaca maupun mereka yang memiliki minat membaca, melalui ringkasan yang ada dalam buku,  promosi jenis dan harga buku, jenis dan isi cerita atau dengan memperomosikan naskah-naskah lokal yang belum dicetak yang dapat memberikan rangsangan pada minat baik pada mereka yang membutuhkan peluang membaca maupun untuk ragam kepentingan lainnya

Semua usaha peningkatan minat baca, banyak menyangkut teknis akan tetapi yang lebih penting dari itu adalah sifat dari peningkatan minat baca bukan hanya sekedar teknis akan tetapi kesatuan antara pembelajaran, refleksi dan aplikasi. Semua itu amat tergantung pada hakikat pengembangan minat baca sebagai sebuah layanan.

BAB IV

UPAYA PENINGKATAN PENDIDIKAN

KEAKSARAAN KELUARGA

Setelah melihat kondisi objektif Pendidikan Keaksaraan Keluarga (PKK) menilai kebaikan dan kelemahan, peluang dan tantangan yang ada, pada bagian ini disampaikan upaya yang harus dilakukan dalam meningkatkan kinerja PKK sebagai upaya yang lebih manusiawi dalam mengatasi permasalahan keaksaraan bagi orang dewasa. Seperti diajukan terdahulu pola pikir PKK dalam khasanah pendidikan bagi orang dewasa dan pemuda di Indonesia tidak dapat dipisahkan dengan hakikat PKK sendiri, minat baca, pendidikan keaksaraan usaha mendiri sebagai upaya mendorong kelompok miskin dan menjaga keberlanjutan pembelajaran serta tujuan pendidikan keaksaraan keluarga dalam kaitan dengan pemberdayaan atau lebih sfesifik berkaitan dengan aksara untuk berdaya.

Paparan ini merupakan pertimbangan logis untuk lebih meningkatkan PKK sebagai upaya sistemik pendidikan dan penghampiran warga negara pada bentuk peradaban yang tidak dapat dipisahkan dengan informasi  yang hakikatnya keaksaraan itu sendiri.

A. Rujukan Perbaikan Pendidikan Keaksaraan Keluarga

Terdapat sejumlah rujukan dari PKK berkaitan dengan upaya perbaikan dan peningkatannya. Pendidikan dalam rangka pembelajaran seumur hidup dimulai sejak tahun 1962 dengan dideklarasikan pertemuan Rio de Janeiro mengenai hak melalui tiga ketetapan yaitu hak dasar petani dan nelayan untuk maju maju berkelanjutan dalam kesimbangan dengan lingkungan. Sejak dibuat kesepakatan nampaknya kemiskinan terutama petani dan nelayan masih dalam kondisi stagnan atau bahkan semakin hari semakin bertambah buruk. Jumlah mereka dengan predikat miskin per Agustus 2010 di Indonesia sebanyak 31,02 juta orang (13,33 persen) dan didominasi oleh dua kelompok pekerjaan besar yaitu petani dan nelayan, dengan kefungsian yang tidak diragukan untuk menunjang hajat hidup orang banyak terutama yang berhubungan dengan penyediaan energi, baik yang bersumber dari sandang dan pangan maupun hasil laut.

Konvensi berikutya yaitu pertemuan Jomtien tahun 1990 mengenai pendidikan untuk semua. Penekanannya terletak pada:   promosi  akses dan ekuitas Universal; lebih fokus  pada pembelajaran; perluasan makna  dan ruang lingkup pendidikan dasar; meningkatkan lingkungan untuk belajar; serta memperkuat kemitraan. Nampaknya diskrepansi antara ide dengan kenyataan masih tetap menandai praktik pendidikan untuk semua terutama bagi kelompok yang kurang beruntung. Dari mulai akses dan kesamaan hak, dominasi mengajar dibanding pembelajaran, perluasan makna pendidikan dasar, sampai saat ini masih terbatas pada kemampuan baca tulis dan tidak bergerak dari ketergantungan dan tidak mampu menempatkan sebagai pendidikan dasar yang dan diharapkan mampu untuk melakukan pembelajaran lanjutan. Dalam sisi lain lingkungan belajar yang diharapkan mampu memicu keinginan untuk belajar masih belum bergerak dari pembelajaran klasik yang dianggap menambah beban baru. Hal ini sejalan dengan kemitraan yang tidak bergerak dari pemeranan pendidikan sebagai kareer solo, kendati banyak pihak   setuju bahwa pendidikan adalah kepentingan semua pihak.

Tindak lanjut dari pertemuan Jomtien yaitu pertemuan Dakar tahun 2000 yang menghasilkan obsesi Delor bahwa pendidikan merupakan harta karun, bilamana mampu mewujudkan learning to know, learning to do, learning to live together and learning to be. Dalam kenyataan pendidikan hanya terbatas pada kemampuna kognisi dan amat kurang apresiasi pada pengaruh dari pendidikan terutama dorongan untuk bekerja, hidup rukun dan aplikasi hasil belajar dalam kehidupan. Untuk menegaskan keinginan tersebut ditetapkan keputusan Dakar dalam pokok sebagai berikut:

1.        Memperluas dan meningkatkan pendidikan bagi anak dini usia, terutama mereka yang kurang memiliki peluang dan kurang beruntung;

2.        Menjamin bahwa pada tahun 2015, terutama bagi kelompok perempuan, anak yang berada pada lingkungan yang kurang memadai dan dari kelompok etnis minoritas memiliki peluang untuk menyelesaikan wajib belajar pendidikan dengan kualitas yang baik;

3.        Memberikan jaminan bahwa kebutuhan belajar bagi pemuda dan orang dewasa dapat dipenuhi dengan peluang yang sama untuk mendapatkan pengajaran dan kecakapan yang memadai;

4.        Mencapai 50% perbaikan bagi orang dewasa yang belum melek huruf pada tahun 2015, terutama bagi kelompok perempuan, dan peluang yang sama untuk memperoleh pendidikan dasar dan pendidkan yang berkelanjutan bagi orang dewasa;

5.        Membatasi ketidakadilan gender  untuk pendidikan dasar dan menengah pada tahun 2005 dan mencapai kesetaraan gender pada tahun 2015;

6.        Meningkatkan semua aspek kualitas pendidikan dan menjamin program yang sempurna sehingga hasil pemelajaran dikenal dan dapat diukur dari segi keluarannya bagi semua, terutama yang berhubungan dengan kemelekhurufan, kemampuan menghitung dan life skill

Bila disimak penegasan yang terdapat pada pertemuan Dakar kembali pada masyarakat miskin yang sulit untuk disentuh, baik untuk anak usia dini, pemuda, perempuan maupun bagi orang dewasa yang masih buta huruf dan hidup dalam dunia yang berbeda terutama dalam memanfaatkan kemampuan baca tulis untuk mengikuti perkembangan dan penciptaan ilmu pengetahuan. Budaya tutur yang kurang efisien dalam menciptakan budaya karena ketiadaan dokumen, membuat semua produk pemikiran yang tidak terhingga banyaknya akan hilang pada saat putus mata rantai penutur. Hal ini yang kemudian ditekankan tentang pentingnya keberkualitasan, keterukuran dan penguasaan life skill, termasuk kemampuan keras dan lunak. Kemampuan keras saat ini sangat tergantung pada penggunaan otot sedangkan kemampuan lunak menyertai jenis pekerjaan yang  hanya terbatas pada kefungsian sebagai tukang dan bukan  sebagai manajer maupun employe.

Memang hampir menghadapi kebuntuan menghadapi kenyataan sumber daya yang miskin, seperti ternyata dikeluarkan kembali pada tujuan milenium tahun 2005. Lihat saja penekanannya seperti:

1.        Menghapuskan Kemiskinan dan Kelaparan Ekstrim

2.        Mencapai Pendidikan Dasar Universal

3.        Mempromosikan Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan perempuan

4.        Mengurangi Angka Kematian Anak

5.        Meningkatkan Kesehatan Ibu

6.        Memerangi HIV / AIDS, malaria dan penyakit lainnya.

7.        Memastikan Keberlanjutan Lingkungan.

8.        Mengembangkan Kemitraan Global untuk pembangunan

Untuk menghilangkan kebuntuan dan menghadapi kenyataan pendidikan kejutan (Botkin, 1986) ditandingi dengan pendidikan untuk maju berkelanjutan (education for sustainable development) melalui deklarasi Bonn tahun 2009 yang kemudian dipopulerkan dengan sebutan ESD. Memang pendidikan hampir tidak memiliki makna yang jelas tanpa adanya keberlanjutan. Pokok-pokok yang terdapat pada kesepakatan itu, menekankan mengenai hakikat ESD, kebijakan dan praksis.  Hakikat ESD adalah sebagai berikut:

1.        Pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan adalah menetapkan arah baru untuk pendidikan dan pembelajaran untuk semua

2.        ESD membantu masyarakat untuk menangani prioritas isu-isu yang berbeda antara lain: air, energi, perubahan iklim, bencana dan pengurangan risiko, hilangnya keanekaragaman hayati, krisis pangan, risiko kesehatan, kerentanan sosial dan ketidakamanan. Hal ini penting untuk pengembangan pemikiran ekonomi baru

3.        ESD didasarkan pada nilai-nilai keadilan, pemerataan, toleransi, dan tanggung jawab.

4.        Mempromosikan kesetaraan gender, kohesi sosial dan pengurangan kemiskinan dan menekankan perawatan, integritas dan kejujuran, seperti tertuang dalam Piagam Bumi

5.        ESD menekankan pendekatan kreatif dan kritis, inovasi berpikir panjang, panjang dan pemberdayaan untuk menangani ketidakpastian, dan untuk memecahkan masalah kompleks

6.        Terkait dengan kebutuhan yang berbeda dan kondisi kehidupan nyata orang, ESD memberikan keterampilan untuk mencari solusi dan mengacu pada praktek-praktek dan pengetahuan tertanam dalam budaya lokal sebagai ide-ide baru juga di dan teknologi

Berdasarkan kenyataan ini langkah yang harus diambil terdiri dari kebijakan dan praktis. Pada tingkat kebijakan:

1.        Promosikan ESD yang memiliki kontribusi bagi pendidikan untuk semua dan untuk mencapai kualitas pendidikan

2.        Meningkatkan kesadaran masyarakat dan pemahaman tentang pembangunan berkelanjutan dan ESD

3.        Memobilisasi sumber daya dan pendanaan yang memadai dalam mendukung ESD

4.        Re-orientasi pendidikan dan sistem pelatihan untuk mengatasi masalah kesinambungan melalui kebijakan yang melekat pada tingkat nasional dan lokal

5.        Mengembangkan dan memperkuat kebijakan internasional, suatu mekanisme yang memungkinkan kerjasama regional dan nasional   untuk ESD yang menghormati keragaman budaya

Pada tingkat praktis:

1.        Reorientasi kurikulum dan program pendidikan guru untuk mengintegrasikan ESD ke kedua pre-service dan program in-service

2.        Mendukung penggabungan isu-isu pembangunan berkelanjutan menggunakan pendekatan terpadu dan sistemik dalam pendidikan formal maupun pendidikan non-formal dan informal pada semua tingkatan

3.        Mempromosikan dialog tentang ESD, menghargai dan meningkatkan  relevansi, penelitian dan strategi evaluasi, dan berbagi best practice

4.        Mengembangkan dan memperluas kemitraan ESD untuk mengintegrasikan ESD ke pelatihan, pendidikan kejuruan dan belajar di tempat kerja yang melibatkan sektor masyarakat sipil, publik dan swasta, LSM, dan mitra pembangunan.

5.        Memberikan penghargaan dan kepemilikan pada pemuda

6.        Meningkatkan kontribusi dan peran penting dari masyarakat sipil dalam menstimulasi debat dan partisipasi publik, dan tindakan memulai ESD

7.        Memberikan nilai dan pengakuan kontribusi penting dari sistem pengetahuan tradisional, masyarakat adat dan lokal untuk ESD dan kontribusi nilai budaya yang berbeda dalam mempromosikan ESD

8.        Mempromosikan secara aktif kesetaraan gender

9.        Mengembangkan pengetahuan melalui jaringan ESD

10.    Mendorong dan meningkatkan keunggulan ilmiah, penelitian dan pengembangan pengetahuan baru untuk ESD melalui keterlibatan lembaga-lembaga pendidikan tinggi dan jaringan penelitian di ESD

11.    Mengembangkan mekanisme kelembagaan

12.    Melibatkan keahlian

13.    Meningkatkan upaya dalam sistem pendidikan dan pelatihan untuk mengatasi tantangan keberlanjutan kritis dan mendesak seperti perubahan iklim, air dan ketahanan pangan dengan mengembangkan rencana tindakan tertentu dan/atau program dalam payung dan kerangka kemitraan

Memperhatikan langkah yang perlu dilakukan baik yang berhubungan dengan tingkatan kebijakan maupun dari sisi praksis, menunjukkan mengenai perlunya penanganan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan ditata. Pada sisi lain juga menujukkan betapa seriusnya konsep ini sebagai tanggapan pada pendidikan saat ini yang sangat terbatas pada kegiatan yang berlangsung di permukaan terbukti tidak sukup berartinya lulusan pendidikan tinggi sekalipun dalam meningkatkan kinerja hasil pendidikan dan terbukti lebih memilih menganggur. Hal ini pun tidak terkecuali untuk pendidikan keaksaraan yang perlu ditata lagi agar hasil pendidikan memberikan efek berkelanjutan baik untuk mengembangkan pengetahuan maupun penghidupan yang lebih baik dari peserta belajar.

B. Peningkatan Pendidikan Keaksaraan Keluarga

Sepanjang sejarah, keluarga telah menjadi sumber kekuatan utama belajar. Sebelum diberikan mandat pembelajaran kepada sekolah, anak-anak diajar di rumah oleh orang tuanya, saudara yang lebih tua, kakek-nenek, dan/atau kerabat lainnya. Dengan diperkenalkannya sekolah, sejumlah pengajaran nilai-nilai, praktek budaya, dan keterampilan seperti memasak, menjahit, pertanian dan perburuan masih diajarkan oleh keluarga. Saat ini pun, meskipun masyarakat luas dan menjamurnya sistem pendidikan sekolah, beberapa orang tua masih tetap memilih untuk mengajar anak-anak mereka di rumah, dengan keyakinan bahwa pembelajaran dalam lingkungan keluarga adalah cara terbaik untuk memastikan hasrat mengajar pada anak mereka.

Lembaga sosial seperti halnya Pendidikan Keaksaraan Keluarga, telah menunjukkan fungsinya sebagai tempat utama belajar, menyediakan sarana, pelatihan dan bantuan kepada keluarga untuk mempromosikan keaksaraan. Keluarga telah berkiprah sebagai tempat pilihan pengembangan melek huruf dan mengambil inisiatif keaksaraan keluarga yang mencerminkan penghormatan terhadap keluarga sebagai situs pembelajaran.

Pengajaran keaksaraan dalam konteks keluarga dan bermanfaat bagi anggota keluarga adalah sebuah pendekatan digambarkan oleh Auerbach (1989), yang berpendapat bahwa praktek-praktek budaya dan sosial dari sebuah keluarga adalah pertimbangan utama dalam pengembangan program keaksaraan keluarga. Model sosio-kontekstual Auerbach yang digunakan sesuai dengan pembelajaran kontekstual dan pendekatan belajar untuk perkembangan ilmu pengetahuan. Pendekatan ini didasarkan pada proposisi bahwa siswa belajar terbaik ketika belajar bermakna bagi mereka dan berada dalam konteks lingkungan sosial mereka. Model ini mengakui demikian relevannya untuk membawa konsep keaksaraan kelingkungan keluarga dan rumah. Model juga melihat  kontribusi positif dari anggota keluarga dengan pertimbangan pengaruh nilai-nilai dan praktek budaya terhadap pengembangan keaksaraan.

Konsep keaksaraan keluarga memiliki perbedaan dengan yang berlangsung pada lingkungan sekolah. Pendidikan keaksaraan keluarga diarahkan kepada orang-orang dari kelompok miskin, minoritas, dan/atau keluarga imigran yang memiliki kekurang-mampuan dalam keaksaraan. Program  ini mengasumsikan bahwa individu-individu ini memiliki kesulitan karenanya membutuhkan model keaksaraan yang dapat diterima untuk keluarga. Mengacu pada asumsi ini menuntut pendidik untuk mendefinisikan kembali hubungan keaksaraan dengan kemiskinan dan status sosial ekonomi dan  mengakui potensi yang dimiliki keluarga  misalnya  bahasa, beberapa pendekatan keaksaraan, dan kemampuan untuk  menjadikan kehidupan mereka sebagai bahan pembelajaran .

Walaupun kemampuan dalam melaksanakan pendidikan tidak seperti yang berlangsung pada sekolah dan tidak mendapatkan penghargaan yang sama, terdapat cara-cara dimana semua orang tua memberikan kontribusi keaksaraan dan kesadaran kontribusi tersebut  terjadi jika orang tua terlibat dalam pengalaman keaksaraan yang diaplikasikan secara  bermakna dalam kehidupan mereka. Program ini dirancang dengan cara melibatkan semua pihak dalam keluarga dalam mengembangkan keaksaraan melalui berbagi pengalaman kehidupan nyata (Griswold dan Ullman 1997). Konsep ini berkembang melalui kemitraan antara sekolah  dengan keluarga, dan berbagi cara sebagai sarana meningkatkan membaca, menulis, dan berbicara. Karena kedekatan sosial ini beberapa peserta menyiapkan hidangan yang mereka bawa untuk dicicipi anggota keluarga lain; beberapa lagi membawa resep yang ditulis bersama hidangan populer yang disajikan bersamaan dengan kenangan mengenai makanan tersebut; dan beberapa menceritakan asal usul makanan mereka berasal. Dengan cara ini merupakan alat yang ampuh untuk meningkatkan pengetahuan dan melek huruf dari semua peserta dan merupakan contoh dari pembelajaran kontekstual di lingkungan masyarakat.

Komunikasi tentang pengalaman pribadi juga merupakan bagian pembelajaran sesama komunitas pekerja miskin. Peserta dalam kegiatan program didorong untuk mendiskusikan pengalaman pendidikan mereka dan untuk menjelaskan beberapa cara di mana mereka membantu anak-anak mereka dalam keaksaraan keaksaraan. Dengan menyoroti kesamaan antara pengalaman dan praktek pembelajaran yang telah mereka alami, maka pembelajaran menjadi tidak seseram seperti yang dibayangkan.

C. Keragaman Program dalam Pendidikan Keaksaraan Keluarga

Dalam PKK dikenal bahwa ibu adalah sosok yang paling penting dalam pendidikan keluarga. Selama ini perhatian lebih banyak tercurah pada hubungan satu arah dari ibu kepada anak, dan kurang memberdayakan dari proses dimana terdapat potensi sosial psikologis yang belum dimanfatkan dalam meningkatkan makna pendidikan keaksaraan keluarga. Selama ini masih dinilai kurang diberdayakan hubungan yang dapat dikembngkan dalam pembelajaran sesama orang dewasa maupun sesama saudara seperti yang berkembang selama ini pada berbagai budaya masyarakat.

Studi yang dilakukan Puchner (1997) melihat potensi dalam pembelajaran bahasa Inggris imigran Asia Tenggara di Amerika Serikat, dimana pembelajaran keaksaraan dan berbahasa Inggris dilakukan antara sesama saudara karena kemampuan orang tua  terbatas dalam membantu anak-anak mereka. Orang tua yang memiliki keterbatasan kemampuan bahasa Inggris, misalnya  sering kurang percaya diri dalam kemampuan mereka untuk berpartisipasi dalam program keaksaraan keluarga. Dalam hal ini tutor keaksaraan, telah berkontribusi pada peningkatan kesadaran orang tua dalam pendidikan keaksaraan dengan cara menyediakan  waktu dan tempat bagi anak-anak mereka untuk melakukan pekerjaan rumah dan/atau dengan mengamati dan memberikan perhatian pada anggota keluarga dan anak yang lebih besar untuk membimbing kelompok yang lebih kecil dalam mengerjakan kegiatan PR. Karena kesadaran akan kemampuan orang tua dalam memfasilitasi pengembangan keaksaraan yang demikian berharga, kepercayaan pada diri sendiri meningkat dan berpendapat tidak sepatutnya memberkan kepercayaan yang berlebihan kepada pihak lain dalam melakukan pendidikan pada anak-anak mereka.

Variasi lain yang berkembang pada keluarga dengan tingkat melek huruf yang rendah dapat dilakukan dengan cara yang relatif baru, dengan bantuan tutor seorang ayah dapat menceritrakan pengalaman dalam pekerjaannya dan direkaman dalam tape recorder. Selanjutnya istrinya diminta untuk mendengarkan rekaman dan menulis di atas kertas kata-kata yang telah dicatat sehingga ia bisa membacanya kembali kepada suaminya. Pada kesempatan lain tutor kunjung dapat membawa buku bergambar ke rumah untuk ayah dan anak untuk melihat sementara ia menceritakan  kisah yang ada dalam buku bergambar. Contoh ini menggambarkan tiga aspek pendekatan pendidikan keaksaraan yaitu: (1) makna pendidikan keaksaraan untuk tujuan dan aspek yang lebih luas, (2) pengalaman belajar dapat mendorong kemampuan belajar, dan (3) belajar dapat dilakukan dengan cara yang tidak langsung.

Dari aspek sosial psikologis PKK yaitu sebuah program yang intensif dalam waktu dan upaya perubahan yang berkelanjutan dalam keluarga dengan mengintegrasikan kekuatan-kekuatan.

1. Simak

Membaca  fonetik,

a.    Kegiatan keaksaraan interaktif antara orang tua dan anak-anak mereka;

b.   Pelatihan bagi orang tua tentang bagaimana menjadi guru utama  dan mitra penuh dalam pendidikan anak-anak mereka;

c.    Keaksaraan sebagai pangkal pelatihan yang mengarah pada kecukupan ekonomi

d.   Sebuah pendidikan usia yang tepat untuk mempersiapkan anak-anak untuk sukses di sekolah dan kehidupan.

Pendidikan Keaksaraan Keluarga sebuah program dengan cara menyediakan dukungan jangka panjang untuk seluruh keluarga untuk mengembangkan keterampilan membaca dan bekerja sesuai dengan tujuan pendidikan. Keaksaraan keluarga berangkat dari proposisi bahwa semua anggota keluarga memiliki kekuatan. Tutor kunjung bermitra dengan keluarga untuk mempromosikan konsep pendidikan partisipatif diantara orang dewasa dan anak-anak. Layanan budaya yang relevan dikembngkan, dan keluarga dihormati karena kedalaman dan kekayaan pengalaman hidup mereka. Kemitraan melalui keluarga mempromosikan keaksaraan sebagai sesuatu yang bermakna bagi keluarga maupun sekolah. Program  tersebut dapat dianggap sebagai strategi yang efektif untuk menghindarkan kesenjangan prestasi yang terjadi bagi keluarga berpenghasilan rendah.

Program keaksaraan keluarga dibangun berdasar pada prinsip-prinsip berikut:

a.    Menghargai makna pendidikan sebagai cara  untuk sukses dalam kehidupan;

b.   Peran sentral dari orang tua dalam perkembangan anak;

c.    Identifikasi kekuatan individu, dan

d.   Nilai belajar dalam kehidupan.

2. Makna dan Upaya Peningkatan PKK

Anak yang sukses dalam pendidikan dan kehidupan sangat dipengaruhi oleh pendidikan orang tua, situasi ekonomi keluarga, di mana mereka tinggal, dan keutuhan orang tua. PKK memiliki nilai folosofis bahwa keaksaraan keluarga memiliki pengaruh yang kuat bagi kemajuan anak dan masa depan mereka. Keterlibatan orangtua adalah betuk kemitraan yang akan memberikan dampak pada pendidikan anak mereka. PKK juga melibatkan secara penuh anggota keluarga dalam mendorong keberhasilan pendidikan anak dan keluarga. Selanjutnya, melalui PKK keluarga akan mendorong anggota keluarga untuk memperleh pekerjaan dan berhasil dalam pekerjaan mereka dan serta merta mengembangkan keaksaraan dalam lingkungan kerja mereka. Dengan terjaminnya pekerjaan maka kesetabilan dalam keluarga dan menjamin kesejahteran yang lebih langgeng bagi keluarga.

PKK umumnya berlangsung pada masyarakat yang memiliki visi keunggulan bagi anggota keluarga. Karenanya PKK mandapat dukungan penuh dari sekolah, organisasi nirlaba, perguruan tinggi, dan perpustakaan. Model pendidikan antargenerasi dapat ditemukan di semua negara, dari desa ke metropolitan, dimana pelayanan keaksaraan dapat dilihat sebagai upaya puncak dari pendidikan masyarakat secara keseluruhan. PKK ditujukan pada mereka yang paling membutuhkan layanan keaksaraan. Indikator kelompok ini yaitu:

a.    Tingkat pendapatan rendah;

b.   Tingkat melek huruf rendah, dan / atau

c.    Terbatas kemampuan bahasa di luar bahasa ibu.

Seringkali, keluarga tidak mungkin memiliki akses pada layanan PKK karena tidak mampu mengakomodasinya. Karena biaya dan aksesibilitas dapat menimbulkan hambatan untuk berpartisipasi, karenanya penting untuk mempertimbangkan lokasi dan sumber daya yang tersedia ketika melaksanakan PKK. Terdapat PKK yang berhasil karena ditunjang aksesibilitas dan kedekatan lokasi dimana orang hidup dan bersosialisasi. Berdasarkan pertimbangan ini terdapat sejumlah prasarat untuk keberhasilan PKK, yaitu:

a.    Pentingnya kolaborasi dalam pendidikan keaksaraan keluarga.

b.   Pastikan untuk mengidentifikasi lembaga-lembaga di komunitas yang berkomitmen untuk menyediakan layanan berbasis kekuatan keluarga. Badan-badan ini mungkin sudah mendukung satu atau lebih dari komponen keaksaraan keluarga melalui pekerjaan mereka.

c.    Mulailah mengeksplorasi cara-cara terbaik yang ditujukan pada kemanfaatan keluarga melalui layanan bersama atau sebuah sistem lintas kepentingan. Sebuah program keaksaraan keluarga harus menekankan pada layanan berkualitas tinggi dalam masyarakat.

d.   Untuk memastikan bahwa pelayanan pendidikan sempurna bagi keluarga lembaga yang diajak berkolaborasi adalah mitra aktif dalam PKK.

e.    Keluarga sebagai pemangku kepentingan utama selama proses PKK harus sejak awal diminta masukan dan harus secara aktif memberikan layanan yang diperlukan, kolaborator potensial, dan perekrutan tenaga pendaping yang ada dalam masyarakat.

Selain dari itu dibutuhkan sejumlah penunjang yang akan memberikan dampak pada keberhasilan PKK yaitu:

a.    Lembaga sosial yang bergerak dalam memfasilitasi, pengembangan populasi etnis miskin;

b.   Lembaga yang mengembangkan bahan ajar yang diperuntukan bagi PKK, novel dan suasana pembelajaran yang menarik, dan mengembangkan kesadaran tentang buta huruf pentingnya belajar seumur hidup, meningkatkan motif belajar mereka, memperbaiki hidup mereka dan kemampuan meningkatkan kehidupan.

c.    Lembaga yang giat dalam melakukan percobaan, dan membuat kebijakan terutama dalam mengembangkan visi pendidikan keaksaraan dan mengembangkan pendidikan untuk populasi etnis miskin di daerah pedesaan;

d.   Instansi atau lembaga yang membuat buku pelajaran model pendidikan keaksaraan keluarga dan bahan bacaan pelengkap yang berorientasi pada pertimbangan psikologis dan kebutuhan mereka dalam kehidupan sehari-hari dan bekerja untuk kelompok etnis, meningkatkan fungsi organisasi pendidikan, proses pengajaran dan metode pengajaran pendidikan keaksaraan dan mencari cara untuk mengarahkan prinsip-prinsip dan metode untuk meningkatkan kualitas pengajaran keaksaraan kelompok  etnis dan komunitas tertentu;

e.    Lembaga yang mengembangkan penelitian untuk membangun suatu sistem evaluasi indikator yang efektif untuk keaksaraan dan pendidikan pasca-keaksaraan bagi komunitas tertentu terutama di daerah pedesaan.

PKK banyak sekali mensiratkan kelompok miskin, sehingga dalam beberapa hal perlu mendapatkan penjelasan dari sisi sosial dan psikologisnya. Kemiskinan dapat dijelaskan dalam berbagai aspek seperti  alasan sejarah, geografi dan lingkungan yang tidak bersahabat, kelemahan dalam budaya dan tradisi, keterbelakangan dalam nilai dan ideologi, aplikasi ilmu pengetahuan dan teknologi yang tertinggal, dll. Secara umum alasan utama adalah pendidikan yang tidak efisien dan akibatnya kualitas tidak memuaskan dan produktivitas dari pendidikan kurnag terukur. Semua ini berlangsung seperti lingkaran setan  proses kemiskinan. Hubungan sistemik yang menyelimuti mereka melemahkan ambisi mereka, rendahnya kepercayaan diri dan keterampilan untuk meningkatkan kondisi kehidupan, yang pada gilirannya menyebabkan kemiskinan atau semakin menurunkan tingkat kemiskinan mereka. Sementara itu, pengaruh dari pendidikan tidak terlalu memberkan kontribusi pada kehidupan mereka. Dalam era ekonomi berbasis pengetahuan, variabel yang menentukan kecepatan pembangunan ekonomi dan sosial untuk negara atau daerah adalah manusia terdidik sebagai sumber daya yang memadai kuantitas dan kualitasnya serta angkatan kerja yang produktif yang mampu memanfaatkan sumber daya alam dan kelembagaan. Akibatnya, pembangunan ekonomi dan sosial termasuk pengentasan kemiskinan tergantungpada pemberdayaan kemampuan produksi/menghasilkan barang dan jasa melalui pendidikan.Bagaimana memahami kemiskinan? Kemiskinan biasanya terkait dengan kelaparan, kekurangan pangan, miskinkebersihan, tempat tinggal yang buruk, dll. Bank Dunia dan UNESCO juga mendefinisikan kemiskinan dari perspektif ekonomi. Kita begitu terbiasa untuk melihat ke dalam kemiskinan dalam arti ekonomibahwa kita cenderung melihat fenomena kemiskinan daripada studi penyebab maupun implisitdan eksplisit. Bahkan, kemiskinan harus dilihat dari multi-dimensi, yaitu, ideologis dan kemiskinan intelektual selain satu tidak akurat dan tidak lengkap yang berkaitan dengan ekonomi, yang menjadi inti dari pemahaman kita. Kemiskinan  ideologi terdiri dari beberapa variasi seperti cara berpikir yang tidak memadai, kurangnya semangat modern, kesadaran pada kewirausahaan dan daya saing. Kemiskinan intelektual ditunjukkan kurangnya dasar pengetahuan yang diperlukan bagi warga untuk hidup produktif, bagi diri maupun kegiatan sosial.

Strategi yang diambil dalam mengurangi kemiskinan. Terdapat sejumlah strategi yang sangat jitu dalam mengurangi kemiskinan, antara lain:

a.    Peran sentral dari pemerintah daerah. Peningkatan pendidikan didalamnya pendidikan keaksaraan dan pengentasan kemiskinan adalah tanggungjawab utama pemerintah di tingkat lokal. Tanggungjawab ini harus merata dari mulai pucuk pimpinan pemerintah daerah sampai ke pemerintah desa. Pemerintah daerah bertanggungjawab dalam memfasilitasi ruangan belajar, fasilitas, gaji guru, dll. Pemerintah harus meningkatkan upaya dalam meningkatkan investasi untuk pengentasan kemiskinan.

b.   Peran kelompok peneliti proyek yang utamanya berasal dari perguruan tinggi dan tenaga profesi lainnya. Sekelompok peneliti proyek dibentuk. Kelompok ini bertemu secara teratur untuk membahas masalah dalam pelaksanaan proyek dan menemukan solusi dalam mengatasi kemiskinan. Anggota kelompok ini bertanggung jawab terutama untuk penggalangan dana melalui berbagai cara untuk tujuan melakukan penelitian, mengorganisir seminar tentang tugas-tugas eksperimental tertentu, membuat tugas-tugas yang jelas untuk setiap subproyek  dan menugaskan  individu untuk penelitian tertentu, memiliki bengkel lokal kecil tentang tugas-tugas penelitian tertentu, membimbing dan berpartisipasi dalam menulis dan mencetak buku teks melek pendidikan atau bahan bacaan, koordinasi berbagai pihak dan memobilisasi sumber daya lokal untuk mendukung proyek, pelatihan pelatih dan guru yang terlibat dalam proyek.

c.    Koordinasi dari semua sektor masyarakat untuk kampanye dalam pengentasan kemiskinan. Pengentasan kemiskinan adalah rekayasa sistematis yang membutuhkan partisipasi dari semua sektor sosial lainnya selain pendidikan. Penduduk miskin terjebak dalam kesakitan, pegunungan, berbatu, gurun, dataran tinggi yang dingin dan dilanda epidemi dan kekurangan air, dengan infrastruktur yang buruk. Pemerintah  setempat harus menerapkan kebijakan yang komprehensif mendorong partisipasi sosial bagi pengentasan kemiskinan di daerah-daerah. Pemerintah tidak hanya terlibat dalam pembuatan kebijakan yang relevan dan investasi tetapi mengembangkan organisasi bagi masyarakat, LSM dan individu didalamnya. Beberapa usaha transdepartmental dilakukan dengan menggabungkan upaya tiap cabang yang bergerak dalam pemerintahan di bidang pertanian, peternakan, kehutanan, pertanian dengan produk pengolahan, infrastruktur, penelitian, promosi dan penerapan teknologi, kesehatan, lingkungan pendidikan, dll. Pemerintah daerah berfungsi sangat penting dalam melakukan koordinasi melalui kegiatan akses yang tepat terhadap sumber daya dalam bentuk tenaga dan dana bagi masyarakat yang kurang beruntung.

d.   Integrasi PKK di pedesaan dan proyek pengentasan kemiskinan. Sebagai dasar untuk pendidikan orang dewasa, promosi langsung keaksaraan harus melayani kemampuan produksi dan hidup orang dewasa pedesaan, sebagai proyek yang berkelanjutan.  Hal ini baru dapat dikatakan menarik dan bermanfaat bagi kelompok yang kurang beruntung manakala dikombinasikan dengan teknik praktis dan relevan dalam bidang kerajinan dan pertanian atau kegiatan ekonomi lainnya. Dengan  demikian PKK tidak hanya membatasi pada kemampuan membaca, menulis dan dan berhitung berdasarkan belajar mandiri, tetapi juga terpadu dengan pendidikan kewarganegaraan, produksi dan hidup, sanitasi, lingkungan;   tetapi difasilitasi juga pendidikan perempuan, misalnya, pendidikan keluwesan dan kemandirian, kebersihan dan perawatan anak dan ekonomi keluarga.  Pada masyarakat dengan tingkat kemajuan sosial ekonomi rendah, materi tambahan seperti budaya etnik dan tradisi dapat dimasukkan ke dalam pendidikan secara sukarela. Dengan cara ini PKK akan semakin dapat memotivasi dan pada  gilirannya dapat meningkatkan kualitas kegiatan literasi dan mempercepat proses pengentasan kemiskinan di daerah tertinggal.

e.    Rendahnya pengetahuan mendorong komunitas untuk berpikir tidak rasional seperti kepercayaan yang berlebihan pada nasib dan takhayul, karena kurangnya kurangnya informasi dan kegiatan budaya. Melalui PKK sangat bermanfaat dalam memberikan pemahaman pada masyarakat pedesaan, terutama dalam mengentaskan kemiskinan di daerah-daerah. Secara umum  pengembangan bahan PKK diperlukan untuk: a) pengambilan kebijakan negara dalam bentuk pengembangan tujuan dan prinsip-prinsip, seperti halnya penekanan pendidikan literasi dalam mengurangi tingkat kemiskinan. b) bahan belajar yang praktis misalnya sekitar masalah yang dihadapi oleh penduduk yang kurang beruntung, misalnya masalah air minum,wc, kandang ternak dan lain-lain; c) untuk mengeksplorasi variasi dalam format bahan ajar  keaksaraanseperti buku, booklet, leaflet, buku bergambar, poster, bahan audio-visual, dan lain-lain.

D. Minat Baca, Motivasi Internal Pendidikan Keaksaraan Keluarga

Membaca sangat penting bagi setiap orang dalam rangka mengatasi kesenjangan pada pengetahuan baru dan perubahan zaman. Penting dan keharusan membaca diharapkan akan terus meningkat dari tahun-tahun. Namun, jumlah mereka yang tahu bagaimana membaca tetapi tidak memanfaatkan potensi ini juga meningkat. Masih banyak orang  muda dan tua, yang tidak bisa mendapatkan akses pada kegiatan membaca dan program membaca di semua orang dan beberapa yang mampu membaca tidak mendapatkan akses pada program membaca serta kurangnya mendapatkan kepuasan dari membaca. Kelompok keaksaraan tidak memiliki banyak minat awal dan kemanfaatan serta pemeliharaan dari kemampuan membaca. Kebiasaan membaca harus dibangun dan dipromosikan  sepanjang kehidupan minat baca tidak terlepas dari kampanye keaksaraan yang luas, dalam arti mengajar orang untuk menulis dan membaca dan menjadikan minat baca sebagai upaya memelihara keberlanjutan dari pembeajaran. Yang menjadi persoalan bagi pembaca pemula bagaimana lebih memanfaatkan bahan bacaan dan minat baca sebagai bagian dari kepribadian pribadi dan sosial mereka. Untuk meningkatkan kecintaan pada minat baca peran pemerintan, nonpemerintah, perpustakaan, sekolah dan keluarga adalah sangat penting bagi kerjasama untuk mempromosikan kebiasaan membaca

Untuk memberikan solusi pada peningkatan minat baca akan diuraikan faktor yang mempengaruhi minat baca, peran kelembagaan dalam menunjang minat baca, serta upaya meningkatkan minat baca.

Berdasarkan hasil pengamatan pada satuan belajar yang diteliti terdapat tiga faktor utama   yang   menghambat promosi membaca, diantaranya: pertama, kebiasaan yang didominasi budaya mendengarkan atau tutur. Kelompok pembelajar awal khususnya hanya menekankan pada kemampuan untuk melafalkan kembali, seperti dramatisasi, membaca animasi atau bahkan demonstrasi. Penggunaan metode yang lebih didominasi penuturan ini karena buku-buku tidak begitu tersedia. Kebiasaan yang merupakan budaya warisan menjadi kebiasaan dan menjadi penghalang utama  untuk meningkatkan kebiasaan membaca dari generasi ke generasi. Singkatnya, pada saat ini  masyarakat   masih bergantung informasi dari mulut kemulut dan bukan bahan tertulis. Kedua, pengelolaan pusat kegiatan belajar masyarakat yang didalamnya terdapat taman bacaan masyarakat yang berfungsi menampung aspirasi dan minat baca yang menyangkut sumber daya, keuangan dan bahan bacaan belum tersedia dengan memadai. Perpustakaan yang telah dianggap representatif berada jauh di luar wilayah tempat tinggal warga belajar, dan untuk mencapainya dibutuhkan waktu dan kesiapan mental. Kendati terdapat beberapa sumber bacaan seperti yang ada di sekolah dan kantor tertentu, selain tidak diperuntukkan bagi pembaca pemula, sumber daya manusia tidak memiliki kesiapan untuk menjadi fasilitator bagi pembaca pemula dewasa. Selain itu jumlah dan keragaman buku yang bisa melayani pembaca pemula masih sangat terbatas. Ketiga, terdapat media tandingan terutama televisi yang menyajikan program yang ditata berbasis pada penataan media jarum hipodermis, dimana penonton tanpa reserve tunduk pada tampilan yang desuguhkan dengan sedikit nsekali nilai nalar yang dipergunakan terutama untuk sesi iklan. Kenyataan ini yang telah menghinggapi semua golongan penduduk, tua muda.

Untuk mendongkrak minat baca sebagai bentuk tindak lanjut dan pemeliharan pembelajaran yang berkelanjutan dari aksarawan dewasa baru dibutuhkan dukungan tokoh dan lembaga yang akan mendukung kinerja perpustakaan dan rumah baca lain yang ada pada lingkup aksarawan dewasa baru. Kesulitan baru yang diarasakan sangat mengganggu yaitu kerjasama dan jaringan diantara aktor pendukung minat baca. Mereka yang memiliki andil dalam upaya memelihara kemampuan baru dalam membaca yaitu:

1.        Keluarga. Orang tua jelas agen sosialisasi penting. Orangtua yang menghabiskan waktu membaca untuk anak-anak mereka memberi mereka awal terbaik di jalan menuju keaksaraan. Banyak studi penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang menunjukkan keterampilan keaksaraan di sekolah adalah mereka yang berasal dari rumah di mana ada buku, di mana orangtua mereka menghabiskan waktu untuk membaca bagi anak-anak mereka dan di mana anak-anak melihat orangtua mereka dan saudara-saudara yang lebih tua terlibat dalam kegiatan membaca. Beberapa cara yang pernah dilakukan dalam upaya meningkatkan minat baca yaitu membaca buku cerita keras, menciptakan lingkungan belajar dengan mendirikan sebuah sudut mini membaca dan diisi dengan bahan bacaan, mengunjungi perpustakaan, toko buku, kado buku sebagai hadiah.

2.        Peran perpustakaan, pustakawan, program perpustakaan yang dianggap masih terlalu langka terutama yang berada di pelosok sana. Perpustakaan merupakan sarana untuk merangsang dan mengembangkan minat baca. Berikut ini adalah beberapa strategi yang perpustakaan dan perpustakaan memainkan peranan penting dalam promosi membaca.

a.    Pustakawan terutama yang bertugas pada Taman bacaan masyarakat maupun mereka yang bertugas pada aset lainnya seperti perpustakaan sekolah, daerah dan perusahaan harus membantu mengembangkan antara sikap dan minat terhadap membaca. Sikap yang menyenangkan dan positif dari pembaca harus dikembangkan terlebih dahulu sebelum seseorang dapat secara otomatis membentuk kebiasaan membaca buku

b.   Fungsi utama pustakawan adalah untuk melayani program pendidikan formal maupun informal. Ketika kita berpikir tentang peran pustakawan di pendidikan, kita berpikir tugas utamanya untuk memberikan pelayanan pada yang membutuhkan dan memperlakukan buku. Pustakawan juga sesungguhnya memiliki tanggung jawab dan kesempatan untuk pergi keluar dan memberitahu publik apa yang mereka miliki dalam perpustakaan mereka dan mencari tahu apa yang mereka ingin membaca. Dari hubungan dengan peminat buku ini, lembaga bisa memperbaiki dan terus meningkatkan pemajangan perpustakaan untuk mendorong pembaca berminat dan mencari bahan yang dibutuhkan yang tersedia di perpustakaan yang dikelolanya.

c.    Dalam setiap program perpustakaan yang efektif, pustakawan harus memiliki tanggung jawab tambahan untuk menyediakan kurikulum dan kelengkapan bahan ajar untuk menunjang kurikulum tersebut dan memiliki peran pengajaran aktif. Peran ini harus selalu dikoordinasikan dengan kegiatan pembelajaran yang berlangsung dalam masyarakat seperti halnya. Dengan pengetahuan yang luas tentang bahan dan teknik untuk menggunakan mereka, pustakawan dapat membuat mitra yang kuat dalam perencanaan dan pelaksanaan dari lembaga pendidikan.

d.   Membuat perpustakaan dan taman bacaan menjadi lebih menarik bagi masyarakat.

3.        Bila minat baca dijadikan sebagai icon nasional yang berfungsi menunjang kemampuan sumber daya manusia dan membangun perubahan dan peningkatan peradaban dari budaya tutur menjadi budaya baca perlu ditunjang dengan peran media massa Radio, TV, surat kabar dan majalah yang dapat membantu mempromosikan proyek membaca, perpustakaan desa, seminar-lokakarya pelatihan, wawancara otoritas membaca/penulis/tutor dan organisasi yang terlibat dalam kegiatan membaca.

4.        Peran sektor swasta dan pemerintah dalam membantu pengabdi perpustakaan melakukan peningkatan membaca masyarakat. Para  profesional seperti perguuran tinggi atau badan-badan memainkan banyak untuk sejenis taman bacaan masyarakat dan jasa melalui kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan atau kegiatan merangsang kegiatan membaca dan menulis. Hari besar negara dan keagamaan dapat dipergunakan untuk kegiatan merangsang minat membaca dan menulis.

Untuk itu beberapa metode yang dipertimbangkan efektif untuk meningkatkan minat baca pada aksarawan baru yaitu:

1.        Mempromosikan list buku yang dapat diakses oleh pembaca aksarawan baru, dilihat dari jenis, kalitas dan jumlah yang tersedia pada pangkalan baca tertentu. Ketersediaan buku juga ditunjang dengan abstrak dari buku, sehingga para peminta dapat dengan mudah untuk menjelajahi buku mana yang paling dibutuhkan. Buku dan kepustakaan yang tesedia harus selektif diperuntukan bagi pelayanan tertentu.

2.        Terdapat kegiatan dimana membaca dipromosikan pada aksarawan baru. Beberapa contoh yang perlu dipertimbangkan untuk kebijakan pengembangan minat baca yaitu:

a.    Promosi bacaan. Kegiatan bisa dilakukan kerjasama dengan pihak penulis yang secara utuh menampilkan buku bacaan menggunakan media. Kegiatan ini bida dilakukan pada beberapa hari besar yang berhubungan dengan pendidikan dan keaksaraan.

b.   Perlombaan membaca. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kebiasaan membaca di kalangan aksarawan baru dengan menggunakan perpustakaan dianggap sebagai salah satu potensi dalam pembangunan bangsa. Bahan kontes adalah sejumlah buku tentang sastra: prosa dan puisi, dipilih pihak berwenang atau komite yang ada pada wilayah. Peserta kontes diwajibkan untuk mengembangkan dan menyampaikan beberapa ringkasan dari buku yang dibacanya.

c.    Bedah Buku. Strategi hemat biaya rendah dengan kemampuan untuk mencapai pemiarsa yang lebih besar adalah bedah buku. Penyelenggara atau otoritas pada wilayah tertentu bekerjasama dengan pustakawan atau pengelola taman bacaan masyarakat dan forum dapat menetapkan jenis buku yang akan diungkap yang dilankutkan dengan pameran buku.

d.   Upaya untuk membacakan buku. Cara ini mungkin baru tapi bisa dikombinasikan dnegan tanya jawab, penugasan yang berujung pada upaya memotivasi untuk membaca dan menulis.

e.    Pembacaan puisi kreatif. Sebenarnya terdapat potensi lokal yang berhubungan dengan membaca seperti pembacaan hikayat atau wawacan. Pada kesempatan lain pembacaan dapat dipadukan dengan nyanyian dan ritme tertentu sehingga memungkinkan penjiwaan dalam membaca. Upaya untuk menggunakan cerita rakyat sebagai bagian dari peningkatan minat baca perlu lebih dikembangkan ditunjang dengan sastra dan budaya daerah yang mudah difahami masyarakat. Beberapa lagu daerah yang populer untuk wilayah tertentu potensi untuk dijadikan materi pembacaan puisi kreatif.

f.     Buku bergambar. Buku seperti ini dapat menolong aksarawan baru menghayati buku yang dibacanya. Buku bergambar yang paling menarik yang menantang dan membuat masalah. Gambar harus cukup jelas dan tidak memberikan tafsiran yang terlalu berbeda.

g.    Jam Cerita. Kegiatan ini sebenarnya telah menjadi bagian dari siaran lokal. Bila ini dipadukan dnegan pembelajaran bagi aksarawan baru dapat dikembangkan cerita yang akan direspon oleh aksarawan baru dalam bentuk tugas yang akan dibahas di kelas.

3.        Bermain peran bagi Aksarawan Baru. Melalui kemampuan membaca skrip awal, aksarawan baru dapat ditugasi untuk membaca dan memerankan atau simulasi peran bedasarkan penghayatan pada bacaan. Untuk lebih menjiwai pengelola dapat memadukan dengan seting ruangan yang menunjang penghayatan pada bacaan. Bahan yang diangkat dapat diambil dari buku atau bagian dari buku yang berhubungan dengan kehidupan peserta belajar keseharian.

4.        Wayang. Bermain peran dapat dikombinasikan dalam pembuatan wayang atau boneka yang dibuat oleh peserta belajar baik dengan menggunakan tanah liat, batang pohon  atau kertas koran bekas atau wayang dan boneka yang dibuat di pasaran. Presentasi  mereka berdasarkan cerita atau episode dari sebuah buku. Antara pemeran dan penonton dapat melakukan dialog berdasarkan pada improvisasi masing-masing.

5.        Kompetisi  kuis. Kuis  ini ditujukan untuk mendorong peserta belajar dewasa agar menggunakan nalar yang diperoleh hasil membaca buku pelajaran sambil memperomosikan mereka sendiri. Pemeranan dalam kuis dapat diukur dalam peringkat antara delapan sampai sepuluh terbaik.

6.        Permainan. Beberapa materi yang dibaca dari buku dapat dikembangkan pada pembelajaran yang lebih luas dalam bentuk permainan, menggunakan jigasaws, cardgames  terutama materi yang berhubungan dengan karakter dan jauh lebih menarik.

7.        Promosi buku. Promosi buku dapat sangat berarti bagi pembaca maupun mereka yang memiliki minat lebih, melalui ringkasan yang ada dalam buku,  promosi jenis dan harga buku, jenis dan isi cerita atau dengan memperomosikan naskah-naskah lokal yang belum dicetak yang dapat memberikan rangsangan pada minat baik pada mereka yang membutuhkan peluang membaca maupun untuk ragam kepentingan lainnya

Semua usaha peningkatan minat baca, banyak menyangkut teknis akan tetapi yang lebih penting dari itu adalah sifat dari peningkatan minat baca bukan hanya teknis akan tetapi kesatuan antara pembelajaran, refleksi dan aplikasi. Semua itu amat tergantung pada hakikat pengembangan minat baca sebagai sebuah layanan.

E. Keaksaraan Usaha Mandiri Tali Perekat Pendidikan Keaksaraan Keluarga

Bila dicermati secara seksama, pendidikan orang dewasa, pendidikan keaksaraan keluarga dengan kewirausahaan memiliki hubungan yang saling berkaitan. Kenyataan ini relevan dengan tinjauan ekonomi dari sistem pembelajaran yang oleh Manzoor Ahmed dibagi menjadi dua bagian yaitu efisiensi internal, yang meliputi tercapainya penguasan kognisi, afeksi dan psikomotorik, serta dicapai pula produktivitas ekternal, yang meliputi output pendidikan yang mampu melampaui sumber-sumber yang dikeluarkan. Dengan demikian, hanya dengan pendekatan wirausaha konsep Manzoor Ahmed dapat diwujudkan.

Penetapan aspek ekonomi sebagai motif utama dalam pendidikan keaksaraan keluarga adalah sebagai upaya untuk memelihara keberlanjutan dari pendidikan itu sendiri. Hal ini tidak boleh ditafsirkan melupakan asfek keaksaraan dan lebih mementingkan usaha seperti banyak terjadi selama ini. Justru kehadiran usaha sebagai upaya untuk memelihara kemampuan membaca yang dinilai masih sangat rentan untuk kembali pada posisi semula atau paling tidak fungsionalnya keaksaraan dalam keperluan sehari-hari.

Bila kita kaji lebih jauh dari keaksaraan sebagai upaya untuk memelihara keberaksaraan dan meningkatkannya, maka kewirausahaan merupakan salah satu jawaban kendati terdapat berbagai pendapat yang melihat kewirausahaan untuk kelompok kurang beruntung dihadapkan pada sejumlah permasalahan yang bertentangan dengan hakikat dari jiwa wirausaha sendiri. Sejumlah hasil studi lapangan yang mengemuka yaitu:

1.        Kurangnya motivasi,

2.        Sangat sederhananya manajemen yang menyatu antara manajemen wirausaha  dengan urusan rumah tangga, sehingga sering dana, tenaga dan materi yang diperuntukan wirausaha dipakai bersamaan dengan kepentingan rumah tangga

3.        Rendahnya tingkat komitmen terutama untuk bekerja keras dan mencurahkan perhatian khusus

4.        Pembatasan yang dipaksakan oleh kebiasaan dan tradisi, misalnya perempuan yang dibatasi ruang gerak dan kemajuannya,

5.        Keterlibatan risiko tinggi sedangkan subjek lebih memilih untuk bermain pada resiko rendah,

6.        Sosial-budaya  yang kaku, untuk tidak merubah sistem kerja dan memasukkan cara baru

7.        Kurangnya fasilitas infrastruktur terutama akses pada sumber finansial

8.        Kurangnya jaringan komunikasi, dimana orang begitu menikmati hubungan internal dalam keluarga dan terbatas hubungan dengan dunia luar

9.        Ketidakhadiran dari bakat berwirausaha

10.    Rendah status pengusaha, perbedaan sebagai konsumen dengan produsen. Di lingkup desa dimana ia tinggal, seseorang akan lebih mementingkan perasaan aman untuk diri dan tetangga melalui kehidupan yang relatif stabil dan tidak menyakiti orang lain dibanding dengan perubahan yang mencolok dan membuat tetangganya menjadi gerah karenanya

Hal ini sedikit berseberangan dengan ciri-ciri dari wirausahawan sendiri yang dapat dirinci atas tampirlan sebagai berikut:

1.        Percaya diri dan optimis

2.        Mampu mengambil risiko yang sudah diperhitungkan

3.        Mampu menanggapi secara positif terhadap tantangan

4.        Fleksibel dan mampu beradaptasi

5.        Pengetahuan tentang pasar

6.        Mampu bergaul dengan orang lain

7.        Energik dan rajin

8.        orientasi yang strategis

9.        Responsif pada saran

10.    Inovatif

11.    Perseptif dengan pandangan ke depan

12.    Aksi bias

13.    Ketekunan

14.    Responsif terhadap kritik

Dengan tidak mengecilkan arti kelompok aksarawan baru, mereka yang tergabung pada kelompok ini tergolong residu yang sejak awal kurang terbina dan tidak mampu memuncukan potensi-potensi diatas, baik karena keengganan yang bersangkutan, ketiadaan lembaga pembina maupun maupun gabungan keduanya\

Berdasarkan permasalahan yang dihadapi maka upaya pengembangan dan pembinaan yang dilakukan dapat dikelompokkan melalui tinjauan sistem pembinaan, induk semang, lingkup usaha dan bentuk usaha, manajemen kelompok.

1.        Peningkatan manajemen Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat sebagai wirausahawan. Mungkin kesalahan terbesar terletak pada PKBM sendiri yang hanya tergantung pada satu-satunya sumber yaitu pasokan dana dari pemerintah dan berjalan sebatas dana masih ada. Perubahan  pola kegiatan dari PKBM harus berbasis pada kebutuhan akan pelatihan yang memiliki nilai jual dalam masyarakat seperti halnya pelatihan keterampilan tepat guna dengan kecepatan pemanfaatan yang tinggi. Melalui penyajian program yang berbasis wirausaha secara tidak langsung telah memperomosikan lembaga dan lulusan yang bernilai guna dan tidak semakin memperparah pandangan pada kinerja pendidikan yang hanya menghasilkan lulusan yang tidak dapat memasarkan diri.

2.        Penijauan dan evaluasi kurikulum wirausaha. Seperti dimaklumi kurikulum keaksaraan usaha mendiri dikembangkan untuk kelompok normal dengan 12 standar kompetensi, yang terdiri dari: keinginan usaha berdasar potensi dan minat, praktek keterampilan yang memiliki peluang usaha, identifikasi sumber daya alam dan manusia, identifikasi kebutuhan dan permintaan pasar, penyusunan rancangan usaha, merancang dan mengola usaha, identifikasi resiko usaha, interaksi dengan konsumen dan fasilitator, strategi pemasaran, penguasaan pesaing usaha, kemitraan dan memelihara keberlangsungan usaha. Bila kita perhatikan pagu yang dikeluarkan Direktorat Penmas sangat ideal dan sangat sulit dilakukan oleh perorangan warga belajar dengan tingkat melek aksara dasar. Peninjauan kurikulum harus mengeksplisitkan sistem pembelajaran, sistem pembinaan, pola inkubasi dan pembinaan keberlanjutan usaha. Sistem pembelajaran belum menetapkan pertimbangan tutor dan nara sumber teknis yang bisa menunjang pada keberlanjutan usaha, seperti hanya pemagangan yang mungkin dilakukan dengan pola hubungan antara permagang dengan pemagang. Hal lain yang masih dianggap kronis yaitu jenis usaha, strategi pemasaran, penguasaan pesaing usaha, kemitraan dan memelihara keberlangsungan usaha.

3.        Sistem pembinaan. Selama usaha dianggap persaingan dan ketiadaan lembaga pembina atau pembina yang merangkap sebagai pesaing yang bertindak aman untuk mengurangi jumlah pesaing untuk dirinya, maka wirausahawan baru dari kelompok aksarawan baru akan tetap tidak akan berkembang. Sehubungan dengan itu dibutuhkan pembina yang kompeten dan memiliki dedikasi yang tinggi. Kompetensi pembina yaitu mampu mengarahkan para aksarawan baru untuk melakukan usaha yang berkembang dari waktu ke waktu atas inisiatif dan tanggungjawabnya dan mampu melepaskan ketergantungan pada pasokan dana non komersial.

Sehubungan itu pembina juga harus mampu melibatkan pengusaha baru dari kelompok ini sebagai bagian dari usahanya yang dari waktu kewaktu menunjukkan kedewasaan dalam berusaha dan bila mungkin melepaskan diri dari pembinaan dalam status yang jauh lebih mandiri. Dari waktu kewaktu perlu memacu motivasi usaha, dan mengurangi tingkat ketergantungan dengan memodifikasi jenis usaha dan cara dalam produksi yang lebih efisien.

Lain halnya pembina dari perguruan tinggi atau lembaga profesi sejenis, pembinaan lebih diarahkan pada sumber daya manusia dan kemampuan manajemen perusahaan.

4.        Induk semang. Sesuai dengan kenyataan bahwa wirausahawan baru umumnya hanya bergerak parsial pada bidang yang paling dikuasainya, maka dibutuhkan induk semang yang akan menterjemahkan upaya selama ini menjadi sesuatu yang dapat ditingkatkan nilai produksinya. Bila para usahawan baru hanya bergerak pada tingkat produksi, maka induk semang harus mampu memasarkan hasil produksi itu dengan standar baku dan diminati oleh pembeli melalui sentuhan pengepakan dan promosi.

5.        Perubahan minset dari warga belajar sebagai wirausahawan. Sejalan dengan usaha pembinaan warga belajar juga harus berusaha untuk merubah mindset dari kedudukan yang nyaris tidak diperitungkan dengan tingkat ketergantungan yang tinggi menjadi warga negara yang bermakna dan memiliki sumbangan pada kemajuan ekonomi maupun peningkatan produksi.

6.        Perubahan lingkup usaha. Bila selama ini sekala usaha yang dilakukan warga belajar hanya terbatas pada sekala kecil, maka harus ada upaya baik dilakukan oleh warga belajar sendiri maupun pembina untuk memindahkannya pada sekala medium. Dengan sekala kecil usaha yang dilakukan hanya mungkin memenuhi kebutuhan sendiri atau bahkan lebih banyak tenaga yang dicurahkan dibanding dengan produksi yang dihasilkan. Sejalan dengan lingkup usaha ini perlu dikembangkan penganekaragaman usaha, sehingga tidak terjadi kongesti hasil usaha karena produksi yang bersamaan sedangkan pasar yang tersedia terbatas.

7.        Manajemen kelompok. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara, volume usaha yang dilakukan saat ini hanya berjalan dalam sekala sangat kecil dan tidak memungkinkan untuk self suffisient. Berdasarkan pertimbangan ini perlu diperkenalkan manajemen kelompok dalam membagi jenis usaha dan meningkatkan aset usaha seperti permodalan yang sulit untuk dilakukan secara perorangan. Melalui manajemen kelompok ini ditingkatkan pola kolaborasi baik di tingkat perencanaan dengan melibatkan konsultan untuk meningkatkan usaha, pada tingkat operasional dengan mengatur hubungan vertikal dengan pengusaha yang lebih besar maupun pembagian produksi sehingga terjadi tingkat efisiensi yang tinggi dan pada tingkat tindak lanjut kegiatan untuk menjamin keberlangsungan usaha.

8.        Pengembangan kebutuhan. Bila selama ini aksarawan baru hidup dalam memenuhi kebutuhan dasar untuk makan, minum, pakaian dan tempat tinggal; kemudian diperkenalkan pada dunia baru yaitu dunia ilmu pengetahuan dan informasi. Perubahan ini membutuhkan penyesuaian dari pemenuhan kebutuhan tingkat dasar pada kebutuhan yang lebih jauh yang membutuhkan kemampuan berpikir dan bertindak.

9.        Pengembangan jejaring. Sebenarnya warga belajar dengan tingkat intelektual sebagai aksarawan baru kemampaun jejaringnya juga sangat terbatas. Mereka umumnya sangat disibukkan dengan pemenuhan kebutuhan dasar dan hubungan afiliasi sangat terbatas pula. Sehubungan itu pengembangan kemampuan jejaring membutuhkan pembinaan yang berkelanjutan untuk menghubungkan dengan jejaring baru, melakukan impelementasi dan memelihara keberlanjutan jejaring yang dikembangkan agar memiliki makna positif bagi aksarawan baru dan berdampak sebaliknya.

Pengembangan kewirausahaan bagi aksarawan baru melalui skim keaksaraan usaha mandiri merupakan pilar baru yang menyatukan kemampuan pribadi, kemampuan usaha dan pengembangan ekonomi. Kendati banyak pihak yang meragukan kelompok miskin akan memiliki dampak pada perubahan dan peningkatan ekonomi macro, usaha optimis telah dilakukan dengan mempertimbangkan kekurangan yang dimiliki kelompok ini. Hasil akhir dari kegiatan ini tetap tergantung pada nilai residual yang masih bisa dikembangkan atau karena perkembangannya tertunda, sehingga tidak mungkin untuk berharap terlalu tinggi semua anggota kelompok dapat mencapai prestasi maksimal dalam pengembangan kewirausaan.

F. Menuju Aksara untuk Berdaya

Pemberdayaan merupakan isu sentral dalam pendidikan keaksaraan. Karenanya Unesco menerbitkan program Literacy Initiative for Empowerment (LIFE), yang dikhususkan pada pada kelompok negara berkembang yang memiliki jumlah buta aksaran cukup tinggi yang juga ditandai dengan karakteristik:

1.        Terdiri dari komunitas kelompok miskin,

2.        Memiliki kemampuan keaksaraan yang rendah,

3.        Memiliki ketergantungan yang tinggi pada sumber daya alam,

4.        Walaupun tergantung pada sumber daya alam akan tetapi aksibilitas dan penguasaan akan tanah sangat terbatas,

5.        Dilingkupi oleh sumber daya alam yang semakin lama semakin menurun kualitasnya,

Sekaitan dengan itu untuk meningkatkan keberdayaan kelompok ini masih dirasakan sangat pesimis dan perlu dikembangkan pendekatan baru, karenanya langkah yang ditempuh meliputi:

1.        Advokasi dan Komunikasi, melalui kampanye dan kemitraan untuk advokasi yang diarahkan dalam upaya meningkatkan komitmen baik lokal maupun nasional.

2.        Kebijakan keaksaraan yang berkelanjutan melalui Kebijakan Keaksaraan, keaksaraan untuk pembangunan, keaksaraan dan pengembangan individu. Kebijakan ini diarahkan untuk akses tentang kemampuan keaksaraan yang akan berpengaruh pada peningkatan peradaban, mengurangi angka pengulangan, penggunaan keterampilan keaksaraan dalam kerangka belajar sepanjang hayat serta mendorong sistem desentralisasi pemerintahan untuk memberikan lebih relevan dan program keaksaraan yang sensitif kontek dengan memperhatikan keragaman yang ada pada komunitas setempat.

3.        Penguatan Kapasitas Nasional terdiri dari Desain Program dan pelaksanaannya, peningkatan kualifikasi sumber daya manusia serta peningkatan monitoring dan evaluasi. Memperkuat kelembagaan   dan operasional infrastruktur, yang bertanggung jawab untuk desain dan pendekatan dalam keaksaraan, profesionalisasi pendekatan belajar sambil bekerja dan memperkuat pemantauan dengan menggunakan pendekatan yang terukur.

4.        Inovasi yang diarahkan pada membangun best practice dan aplikasinya, dilakukan dengan penelitian tindakan-partisipatif untuk mengembangkan program inovatif dan praktik terbaik mendokumentasikan tentang masyarakat belajar alternatif dan melanjutkan pendidikan serta pengaturan jaringan, pertukaran praktik terbaik, penelitian tematik dan kebijakan forum. Kegiatan ini dilakukan dalam upaya penilaian sarana, dan pedoman untuk menentukan kebutuhan belajar, aset masyarakat, dan peluang untuk meningkatkan dan mempertahankan mata pencaharian.

5.        Pelaksanaan pemberdayaan. Dilakukan menggunakan prinsip:

a.    Kepemilikan pada unit masyarakat dan diterimanya berbagai keanekaragaman. Kepemilikan akan program keaksaraan harus diperkuat dengan menerima keragaman lokal maupun nasional dan semakin meningkat pengertian dan pendekatan untuk keaksaraan. Dengan demikian penyelenggara dan peserta belajar akan menerima dukungan untuk memperluas pendekatan mereka, dengan maksud untuk mempromosikan lebih komprehensif pengertian dan dukungan akan keaksaraan. Sangat penting untuk memiliki tim pelaksana di lapangan dalam bentuk komite nasional yang diikuiti komite kabupaten/kota yang terdiri dari  wakil dari sektor pemerintah, mitra pembangunan lokal dan sektor swasta termasuk LSM, Ormas, universitas dan lembaga penelitian lainnya.

b.   Linkage dengan kebijakan nasional maupun lokal. Strategi dan tindakan untuk menerapkan Akrab harus diintegrasikan ke dalam kerangka pembangunan nasional dan lokal, seperti agenda kebijakan pendidikan untuk semua, rencana pendidikan  tiap sektor,   pengembangan dan kerangka pendidikan berbasis pada produk.

c.    Progresif dalam pentahapan. Dilakukan untuk kegiatan  sampai 2005-2015, dimulai dengan memperhatikan kegiatan pada lingkup negara, penilaian tengah kegiatan pada tahun 2011  dan periode 2012-2015 masa uji keberlanjutan dan perluasan.

6.        Pembiayaan. Pembiayaan lebih ditekankan pada dana lokal baik yang berasal dari negara maupun swasta. Untuk negara yang memiliki masalah pendanaan akan diusahakan dana bantuan.

7.        Monitoring dan evaluasi. Monitoring dan evaluasi diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan untuk semua, dengan penekanan pada:

a.    Menggunakan metode yang memungkinkan untuk penilaian keaksaraan,

b.   Manajemen sistem manajemen untuk keaksaraan

c.    Mengumpulkan sampel jangka panjang untuk menilai dampak keaksaraan.

Dengan mempelajari prinsip keaksaraan untuk berdaya, maka upaya perbaikan pemberdayaan untuk keaksaraan perlu memperhatikan aspek sosiologis, ekonomi, peningkatan kemampuan individu, dan pendekatan terpadu. Gambaran perbaikan untuk pemberdayaan keaksaraan sebagai berikut:

1.        Dari aspek ekonomi yang perlu diperhatikan adalah pemenuhan kebutuhan dari kelompok kurang beruntung, sesuai kondisinya mereka lebih banyak berkutat pada pemenuhan kebutuhan dasar, walaupun keaksaraan sendiri dapat dikategorikan sebagai kebutuhan dasar, prioritas akan lebih banyak diberikan pada pemenuhan kebutuhan pokok tersebut.

2.        Dari aspek sosiologis, kelompok aksarawan baru termasuk mayoritas yang kurang memiliki kekuatan, sehingga tidak memiliki kemampuan bargaining dalam masyarakat.

3.        Aspek psikologis, berkaitan dengan cara pandang aksarawan baru pada diri dan lingkungan sama halnya dengan cara pandang lingkungan terutama orang yang melek huruf pada orang yang yang nir aksara. Dalam hal ini perlu adanya perhatian khusus pada aspek motivasi internal sering diabaikan.

4.        Aspek politik, orang nir aksara maupun aksarawan baru relatif memiliki akses yang terbatas dalam hubungan diri dengan lingkungannya terutama dalam menempatkan diri sesuai dengan hak dan kewajibannya.

Pendidikan keaksaraan keluarga merupakan bagian dari inisiatif keaksaraan untuk berdaya (Akrab). PKK adalah wahana belajar dalam keluarga, yang secara struktural hanya mungkin terpelihara melalui peningkatan minat baca pada keluarga dan masyarakat pada umumnya. Peningkatan minat baca adalah perubahan struktural dari pola komunikasi tutur menjadi menggunakan tulisan, bagian dari era informasi yang akan berdampak pada peningkatan ilmu pengetahuan dan peradaban hasil dari penggunaan dan pengembangan informasi dalam keseharian. Hasil kajian menunjukkan PKK perlu mendapat perhatian sungguh-sungguh sehubungan dengan fungsinya dalam meningkatkan fungsi keluarga sebagai unit pembelajaran dalam koordinasi lembaga belajar dalam masyarakat. Untuk meningkatkannya perlu dukungan pusat, otonomi daerah, perguruan tinggi, peningkatan lembaga belajar masyarakat dan pemberdayaan keluarga dan warga belajar.

Berdasarkan kajian di bawah ini dapat diajukan pola pengembangan struktur sebagai berikut:

Bagan 4.1.

Pola Pengembangan Struktur Penyelenggaraan PKK

5. Dukungan Pusat dalam Pengembangan PKK.

Inisiatif keaksaraan untuk berdaya merupakan kegiatan relatif baru, dan diawali dalam bentuk program pengurangan tingkat illiteracy pada tahun 2006. Hasil studi juga menunjukkan para pelaksana di lapangan selalu berpikir hierarkhis, dimana kegiatan perlu berjenjang dan dilaksanakan melalui proses penyesuaian yang panjang. Sebenarnya bisa saja dari pihak Direktorat telah lebih dahulu menyampaikan program baru seperti halnya PKK, akan tetapi karena perlunya penyesuaian dan sifat umumnya sering menyederhanakan pemikiran seperti halnya PKK, maka kadang apapun perubahan yang seharusnya dilakukan akan senantiasa ditafsirkan seperti yang telah terjadi selama ini yaitu keaksaraan klasik, yang sebenuhnya tergantung pada inisiatif yang datangnya dari pihak pemerintah dan sistem penunjang seperti dana dan berbagai kebutuhan teknis lainnya seperti halnya tenaga. Nampaknya pola ini harus sudah berubah, dari ketergantungan pada salah sumber pada komitmen bersama untuk memberikan layanan pada masyarakat temasuk inisiatif internal yang datangnya dari lingkungan masyarakat sendiri. Berkaitan dengan itu tugas mendesak yang harus dilakukan oleh pemerintah yaitu:

a.    Memberikan layanan advokasi dan sosialisasi kegiatan sehingga terdapat pemahaman yang diharapkan mengenai keaksaraan keluarga, hubungan dengan peningkatan kesejahteraan dan keberlanjutan pembelajaran PKK.

b.   Mengembangkan jejaring kegiatan PKK dengan lembaga terkait lainnya baik dengan pemerintah daerah yang memiliki hubungan lebih dekat dengan warga belajar, lembaga pembina dan pengembang kegiatan seperti P2PNFI, BPPNFI, BPKB, SKB dan perguruan tinggi yang ada pada lingkup wilayah kerja PKK. Upaya ini harus segera dilakukan untuk mengatasi kecenderungan selama ini dimana fasilitasi untuk kelompok yang kurang beruntung terlalu banyak dilakuakan sacara segmentasi dan hanya tergantung pada satu-satunya lembaga pembina.

6. Dukungan Otonomi Daerah dalam Pengembangan PKK

Pengembangan otonomi daerah dilakukan dalam upaya memberikan layanan lebih dekat pada rakyat, sehingga lahir istilah ramping-kaya fungsi, terutama dalam memberikan kemudahan pada masyarakat. Tuntutan yang paling mendesak yang segera dilakukan oleh pemerintah otonom yaitu:

a.    Menjamin ketersediaan layanan yang adil untuk semua anggota masyarakat yang membutuhkan bantuan sehingga tidak terkonsentrasi pada sekelompok dan wilayah tertentu.

b.   Menjamin keberlanjutan sumber yang diperlukan sehingga  kegiatan bisa berjalan secara berkelanjutan

c.    Mengembangkan jejaring pada lingkup daerah sehingga sumber yang ada pada wilayah kerja dapat dimanfaatkan secara maksimal efektif dan efisien

7. Dukungan Perguruan Tinggi dan Ketenagaan dalam Pengembangan PKK

Perguruan tinggi berfungsi mencari solusi baru dalam mengatasi permasalahan yang berhubungan dengan pendidikan keaksaraan keluarga terutama dilihat dari keberlanjutan, pemanfaatan anggota keluarga dalam meningkatkan keaksaraan dan minat baca serta mengarahkan aksarawan baru pada dunia informasi sebagai tuntutan baru pada era global. Dukungan spesifik yang bisa dilakukan perguruan tinggi, yaitu:

a.    Mencari inovasi baru yang berhubungan dengan PKK, minat baca dan pemberdayaan aksarawan baru

b.   Mengembangkan model motivasi yang bersumber dari motivasi internal, sebagai tumpuan akhir dari pembelajaran yang tidak lagi menggantungkan diri pada dukunagn dari luar sebagai upaya memelihara keberlanjutan belajar bagi aksarawan baru.

c.    Menghubungkan kebutuhan aksarawan baru dengan pemangku kepentingan yang berhubungan dengan layanan pada aksarwan baru

8. Dukungan Lembaga Belajar Masyarakat dan Tutor dalam Pengembangan PKK

Kesulitan utama yang dihadapi oleh aksarawan baru pada PKK yaitu kesulitan untuk mencari model penggunaan aksara dalam lingkungan terdekat, berupa ketersediaan sarana baca dan wahana ekspresi hasil pembelajaran sehingga tidak cepat terlupakan karena tertimbun oleh kesibukan keseharian warga belajar dalam memenuhi kebutuhan bagi kelompok kurang beruntung. Beberapa tugas mendesak yang dilakukan oleh kelompok belajar tempat warga belajar aksarawan baru PKK yaitu:

a.    Menyediakan sarana baca dan menyediakan buku yang menarik untuk aksarawan baru PKK

b.   Mengembangkan metode dan kegiatan paska pembelajaran formal, agar kegiatan bisa berlanjut dengan mementingkan kemampuan baca tulis dan mengekpresikan diri melalui tulisan dalam kehidupan sehari-hari, seperti menulis untuk koran ibu dan lain-lain.

c.    Mengembangkan kegiatan lain yang berfungsi memelihara kebiasaan membaca melalui kewirausahaan yang memungkinkan aksarawan baru tetap menembangkan kemampuan baca tulis dan mengembangkan infromasi.

d.   Mengembangkan kegiatan bersama dengan tutor sebagai model dalam memelihara kemampuan membaca, menulis dan mengembangkan informasi

e.    Menjaga ritme belajar terutama pada masa transisi yang dianggap paling rentan untuk kembali pada kebiasaan semula dan melupakan kemampuan keaksaraan sebagai bagian dari kehidupan pada era informasi.

9. Peningkatan Pemberdayaan Keluarga dan warga belajar

Tujuan dari PKK dikaitkan dengan LIFE yaitu menjadikan anggota keluarga aksarawan baru menjadi pembelajar dengan memanfaatkan sumber belajar yang ada pada lingkungan keluarga, dan menjadikan anggota keluarga sebagai aset untuk meningkatkan anggota keluarga lainnya. Secara normatif tanggungjawab dalam keaksaraan berbah dari pihak luar kepada anggota keluarga sendiri. Keberdayaan anggota keluarga banyak dikaitkan dengan keberadaban (civilization), berupa keterlibatan pada proses ekonomi yang diukur dengan produktivitas, sosial dalam bentuk aktif dalam belajar dan politik dalam bentuk pemenuhan hak dan kewajiban sebagai warga negara dalam memberikan sumbangan terbaik pada kebijakan negara termasuk pengurangan angka buta aksara.

Pemberdayaan yang harus terlihat dari tampilan aksarawan baru dapat dilihat dari hakikat belajar, ciri perorangan maupun dan pengembangan kelompok sebagai upaya memelihara keberlanjutan belajar.

a.    Dari aspek hakikat belajar bagi aksarawan baru sebagai orang orang dewasa harus ditempatkan motivasi intrinsik sebagai cara untuk tetap memelihara keberlanjutan kemampuan keaksaraan. Dengan menggunakan semua karakteristik orang dewasa yang didalamnya pengalaman, pencitraan konsep diri, kejelasan arah, motivasi, kesisapan belajar dan kebutuhan pembelajaran diarahkan pada pembelajaran berbasis mengarahkan diri (self directed learning).

b.   Dari aspek keberdayaan individu yang harus dimiliki oleh warga belajar yaitu perubahan dari kondisi selama ini yang tidak memiliki kekuatan menjadi orang yang kuat melalui kemampuan keaksaraan, yang ditunjukkan melalui ciri-ciri:

1)        Akses (acces), memiliki peluang yang cukup besar untuk mendapatkan sumber-sumber daya melalui kemampuan mengakses informasi.

2)        Daya pengungkit (leverage), meningkat dalam hal daya tawar kolektifnya sehingga tidak lagi hanya memberikan layanan akan tetapi secara proporsional harus pula mendapatkan layanan karena kemampuan yang dimilikinya

3)        Pilihan-pilihan (choices), mampu dan memiliki peluang memilih berbagai pilihan terutama dalam menentukan nasib dirinya yang tidak lagi sepenuhnya diatur oleh nasib.

4)        Status (status), meningkat citra diri, kepuasan diri, dan memiliki perasaan yang positif atas identitas budayanya sebagai penghulu dan bukan hanya pengikut

5)        Kemampuan refleksi kritis (critical reflection capability), menggunakan pengalaman untuk mengukur potensi keunggulannya atas berbagai peluang pilihan-pilihan dalam pemecahan masalah, dengan berbasis pada keragaman sumber yang ia peroleh

6)        Legitimasi (legitimation), didasarkan pada alasan-alasan rasional atas kebutuhan-kebutuhan masyarakat, dan adanya pertimbangan ahli yang menjadi jastifikasi atau dasar pembenaran. Tidak lagi menerima keberadaan karena alasan irasional akan tetapi lebih banyak menggunakan pendekatan yang rasional

7)        Disiplin (discipline), menetapkan sendiri standard mutu pekerjaan yang dilakukannya dalam hubungan dengan orang lain, berubah dari disiplin karena faktor yang datangnya dari luar dengan kesadaran diri untuk diri dan keluarga dan sumbangan pada lingkungan

8)        Persepsi kreatif (creative perceptions), sebuah pandangan yang lebih positif dan inovatif terhadap antar hubungan dirinya dengan lingkungannya. Berdasarkan hasil belajar kemudian dikembangkan kemampuan kreatif sebagai bukti hasil belajar dengan memanfaatkan kemampuan diri, lingkungan kelurga dan sumber daya sosial dan alam.

c.    Keberdayaan individu juga dapat dilihat dari kemajuan dalam ekonomi dalam bentuk produktivitas dengan menghasilkan produk kasat mata untuk diri dan lingkungannya, serta kemampuan untuk mengorganisir diri dalam bentuk badan komunitas, untuk tujuan pembelajaran. Lembaga yang dikembangkan hendaknya memiliki karakteristik:

d.   Struktur kelompok kecil berkisar 10 orang. Proses pemberdayaan menekankan aktivitas dan otonomi kelompok kecil. Batasan kelompok ini didasarkan pada  kesamaan kebutuhan dan minat.

e.    Transfer tanggungjawab. Pada proses pembelajaran yang semula sangat tergantung pada tutor dan tutor keluarga secara bertahap harus dipindahkan pada kelompok dan warga belajar sendiri. Selama pelaksanaan pembelajaran, partisipan mungkin enggan atau ragu dilibatkan tetapi lama kelamaan setelah berpengalaman hal ini dapat di atasi.

f.     Kepemimpinan berasas partisipatif. Partisipan diberikan kesempatan melakukan latihan mengambil keputusan pada seluruh aspek aktivitas organisasi. Pimpinan hanya bersiap-siap membantu kalau mereka menemui kesulitan.

g.    Pihak penggagas yang berubah menjadi fasilitator. Diluar tugas agent juga sebagai pelayan didalam menagarahkan proses, sebagai manusia sumber, mengajukan masalah dan lain-lain. Seorang fasilitator sepakat terhadap sasaran pemberdayaan dan memperlihatkan dukungannya dalam melakukan upaya untuk diri peserta belajar sendiri.

h.   Proses yang demokratis dan tidak hierakhis. Semua pendapat  dihargai sama dan keputusan diambil berdasarkan konsensus. Peran dan tanggung jawab didistribusikan secara merata. Didalam beberapa hal, partisipan mungkin tidak memahami cara kerja sama dan demokrasi. Karena itu, dibutuhkan proses latihan. Pengurangan tingkat birokratis menjadi lebh fleksibel

i.     Refleksi. Pengalaman partisipan dan perbaikan masalah dijadikan fokus. Analisa kerjasama untuk meningkatkan perubahan yang dapat melibatkan personal, adalah pemecahan masalah, perencanaan, pengembangan keterampilan, dan/atau perselisihan. Warga negara yang baik ditunjukkan dengan kemampuan untuk memperoleh sejumlah informasi, melakukan refleksi dan memanfaatkan untuk kehidupan keseharian

j.     Metode yang mengutamakan kepercayaan diri. Teknik yang digunakan untuk meningkatkan keterlibatan aktif warga belajar adalah dialog, dan aktivitas kelompok mandiri seperti belajar sesama teman, jaringan kerja, workshop, menyediakan alat yang dapat digunakan oleh partisipan scara mandiri, latihan mengekspresikan diri sendiri dan permainan.

k.   Peningkatan ekonomi, sosial dan kedudukan secara politik. Sebagai hasil empowering process, partisipan dapat meningkatkan kemampuan di bidang ekonomi, sosial dan politik di dalam masyarakat.

Pendidikan keaksaraan termasuk pendidikan keaksaraan keluarga dapat diukur dari peningkatan minat baca yang ada dalam masyarakat, dan ini merupakan sumber daya manusia yang selama ini kurang mendapat perhatian. Pentingnya minat baca demikian mendesak terutama dalam mengantisipasi loncatan konsep dalam pembangunan, dimana untuk mencapai tingkatan tertentu dalam peradaban, pendidikan dan kebudayaan kunci utamanya sangat tergantung pada penguasaan informasi yang hanya bisa diperoleh melalui keaksaraan, peningkatan minat baca dan berujung pada keberdayaan.

Knowles membuka paradigma baru hubungan sistemik antara penciptaan iklim dalam pendidikan orang dewasa termasuk keaksaraan yang hakikatnya penjalinan motivasi dari sisi penanggungjawab maupun peserta didik, penciptaan struktur kerjasama, pemenuhan kebutuhan dan minat, penetapan tujuan, pembuatan perencanaan, implementasi dan evaluasi. Perbedaan prinsip terletak pada setiap tahapan dimana keterlibatan peserta didik merupakan jaminan dalam penyelenggaraan pendidikan orang dewasa berbasis pada psikologi dan humanisme. Demikian pula evaluasi diukur dari sejauhmana keberhasilan minat dan tujuan yang dimiliki oleh peserta belajar berbasis pada kompetensi yang telah dicapai oleh mereka. Ukuran ini nampaknya yang belum lazim, dimana sebelumnya keberhasilan hanya dilihat dari pihak luar dan bukan oleh peserta belajar sendiri. Melalui konsep aktulisasi diri buah pikiran dari Maslow, komitmen PKK  harus bermula dari peserta didik untuk memulai perubahan dalam hidup melalui kemampuan membuka cakrawala melalui melek huruf yang diikuti dengan kemajuan dalam keberdayaan politik, sosial dan terutama ketercukupan ekonomi.

bab v

penutup dan rekomendasi

A. Penutup

Berdasarkan hasil temuan dan kajian dalam bab terdahulu tentang Pendidikan Keaksaraan Keluarga, ada beberapa hal pokok yang dapat dijadikan bahan kajian lebih lanjut sebagai penutup sebagai berikut:

1.        Pendidikan Keaksaraan Keluarga merupakan transfer tanggung jawab negara terhadap keluarga tentang pentingnya penyelenggaraan pendidikan keaksaraan. Perbedaan dari sisi konsep, bila semula pendidikan keaksaraan keluarga merupakan pendidikan antar generasi dimana orang tua memberikan sumbangan yang lebih besar, sedang dalam pelaksanaan PKK orang tua menjadi penerima pembelajaran.

2.        Keluarga sebagai wahana penyelenggaraan pendidikan keaksaraan mempunyai keunggulan, yaitu melepaskan aspek komersial menuju aspek moral. Pendidikan keaksaraan selama ini lebih dilihat sebagai bentuk komersialisasi kekurangan keaksaraan sehingga menumbuhkan pengulangan yang tidak perlu. Dalam perkembangannya PKK lebih menekankan pada tanggungjawab dari generasi muda yang telah melek huruf untuk membantu orang tua mereka yang masih membutuhkan dukungan semangat dan kemampuan membaca

3.        Penyelenggaraan Program Pendidikan Keaksaraan Keluarga merupakan strategi baru perubahan dari bahasa tutur menjadi bahasa tulis. Kesulitan pertama dan utama dalam memberikan kemampuan keaksaraan untuk generasi tua, karena mereka lebih berbudaya dalam bahasa tutur dan tidak melihat sisi yang lebih unggul dari bahasa tulis. Dengan bahasa tutur semua gagasan menjadi lebih cepat hilang karena ketidakadaan dokumentasi serta sedikit sekali kemungkinan adanya input baru untuk meningkatkan dan memperbaharui pemikiran.

4.        Melalui Program Pendidikan Keaksaraan Keluarga diharapkan dapat menuju pemberdayaan dalam hal kemajuan ilmu pengetahuan, ketercukupan ekonomi, masyarakat yang berbudaya. Hal yang paling mendesak untuk menuju dunia ilmu pengetahuan yaitu lebih terakselerasinya informasi baik dari pengirim maupun penerima dan hubungan timbal balik keduanya. Kondisi  saat ini masih sangat tidak seimbang antara pengirim dengan penerima dan tidak ada interaksi keduanya. Wahana yang hilang yaitu pemanfaatan kemampuan kebahasaan. Dari kemampuan kebahasaan itu diharapkan berkembangnya inovasi baru untuk meningkatkan kesejahteraan yang selama ini dinikmati oleh negara yang sudah sangat maju dalam penggunaan teknologi dan ilmu pengetahuan termasuk sumbangan dari para pemikir (dunia pendidikan tinggi dan ilmu pengetahuan) dan koreksi yang berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan. Dalam satu dan lain hal kemampuan itu akan menuju kepada masyarakat berbudaya.

B. Rekomendasi

Pendidikan Keaksaraan Keluarga adalah wahana untuk saling membelajarkan dalam keluarga atau transgenerasi dalam keaksaraan. Untuk menjamin keberlangsungan PKK perlu rekomendasi sebagai berikut:

1.        Adalah kenyataan bahwa motivasi pendidikan keaksaraan keluarga masih sangat terbatas pada motivasi ekstrinsik. Sehubungan dengan itu perlu dicarikan pendorong yang lebih inovatif misalnya dengan menekankan mengenai kemampuan belajar untuk mengarahkan diri, untuk memberikan ruang yang lebih bermakna pada warga belajar dalam melakukan pembelajaran keaksaraan melalui pemberian reward yang lebih manusiawi sebagai wujud kepeloporan kemanusiaan warga belajar dalam memanfaatkan kemampuan keaksaraan yang tidak dapat dipisahkan dengan target internasional pengurangan angka nir aksara dan peningkatan indek mutu manusia yang secara eksplisit menjadi bagian dari kemajuan suatu bangsa. Untuk itu dibutuhkan bentuk penghargaan atas partisipasi kelompok nir-aksara dan sejumlah fasilitator.

2.        Bahwa untuk berlangsungnya pendidikan keaksaraan keluarga sangat tergantung pada dukungan keluarga yang notabene masih berada pada cakupan kebutuhan tingkat dasar terutama dalam memenuhi kebutuhan dasar. Jumlah nir aksara dan pemanfaat aksara yang terbatas adalah beban bagi kelompok aksarawan, atau bahkan kelompok aksarawan akan terbawa  kelompok nir aksara tersebut. Memang tidak ada jalan lain kecuali dibutuhkan loncatan dari kebutuhan dasar seperti yang diteorikan Maslow pada kebutuhan self esteem dan aktualisasi diri. Untuk itu dibutuhkan dukungan keluarga batih maupun keluarga besar untuk memberikan fasilitasi sudut baca pada tiap satuan terkecil, untuk memungkinkan agar setiap aksarawan baru bisa mempertahankan dan meningkatkan kemampuan keaksaraan dan pemanfaatan untuk memasuki era informasi dan ilmu pengetahuan

3.        Bahwa selama ini otonomi daerah dengan seluruh jajarannya terkesan minor dalam melihat pendidikan keaksaraan umumnya dan pendidikan keaksaraan keluarga pada khususnya. Bila kita hubungkan otonomi daerah adalah sebuah fungsi dalam memenuhi kesejahteraan masyarakat, maka kemampuan keaksaraan adalah upaya yang sangat berbasis pada penyadaran diri dalam memenuhi kesejahteraan dimaksud. Atas dasar itu sewajarnyalah upaya pendidikan keaksaraan bukan hanya dilihat dari pencapaian target yang kadang banyak ditunggangi asfek politis, akan tetapi benar-benar sebagai wujud pemberian kesejahteraan bagi masyarakat.

4.        Kita selangkah tertinggal dalam menggunakan kemampuan keaksaraan sebagai bagian dari memajukan bangsa, terbukti ketiadaan lembaga akademis yang secara khusus mengembangkan kemampuan keaksaraan sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.  Sudah selayaknya semua pihak mulai mewujudkan profesi tenaga pendidikan masyarakat yang salah satu tugasnya memberikan layanan keaksaraan dan menjadikan kemampuan keaksaraan sebagai bagian integral dari pengembangan kemanusiaan, informasi, teknologi, ilmu pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat.

5.        Terdapat sejumlah potensi lingkungan yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal baik pada lingkungan Kementerian Pendidikan maupun pada lintas kementerian. Pada lingkup Kementerian saja masih terdapat pengkotakan, semisal sumber daya yang ada pada pendidikan dasar hampir tidak dapat disentuh untuk penyelenggaraan pendidikan keaksaraan, padahal sumber daya itu sedang tidak dipergunakan pada saat-saat tertentu. Untuk itu kementerian hendaknya lebih meningkatkan fasilitasi penggunaan sumber-sumber itu sehingga dapat lebih bernilai guna terutama untuk kelompok yang kurang beruntung.

Pendidikan Keaksaraan Keluarga adalah bentuk pendekatan pendidikan yang memadukan antara pengembangan moral keluarga dengan kemampuan untuk menyeimbangkan pendidikan dengan pembangunan sosiaK yang oleh beberapa negara maju dianggap salah satu pendekatan untuk memandaikan antar generasi perlu mendapatkan penanganan yang lebih serius, yang pada gilirannya akan bisa mengangkat nilai-nilai kemanusiaan. Semoga.

DAFTAR PUSTAKA

Abdulhak, I. (2000). Metodologi Pembelajaran Orang Dewasa, Bandung: Andira

Admuddipura, E dan Atmaja,SB. (1986). Pendidikan Orang Dewasa. Jakarta : Karunika

Arixs. (2006). Enam Penyebab Rendahnya Minat Baca. Sumber: http://www.cybertokoh.com/mod, yang diakses selama tahun 2008.

Departemen Pendidikan Nasional. (2006). Acuan Penyelenggaraan Program Pendidikan keaksaraan: Direktorat Pendidikan Luar Sekolah, Direktorat Pendidikan Masyarakat

Direktorat Pendidikan Masyarakat. (2010). Acuan Pengajuan dan Pengelolaan Dana Program Taman Bacaan Masyarakat Penguatan Minat Baca. Jakarta: Direktorat Pendidikan Masyarakat.

Faisal, S. (2006). Paradigma Baru Pendidikan Keaksaraan, Tawaran Bagi Pengembangan Program Keaksaraan di Indonesia. Jakarta: Dirjen PLS, Depdiknas.

Hanafi, A. (1981). Memasyarakatkan Ide-Ide Baru. Surabay. Surabaya: Usaha Nasional

Harian Umum Kompas. (1996). Pengembangan Minat Baca, Tanggungjawab Orang tua. Jakarta: Harian Umum Kompas tanggal 4 Nopember 1996.

Harian Umum Kompas. (1996). Senjang, Budaya Membaca dengan Tiras Pers. Jakarta: Harian Umum Kompas tanggal 1 Februari 1996.

Harian Umum Kompas. (1997). Dunia Pendidikan Jepang (2-Habis): Mengenal Buku dan Memupuk Minat Baca. Jakarta: Harian Umum Kompas tanggal 1 Mei 1997.

Harian Umum Kompas. (1997). Buku Pelajaran tidak Tingkatkan Minat Baca. Jakarta: Harian Umum Kompas tanggal 5 Mei 1997.

Hatimah, I., (2008). Pembelajaran Berwawasan Kemasyarakatan, Jakarta: Universitas Terbuka

Kamil, M. (2008). Pusat Budaya dan Belajar Masyarakat, PKBM (Indonesia) dan Kominkan (Jepang). Bandung: Penerbit Dewa Ruchi.

Karmidah dkk. (2009). Model Taman Bacaan Masyarakat : Pusat Penelitian Kebijakan dan Inovasi Pendidikan Badan Penelitian dan Pengembangan Kemendiknas Jakarta.

Kartono, K. (1996). Pengantar Metode Riset Sosial,  Bandung: Mandar Maju.

Kusnadi. (2005). Pendidikan Keaksaraan, Filosofi, Strategi, dan Implementasi. Jakarta: Dirjen PLS, Depdiknas.

Lilawati. (1988). Hubungan Antara Tingkat Pendidikan Orang Tua, Stimulasi Membaca dari Orang Tua dan Inteligensi dengan Minat Membaca Pada Anak Kelas V Sekolah Dasar. Skripsi. Yogyakarta : Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada.

M, Quillan, Mark K. (etc). (2007). A Guide to Early Childhood prog Development. Connecticut.

Mastini. (1996). Perpustakaan Nasional akan Perjuangkan Buku Bebas Pajak. Jakarta: Harian Umum Kompas tanggal 18 September 1996.

Meichati, S. (1978). Motivasi Pembaca. Yogyakarta : Universitas Gadjah Mada.

Morrow, L..M., and Young, J. 1997. A Family Literacy Program Connecting School and home : Effects on Attitude, Motivation and Literacy Achievement. Journal of Educational Psychology, 89 ( 4), 736 – 742.

Muslih, M. (2003). Budaya Membaca Masih di Awang-Awang. Sumber: http://www.suaramerdeka. com/harian/0309/03/kha1.htm, yang diakses selama tahun 2008.

Nasution, S. (2002). Metode Peneltian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Penerbit Tarsito.

Olim, A. (2008). ”Makalah Peran Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dalam Penuntasan Wajib Belajar 9 Tahun”. Makalah pada Semilok Kontribusi Ilmu Pendidikan dalam Penuntasan Wajar Dikdas 9 Tahun. Bandung.

———-. (2006). Panduan Umum Pelatihan Program Pendidikan Keaksaraan. Jakarta: Dirjen PLS, Depdiknas.

———-. (2006). Teknik Identifikasi Kebutuhan Belajar. Jakarta: Dirjen PLS, Depdiknas.

Rogers , E. (1983). Difusi Inovasi (Third Edotion). Newyork: The Free Press

Sudjana, D. (2004). Pendidikan Nonformal, Wawasan Sejarah Perkembangan Filsafat Teori Pendukung Asas. Bandung: Falah Production.

Sudjana, D.  (2005).   Metoda dan teknik pembelajaran partisipatif. Bandung: Falah Production

Sudjana, D., (2005), Strategi Pembelajaran, Bandung : Falah Production

Suprijanto. (2009), Pendidikan Orang Dewasa Teori dan Aplikasi, Jakarta: PT Bumi Aksara.

Suwandi dan Basrowi. (2008). Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta.

———. (2005). Metoda dan Teknik Pembelajaran Partisipatif. Bandung: Falah Production.

Uno, H. (2008). Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar Yang Kreatif dan Efektif. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Xzan. (2009), Pengembangan Minat Baca Masyarakat, Google.

www.google/uu/no20/2003.

www.diknas.depdiknas.co.id.

www. bpkbjatim.2004

 
Leave a comment

Posted by on February 23, 2011 in PERENCANAAN PLS

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: